Breaking News:

Staf Khusus Jokowi

Pengakuan Angkie Yudistia Staf Khusus Presiden yang Kesulitan Baca Gerak Bibir Jokowi

sebagai seorang tuna rungu, Angkie Yudistia harus memperhatikan dengan cermat gerak bibir seseorang saat berbicara.

Tribunnews/Fransiskus Adhiyuda
Staf Khusus Angkie Yudistia yang mengalami tuna rungu agak kesulitan membaca gerakan bibir Presiden Jokowi 

Setiap kali melakukan pemeriksaan enam bulan sekali, hasilnya selalu buruk.

 Ini Dia Tujuh Staf Khusus Presiden Jokowi, Semuanya dari Kalangan Milenial

Fungsi pendengaran Angkie terus menurun. Ia juga sempat mengalami tinitus atau telinga berdengung saat SMP.

Berbagai pengobatan telah ia jalani, tetapi tak bisa mengembalikan pendengarannya seperti semula. Angkie akhirnya menggunakan alat bantu dengar.

"Waktu itu pakai alat bantu dengar bukan perkara mudah, susah dan malu banget. Orang pikir itu apa sih di belakang telinga. Karena kalau kita berpikir sesuatu yang sempurna, kalau ada yang enggak sempurna itu jadi di-bully," tutur Angkie.

Mengalami keterbatasan pendengaran saat remaja adalah masa sulit bagi Angkie.

Ia kerap merasa tertekan dan kurang percaya diri. Meski demikian, penulis buku Perempuan Tunarungu, Menembus Batas ini tak pernah patah semangat untuk mengenyam pendidikan.

Lulus dari SMAN 2 Bogor, Angkie melanjutkan kuliah jurusan Ilmu Komunikasi di London School of Public Relations Jakarta.

 Pendapatan Asli Daerah Kota Bekasi Kurang Rp 1 Triliun Meski Hanya Sisa 40 Hari Tahun Anggaran 2019

Saat kuliah, perlahan Angkie bisa menerima keterbatasan yang dimilikinya.

Ia banyak belajar kata-kata dengan membaca buku.

"Dosenku bilang, kamu jujur sama diri kamu sendiri. Kalau kamu sudah jujur sama diri sendiri dan jujur sama orang lain, orang lain akan mengapresiasi kejujuran kita. Jadi benar, ketika aku jujur, mereka jadi sangat bantu," ucap Angkie.

Angkie mulai sadar, bila ia tidak pernah menerima dirinya sendiri, sampai kapan pun tak akan bisa menikmati hidupnya.

Dukungan orangtua juga membuat Angkie bangkit kembali untuk menjalani kehidupannya.

Perlahan, ia dapat mengatasi mental block terhadap diri sendiri.

Angkie juga teringat ucapan seorang dokter spesialis THT (telinga, hidung, dan tenggorokan) yang mengatakan jika kesembuhannya ada di tangan Tuhan.

 Lawan Sriwijaya FC, M Roby: Seluruh Pemain Persita Tangerang Siap Jalankan Instruksi Pelatih

"Jadi, ini sudah jalan hidup. Ada maksud Tuhan di balik ini semua. Dari kuliah komunikasi aku mulai bisa menerima dan menemukan jati diri aku sebenarnya," ucapnya.

Mendirikan Thisable Enterprise Bersama rekan-rekannya, Angkie kemudian mendirikan Thisable Enterprise untuk memberdayakan orang-orang yang memiliki keterbatasan.

Wanita yang pernah terpilih sebagai "The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008" ini menyadari, orang dengan disabilitas kerap sulit mendapat pekerjaan.

Sangat sedikit perusahaan yang mau memperkerjakan mereka.

Angkie mengungkapkan, ada 7.000 disabilitas yang mengirimkan lamaran melalui Thisable Enterpraise, tetapi penyerapan tenaga kerjanya baru 50 orang.

 Pendapatan Asli Daerah Kota Bekasi Kurang Rp 1 Triliun Meski Hanya Sisa 40 Hari Tahun Anggaran 2019

"Kami butuh dukungan bersama semua pihak agar mereka bisa mandiri dan berkontribusi," kata Angkie.

Ibu satu anak ini sudah menjalin kerja sama dengan PT Gojek Indonesia untuk memperkerjakan orang-orang dengan disabilitas di Go-Auto hingga Go-Glam.

Selain itu, para disabilitas juga didukung untuk mengembangkan ide kreatif untuk membuat suatu produk.

Salah satunya yang sudah ada saat ini adalah membuat produk kecantikan.

"Aku percaya, tuli itu juga SDM milik negara, aset negara, jadi kita juga memiliki hak," kata Angkie.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Angkie Yudistia Menembus Keterbatasan Stigma Tunarungu".

Penulis: Fransiskus Adhiyuda

Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved