Breaking News:

Lingkungan Hidup

Dinas Lingkungan Hidup DKI Berhasil Mengumpulkan Puluhan Ribu Limbah Elektronik

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengumpulkan sebanyak 53.603 limbah elektronik dari berbagai jenis.

Wartakotalive.com/Junianto Hamonangan
Ilustrasi penanggulangan sampah. 

"Kesiapan kita sudah berada pada tahap yang benar, cuman memang ada sumbatan sampah di saluran air," jelas Marullah.

"Kalau kita bilang enggak ada genangan sama sekali enggak mungkin. Karena intensitas hujan 90 mm, jadi hitungannya kemarin curah hujan deras sekali," lanjutnya.

Seperti diketahui, beberapa ruas jalan sempat terendam air saat hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan Jakarta Selatan secara merata.

 Alasan Zul Zivilia Tidak Terima Dijatuhi Vonis 18 Tahun Membandingkan Dirinya dengan Steve Emmanuel

Berikut data kawasan yang sempat terendam banjir di Jakarta Selatan:

1. Jl. Dr Satrio

2. Jl. Sudirman

3. Jl. Gatot Subroto

4. Jl. Kapten Tendean (depan Gedung Trans TV)

5. Jl. Rasuna Said

6. Jl. Denpasar Jaya

7. Jl. Pasar Kebayoran Lama

 PT KAI Menemukan Sejumlah 237 Titik Rawan Paling Banyak Berada di Jalur Bogor Hingga Sukabumi

Sementara itu, diberitakan sebelumnya bahwa hujan deras yang mengguyur sebagian wilayah Bekasi membuat Jalan Raya Pondok Ungu Permai (PUP), RW 21 Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi dilanda genangan setinggi 40 centimeter (cm) pada Senin (16/12/2019) sore.

Padahal, hujan tak berlangsung lama, hanya sekitar satu jam, akan tetapi membuat jalan itu dilanda genangan yang mencapai sekitar 500 meter.

Kondisi itu tentunya membuat aktivitas warga terganggu.

Sebab, jalan itu menjadi akses utama warga yang hendak ke wilayah Babelan, Kabupaten Bekasi maupun ke wilayah Kota Bekasi dan Jakarta.

Tarezo (30) pengendara motor mengeluhkan kondisi tersebut. Hal itu dikarenakan banjir di jalan itu kerap terjadi jika hujan mengguyur, walaupun sebentar.

"Disini mau hujan sebentar juga banjir jalannya, apalagi deras bisa lebih dalam lagi," kata dia, kepada Warta Kota, Senin (16/12/2019).

 Pedagang Pasar Lembang Ciledug Cekcok dengan Aparat Saat Ditertibkan karena Sudah Bayar Sewa Lahan

Tarezo menerangkan kondisi itu sangat menganggu aktivitasnya. Sebab, jalan itu merupakan akses utama menuju ke Kota Bekasi.

"Apalagi kalau lagi deras airnya tinggi buat motor jadi mati," ucap dia.

Ia menduga jalan itu terendam banjir disebabkan buruknya drainase. Diharapkan agar pemerintah setempat segera melakukan penanganan agar genangan air itu tidak kerap terjadi.

"Ini mah sering dan sudah lama, drainase jelek. Pada mampet jadi hujan sebentar aja tergenang," kata dia.

 Update Ini Jawaban Lurah Jelambar Setelah Resmi Dibebastugaskan oleh Atasan di Pemprov DKI Jakarta

Ketua RW 21 PUP, Syarifudin senada dengan pengendara tersebut. Drainase yang buruk hingga perilaku warga membuang sampah sembarang menjadi faktor utama penyebab jalan menjadi banji.

"Bisa dilihat saja sampah-sampah pada bikin saluran mampet, sama memang ini harus dibongkar salurannya agar bisa lebih baik menampung air," kata dia.

Kawasan Jalan Pondok Ungu Permai, Babelan sepanjang 500 meter dilanda genangan sedalam 40 cm.
Kawasan Jalan Pondok Ungu Permai, Babelan sepanjang 500 meter dilanda genangan sedalam 40 cm. (Warta Kota/Muhammad Azzam)

Selain itu, kata Syarifudin, tergenangnya jalan tersebut dikarenakan aliran air menuju ke Kali Busa Kelurahan Bahagia tidak lancar.

Pasalnya, Kali Busa penuh sampah dan endapan lumpur.

"Banyak faktor lah, makanya hujan sebentar juga pasti terendam banjir jalan ini," jelas dia.

 Ahmad Dhani Tak Memberikan Perubahan Setelah Setahun Dipenjara dan Janji akan Lebih Bijak Berbicara

Ia mengaku, sudah bersurat meminta agar pejabat berwenang segera melakukan penanganan.

Sebab, selain menganggu aktivitas pengendara, juga menimbulkan wabah penyakit.

"Kalau tidak segera ditangani ini bisa jadi sarang penyakit, karena hujan sudah berhenti jalanan mah masih tergenang lama surutnya," katanya.

Sebelumnya, diberitakan bahwa Pemerintah Kabupaten Bekasi mulai memetakan wilayah rawan bencana banjir, saat musim hujan.

Lokasi paling rawan adalah pemukiman yang berada di bantaran Kali Citarum dan bantaran Kali Bekasi.

Hal itu diungkapkan Kepala BPBD Kabupaten Bekasi, Adeng Hudaya, kepada Wartakotalive.com pada Rabu (27/11/2019).

Aceng menyebut, wilayah rawan banjir antara lain di Kecamatan Cikarang Timur, Pebayuran, Cabangbungin, Sukatani, dan Muaragembong. Wilayah ini dialiri Sungai Citarum.

Sedangkan wilayah yang dialiri Sungai Bekasi adalah Babelan, Tambun Utara, dan Tarumajaya.

"Pemetaan bagian dari persiapan pemerintah menghadapi musim hujan. Agar mereka yang berada di wilayah itu bisa lebih tanggap bencana," jelas Aceng.

Untuk menghadapi bencana saat memasuki musim penghujan, Aceng menerangkan pihaknya telah melakukan persiapan dengan melakukan apel siaga unsur yang terlibat penanganan banjir mulai dari TNI/Polri, relawan, dan lainnya.

“Dengan adanya apel siaga itu, masing-masing unsur baik TNI/Polri, relawan dan pemerintah daerah siap dalam upaya penanganan bencana,” katanya.

 Klarifikasi Ustadz Abdul Somad Soal Catur Menjawab Pertanyaan Umat Islam yang Terjadi 2 Tahun Lalu

Pihaknya juga telah mengecek peralatan untuk menghadapi banjir mulai dari kesiapan personil, perahu karet, hingga bantuan logistik.

"Kami juga telah komunikasikan de ke dinas terkait untuk pengendalian banjir dengan melakukan normalisasi sungai," katanya.

Pemerintah Kabupaten Bekasi mengklaim telah melakukan normalisasi sungai, guna mengantisipasi terjadinya bencana banjir di saat musim penghujan.

Bupati Bekasi Eka Supria Atmaja mengatakan sungai-sungai di wilayah Kabupaten Bekasi mengalami pendangkalan.

Maka dari itu pihaknya telah melakukan upaya normalisasi sebagai tindakan preventif dalam mengantisipasi kala musim hujan datang di kemudian hari.

"Normalisasi terhadap sungai-sungai itu sudah kita lakukan. Kemarin ada beberapa sungai yang sudah kita cek, salah satunya Kali Jambe, besok kita juga dengan Pak Dandim akan ke Sungai Blencong, tentunya dengan melibatkan masyarakat juga," ujar Eka, dalam keterangannya, Rabu (27/11/2019).

Selain pendangkalan sungai, Eka menyebut penyebab banjir dikarenakan adanya tumpukan sampah di sungai-sungai Kabupaten Bekasi.

Masalah itu juga tengah diselesaikan pihaknya, meskipun sampah itu seringkali dari kiriman wilayah lain.

"Sampah bukan hanya datang dari dalam wilayah Kabupaten Bekasi, tetapi juga dari daerah lain. Masalah ini juga yang jadi pemicu banjir, kita sudah sering bersihkan sampah-sampah itu," jelas Eka.

Ia melanjutkan, pemerintah akan membuat jaring-jaring untuk menghalangi sampah masuk di perbatasan.

“Tentu saja ada langkah-langkah yang akan kita ambil dalam waktu dekat, seperti membuat jaring-jaring di daerah perbatasan,” ucapnya.

Sebagai kawasan industri terbesar di Asia Tenggara, peran perusahaan swasta dan sektor industri yang ada di Kabupaten Bekasi juga turut berperan dalam pencegahan bencana.

Bupati mengatakan bahwa diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah daerah dengan pihak swasta.

“Semua ini harus ada koordinasi. Mereka juga punya peralatan (pencegahan bencana), tinggal bagaimana mengkoordinasikan. Mereka juga sudah mau bekerjasama dengan kita, tinggal kita sinergikan antara pemerintah daerah dan swasta,” tutupnya.

Sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi musim penghujan.

Kepala BPBD Kabupaten Bekasi, Adeng Hudaya mengatakan bahwa BPBD telah melakukan tindakan-tindakan preventif untuk pencegahan bencana di musim penghujan yang akan datang.

Tindakan tersebut yakni sosialisasi masyarakat dan pembentukan desa-desa tangguh bencana.

“Kami telah sosialisasi ke sekolah-sekolah, hingga ke desa-desa. Kami juga telah berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait untuk mengatasi dan meminimalisir bencana akibat meluapnya air sungai,” kata Adeng, Rabu (27/11/2019).

 Komitmen Puskesmas Cileungsi untuk Melawan Wabah Hepatitis Dilaksanakan Bersama Masyarakat

Ia menambahkan, Kabupaten Bekasi dikelilingi 16 sungai, baik sungai besar maupun kecil, sehingga rawan tergenang air. Oleh sebab itu, penyebab-penyebab banjir harus segera di antisipasi.

“Ada dua penyebab banjir, khususnya di Kabupaten Bekasi, yakni meluapnya air sungai, dan kurang berfungsinya drainase dengan baik. Ini biasanya terjadinya di perumahan-perumahan," kata dia.

Untuk mendukung program pencegahan bencana, tahun depan BPBD akan mendatangkan mobil pendidikan bencana, guna memberikan sosialisasi bencana ke masyarakat bisa secara mobile dan dapat dilakukan di luar ruangan.

"Diharapkan dengan sosialisasi-sosialisasi tersebut dapat mengatasi ketika terjadi banjir, selain kami juga sudah koordinasi untuk dilakukan normalisasi sungai," katanya.

 Update Penyakit Hepatitis Terjadi Lebih Cepat Menular Dibanding HIV Sehingga Publik Diminta Waspada

Sementara itu, sebelum ini, diberitakan bahwa Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta telah membangun 10 waduk di tahun 2019 untuk mengantisipasi ancaman banjir.

Seluruh waduk itu dibangun di dua wilayah administrasi yakni Jakarta Timur dan Jakarta Utara.

Kepala Dinas SDA Jakarta Juaini merinci 10 titik itu di antaranya Waduk Cilangkap Giri Kencana, Waduk Cimanggis, Waduk Kampung Rambutan 1 dan 2, Waduk Pondok Rangon, Waduk Pekayon, Situ Rawa Minyak, Embung Lapangan Merah, Embung Semper Barat Cilincing dan Embung Cakung Timur. Pembuatan waduk ini juga diiringi dengan pembangunan kali sepanjang 8.274 meter yang berada di sekitar waduk.

“Kami juga membangun 987 titik sumur resapan di lima wilayah Jakarta dengan target 1.000 titik sumur resapan pada tahun 2019,” kata Juani saat jumpa pers di Balai Kota DKI Jakarta, pada Kamis (14/11/2019).

Menurut dia, pembangunan waduk ini sangat efektif untuk meminimalisir ancaman banjir. Sebelum air hujan menerjang permukiman warga, air ditampung dulu di waduk sampai debit air di kali atau sungai stabil.

Setelah itu, air dialirkan ke sungai atau kali memakai pompa yang telah disiapkan dinas. Tercatat ada 133 unit pompa dengan masing-masing kapasitas 28,512 meter kubik per detik, pompa stationer 457 unit di 165 lokasi dengan kapasitas 489,01 meter kubik per detik, pintu air 231 unit, serta ekskavator untuk pengerukan waduk.

“Selain itu, kami mengerahkan 7.889 personel yang dilengkapi alat berat 260 unit dan dump truck 461 unit,” ujarnya.

 Pesan Sabrawi pada PO Sinar Jaya Menyusul Tiga Anggota Keluarga Menjadi Korban Kecelakaan Tol Cipali

Sementara itu Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Subejo, mencatat ada 86 Rukun Warga (RW) dari 25 Kelurahan dan 17 Kecamatan yang rawan terkena banjir.

Ketinggian banjir bervariasi dari 50 sentimeter sampai satu meter, tergantung intensitas curah hujan dan status tinggi muka air (TMA) dari kali terdekat.

Data titik banjir itu hasil pendataan petugas sejak tiga tahun terakhir. Meski demikian, lokasi banjir itu patut diwaspadai karena merugikan masyarakat.

“Daerah ini masih berpotensi (banjir) karena berada di dekat aliran kali, tapi karena sudah ada upaya Pemprov DKI dalam mitigasi banjir, yah Insya Allah jumlahnya berkuranglah,” kata Subejo.

 Korban Tabrakan Skuter Listrik Grab Wheels Menyangkal Kabar Pelaku Sempat Menolong Mereka

Hingga kini, BPBD DKI Jakarta terus melakukan koordinasi antar perangkat daerah lainnya seperti kelurahan, kecamatan hingga Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta.

Untuk koordinasi dengan kelurahan, BPBD memastikan agar saluran air dan drainase di permukiman warga sudah bersih, sehingga air bisa lebih leluasa mengalir.

Selain itu, BPBD DKI juga melakukan pemeriksaan alat sistem peringatan dini seperti DWS (Disaster Warning System) AWS (Automatic Weather Sensor) yang ada di bantaran Sungai Ciliwung. Bahkan pihaknya mengecek kesiapan perahu karet dan tenda-tenda jika diperlukan untuk para pengungsi.

“Kami juga memberikan edukasi kepada masyarakat terkait bencana banjir dan pencegahannya, serta membuat rencana kontijensi bencana banjir,” katanya.

 TERUNGKAP Pesan Kapolri ke Brimob untuk Menghindari Perbuatan yang Bisa Merusak Kepercayaan Publik

Data kawasan yang terancam genangan dan banjir:

Jakarta Barat
1. Kecamatan Cengkareng
a. Rawa Buaya (RW 01, 02, 04, 11)

2. Kecamatan Kalideres
a. Tegal Alur (RW 03, 04, 05, 09, 012).

3. Kecamatan Kebon Jeruk
a. Kedoya Selatan (RW 05).

b. Kedoya Utara (RW 02, 08)

4. Kecamatan Kembangan
a. Kembangan Utara (RW 03, 04,05,010).

-Jakarta Selatan

1. Kecamatan Kebayoran Baru
a. Cipete Utara (RW 02,06,07)
b. Petogogan (RW 02,03)

2. Kecamatan Kebayoran Lama
a. Cipulir (RW 010)
b. Pondok Pinang (RW 02, 03)

3. Kecamatan Pancoran
a. Rawajati (RW 01, 07).

4. Kecamatan Pesanggrahan
a. Ulujami (RW 05).

5. Kecamatan Cilandak
a. Pondok Labu (RW 01, 03, 07, 09, 10).

6. Kecamatan Mampang Prapatan
a. Bangka (RW 02, 03, 04).

7. Kecamatan Pasar Minggu
a. Pejaten Timur (RW 01, 03, 05, 06, 07, 08, 09, 010).
b. Jati Padang (RW 02, 03, 04, 05, 06, 08, 09, 010)

-Jakarta Timur

1. Kecamatan Jatinegara
a. Bidara Cina (RW 05, 07, 011, 014, 015).
b. Kampung Melayu (RW 01, 02, 03, 04, 05, 06, 07, 08)

2. Kecamatan Kramat Jati
a. Cawang (RW 01, 02, 03, 05, 08, 012).
b. Cililitan (RW 06, 07)

3. Kecamatan Makasar
a. Cipinang Melayu (RW 03, 04).
b. Makasar (RW 05, 07).

4. Kecamatan Ciracas
a. Rambutan (RW 02, 03, 06)

-Jakarta Utara

1. Kecamatan Pademangan
a. Pademangan Barat (RW 05)

2. Kecamatan Penjaringan
a. Pluit (RW 01, 05, 011, 016, 020, 021)
b. Penjaringan (RW 017)

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved