Kekerasan Terhadap Anak

Indonesia Feminist Lawyer Club: Negara Wajib Berikan Trauma Healing ‎pada Anak Korban Perundungan

Pihaknya menyoroti minimnya peranan pemerintah dalam kasus seorang bocah berinisial F (15) yang hendak bunuh diri karena di-bully kawan-kawannya.

Istimewa
Ketua Umum Indonesia Feminist Lawyer Club (IFLC) Nur Setia Alam 

INDONESIA Feminist Lawyer Club (IFLC) meminta negara melalui Kementerian terkait ataupun pemerintah daerah dan dinas, wajib 'hadir' untuk memenuhi hak anak dalam setiap kasus kekerasan anak maupun penelantaran terhadap anak.

Menurut Ketua Umum IFLC Nur Setia Alam, sebagai contoh, pihaknya menyoroti minimnya peranan pemerintah dalam kasus seorang bocah berinisial F (15) yang hendak bunuh diri di Jembatan Kali Cimanuk, Garut, Jawa Barat karena kerap 'dibully' kawan-kawannya.

"Apa yang terjadi dengan bocah F yang mencoba bunuh diri, jelas merupakan pelanggaran dari Ketentuan Umum UU No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, di mana dinyatakan dalam butir 2 bahwa Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh dan berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi," kata Nur Setia kepada Wartakotalive.com, Senin (9/12/2019).

Oleh sebab itu, lanjut Nur Setia, negara wajib memberikan pemulihan psikologis atau trauma healing untuk mengembalikan keadaan mental si anak pada kondisi yang baik, di samping tentunya juga menunjang pendidikan si anak.

Terkait hal itu, diharapkan upaya penanggulangan dan penanganan kekerasan pada bocah F tersebut dapat dilakukan secara terintegrasi antara Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), Menteri Sosial, Menteri Pendidikan dan Pemda setempat.

"Sehingga apa yang dialami oleh F tidak terulang terhadap dirinya dan juga anak lain. Di sinilah pentingnya regulasi dan implementasi hukum mengedepankan keadilan dan kepentingan hukum bagi anak-anak terlantar seperti F," ucap Nur Setia.

Frustrasi

‎Diberitakan sebelumnya, seorang remaja putri berinisial F (15) dikabarkan berniat bunuh diri di Jembatan Cimanuk, Garut karena merasa frustrasi akibat sering mendapat perundungan atau bullying dari teman-temannya.

F sendiri mengaku hidup menderita, dan sudah setahun hidup di jalanan pasca kedua orang tuanya bercerai dan menelantarkannya.

Selama hidup di jalanan, F kerap mendapatkan perundungan dari kawan-kawannya sesama anak jalanan hingga akhirnya puncaknya dia merasa kesal dan bermaksud mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Beruntung nyawanya berhasil diselamatkan dan kini F berada di Polsek Garut.

Penulis: Ign Agung Nugroho
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved