Breaking News:

PRURide 2019

Terik Menyengat dan Angin Kencang Gunungkidul Menghadang Peserta Granfondo 120km PRURide 2019

Rute Granfondo 120km PRURide 2019 melintasi sejumlah area dengan tantangan alam yang tergolong ekstrem di kawasan Gunungkidul.

Penulis: Max Agung Pribadi | Editor: Murtopo
Istimewa/Dony Adhika
Uji coba rute Granfondo 120km PRURide 2019 di Yogyakarta. 

Rute Granfondo 120 km PRURide 2019 melintasi sejumlah area dengan tantangan alam yang tergolong ekstrem berupa medan curam, sengatan terik mentari, dan angin kencang di kawasan Gunungkidul.

Karena itu para peserta Granfondo yang seluruhnya berjumlah 540 orang diminta lebih waspada dan berhati-hati.

Hal itu terungkap dalam technical meeting yang digelar di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Sabtu (7/12/2019).

Pertemuan teknis dihadiri para pesepeda dan perwakilan tim pendukung.

Chief Commisaire dari Pengprov ISSI jawa Tengah Satmoko meminta para peserta menjaga ritme sepeda saat meluncur di dalam kota setelah start pukul 05.30 WIB.

Paguyuban Club Sepeda Semarang Semarang Penyumbang Peserta Terbesar PRURide 2019

"Semua aturan teknis dan perangkat yang digunakan untuk perhitungan waktu dalam lomba mengikuti standar lomba yang berlaku di lomba balap sepeda jalan raya, " tutur Satmoko.

Setelah start awal di Stadion Mandala Krida, peserta berjalan berputar pusat kota dengan pace dijaga 25km/jam.

Pada titik 27km peserta memulai real start dimana perhitungan waktu dimulai.

Pleton lalu terpecah jadi dua yaitu Granfondo dan Mediafondo.

Peserta Balap Sepeda di PRURide 2019 Disajikan Pemandangan Parangtritis Hingga Makam Imogiri

Pleton Granfondo mengarah ke Bantul sampai Parangtritis dengan kondisi medan relatif datar dan tanjakan landai di daerah Pajangan.

Sampai Parangtritis, tantangan pertama yaitu Jalur Penggaris berupa jalan lurus sepanjang 5km dengan medan terbuka beratap langit.

Disini angin kencang dari berbagai arah dan cuaca panas terik yang menyengat.

Peserta Balap Sepeda di PRURide 2019 Disajikan Pemandangan Parangtritis Hingga Makam Imogiri

Dua hari belakangan ini Yogyakarta dilanda cuaca ekstrem yang kontras.

Pagi hingga sore hari panas menyengat mencapai 40 derajat Celcius ditutup hujan deras pada malam hari.

Suasana technical meeting sempat mnghangat saat membahas sistem penghitungan waktu.

Sejumlah peserta mempertanyakan mengapa panitia tidak menggunakan chip time, terutama untuk memperhitungkan waktu kategori King Of Mountain dan Queen Of Mountain.

Satmoko menjelaskan, waktu dihitung dari real start sehingga siapa yang menyentuh garis pertama itulah pemenangnya.

Ini karena Granfondo termasuk kategori race.

Selepas Jalur Penggaris, peserta akan menghadapi tantangan berupa tanjakan terjal Panggang.

Jalur ini berupa jalan terjal sepanjang 4km dengan gradien 18 persen.

Di jalur inilah peserta menghadapi lomba kategori KOM dan QOM.

"Setelah tanjakan Panggang, ada turunan curam sebelum memasuki jalur rolling di Imogiri. Disini tenaga peserta sudah banyak terkuras sehingga dibutuhkan ekstra kehati-hatian dan kesiapan teknis sepeda perlu dipastikan, " tutur Satmoko.

Juara Asian Para Games 2018 M Fadli mengakui jalur yang dibuat untuk Granfondo 120km sangat menantang. Ia mengingatkan para peserta untuk lebih waspada dan berlomba dengan sportivitas tinggi.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved