Breaking News:

PRURide2019

Granfondo 120Km PruRide 2019, Kisah Ban Bungkus Permen dan Nyaris Pingsan di Panggang

Mengalami langsung balap sepeda jalan raya dalam skala yang paling sederhana sekalipun memberi nuansa berbeda dalam peliputan PRURide 2019.

istimewa
Start dan finis PRURide 2019 di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta. 

Beberapa kali terjadi senggolan dan ada yang terjatuh, namun bisa melanjutkan perjalanan.

Melintas di Malioboro.
Melintas di Malioboro. (istimewa)

Malioboro baru menggeliat pagi itu.

Warga menyempatkan berdiri di pinggir jalan dan melambaikan tangan atau memotret rombongan besar pesepeda berjersey merah.

Begitu memasuki Jalan Bantul Raya, start sungguhan dimulai dan kecepatan pleton meningkat terus sampai 45-48 km/jam.

Rombongan besar itu berpacu dalam kecepatan tinggi dengan jarak sepeda yang rapat sehingga terjadi sikut-sikutan.

Setengah mati saya berusaha mengejar.

Hanya tahan berapa kilometer lalu copot.

Saya jalan dengan ritme kecepatan sendiri, konstan 35-36 km/jam.

Sejumlah pesepeda terus menyalip.

Ada yang jalan sendiri atau dua-tiga orang, ada pula yang berkelompok.

Mungkin dari satu klub atau daerah.

Biasanya mereka saling bantu dengan bergantian menarik pleton di depan.

Itu salah satu asyiknya main sepeda balap di komunitas.

Mengarah ke selatan.
Mengarah ke selatan. (istimewa)

Jalan masih basah sisa hujan semalam.

Di Bantul, pandangan mulai terbuka. Bebas dari bangunan.

Hamparan sawah hijau dengan bapak ibu petani bekerja di tengah udara pagi yang masih segar.

Latar belakang gunung gemunung dan langit biru luas terasa memenuhi sanubari.

Sungguh indah elegi pagi di kawasan Bantul.

Sesekali saat melintas perkampungan, bau asap kayu bakar dari rumah-rumah warga menyeruak di udara.  

Keindahan jalur ini sudah mulai terasa sejak kami meninggalkan kota Yogyakarta dan mengarah ke selatan. 

Kami terus berpacu di jalan yang masih sepi sampai Srandakan dimana rombongan berpisah arah antara Granfondo dan Mediofondo.

Tiba-tba saya merasakan ada yang tidak beres di kaki kiri.

Betis terasa mulai keram.

Harus atur tenaga karena jalan masih panjang.

Saya pindah gigi lebih rendah untuk mengurangi beban kayuhan dan menumpukan kekuatan pada kaki kanan.

Kecepatan pun jadi berkurang.

Beberapa pesepeda yang sebelumnya di belakang mulai menyalip.

Saya pertahankan kecepatan lebih lambat untuk memulihkan keram di betis kiri.

Tak lama keram itu hilang sehingga bisa menambah kecepatan.

Tidak biasanya saya mengalami hal ini dalam perjalanan bersepeda jarak jauh yang cukup sering dilakukan.

Memasuki kawasan perkebunan dan hutan jati selepas Bantul, tibalah kami di Pajangan.

Pepohonan rindang di tepi jalan meneduhi kami disela rembesan sinar mentari yang menghangat. 

Ada satu tanjakan sepanjang 2km lumayan terjal, dengan gradien  sekitar 6%.

Rombongan mulai tercerai berai disini.

Sepeda balap yang saya gunakan adalah Marin Limited Edition 1993 dengan grupset 105 jadul.

Kombinasi rasionya 8 speed dengan sproket 13-25t dan crank 42-53t.

Di stadion, Marta dan Devin, mantan atlet dan teman seperjalanan di berbagai event bersepeda  sempat mewanti-wanti akan sulitnya medan dilalui dengan sepeda yang memakai gearing seperti itu.

Saya hanya nyengir menanggapi karena memang adanya sepeda balap berbahan besi cromoly itu.

Kesulitan itu rupanya jadi kenyataan.

Berat sekali rasanya mengayuh lurus pada tanjakan pertama di Pajangan.

Saya terpaksa berjalan zigzag agar beban kaki tidak terlalu berat lalu memanggil keram dan teman-temannya. 

Lepas Pajangan, jalan menurun curam berkelok menuju Pantai Samas dan menyusuri jalur lurus sampai Parangtritis.

Angin haluan mulai terasa.

Apalagi di Jalur Penggaris.

Jalan lurus sepanjang lima kilometer benar-benar menepati janjinya, memberi angin haluan yang kencang sebagai rintangan.

Walaupun datar, mengayuh disini jadi terasa lambat karena terpaan angin dan fisik yang melorot.

Saya terus mengayuh dengan konstan. 

Di pinggiran jalan Parangtritis itu banyak pesepeda warga setempat berhenti dan piknik di warung dadakan.

Bungkus permen

Di tengah jalan saya bertemu Djohan Sudhana, pesepeda asal Bali yang menggunakan sepeda Colnago tua.

Perlahan tapi pasti, pria berusia 56 tahun ini menapaki jalan terjal.

Di satu titik dekat selepas tanjakan KOM, Djohan terpaksa berhenti karena ban belakangnya pecah.

Ban luar itu sobek sekitar 5cm.

"Mungkin tekanan angin terlalu keras. Saya nyaris frustasi dan mau loading saja karena mekanik yang lewat tidak bawa ban luar yang bisa dipakai," tuturnya.

Sambil menunggu mobil penyapu, Djohan coba membongkar ban.

Di bagian yang sobek ia selipkan bungkus permen yang dibekali panitia.

Setelah itu ban dipompa tidak terlalu keras, namun cukup untuk jalan dengan nyaman. Berhasil! 

Walau berjalan lebih pelan dan hati-hati, Djohan berhasil menyelesaikan perjalanan dibawah batas waktu yang ditentukan.

Ban bungkus permen itu mengantarnya sampai ke finis dengan selamat. 

Nyaris pingsan

Sepanjang 80 km pertama sudah kami lalui dengan lancar.

Hingga tibalah di ujung jalan memasuki daerah Panggang.

Disinilai tanjakan yang dinanti-nanti itu.

Tanjakan Panggang berupa jalan mendaki terjal sepanjang empat kilometer dengan gradien 18%.

Di tanjakan itulah panitia menggelar kategori King of Mountain yang dimenangkan Hermawan Bagus dan Queen of Mountain Sri Suyanti.

Sepotong tanjakan pertama langsung meruntuhkan segala ambisi.

Berbagai cara ditempuh pesepeda untuk melaluinya.

Jalan seperti siput, ada yang zigzag, dan sebagian dituntun.

Teriakan dan candaan sesekali terlontar ditengah dengusan nafas ngos-ngosan.

Saya coba melaluinya dengan zigzag.

Beberapa kali terpaksa berhenti untuk ambil nafas.

Keram itu datang lagi, kali ini naik ke paha.

Terpaksalah sepeda saya tuntun. Tetap nyeri.

Teriknya matahari yang mulai meninggi benar-benar memanggang kami di Panggang. 

Pepohonan yang tumbuh di pingggiran tak lagi memayungi kami yang bertarung di jalan.

Selepas tanjakan jahanam itu kami lalui jalur rolling, naik turun perbukitan menuju Imogiri.

Selanjutnya tanjakan dan turunan datang bertubi-tubi sebagaimana banyak terjadi di daerah patahan bumi.

Kadang landai namun panjang, sering juga pendek tapi terjal. Berkelok-kelok.

Pada satu tanjakan menjelang Water Station 5 (Km 80) di Panggung, saya berhenti.

Perut  terasa mual. Tak lama lalu muntah-muntah.

Saya pikir asam lambung kumat, jadi berhenti dulu, istirahat di pinggir jalan.

Tapi ada yang aneh.

Sekujur tubuh terasa kesemutan.

Tangan, muka, bahkan  lidah jadi kebas dan kelopak mata kanan seperti tertutup.

Ditengah itu nafas jadi sesak dan kesadaran menurun.

Saya stop panitia yang lewat, minta dipanggilkan tim medik.

Selama menunggu ambulans saya ditemani beberapa panitia yang sigap menjaga supaya saya tidak pingsan.

Entah apa yang terjadi.

Tapi saya menduga terlalu memaksakan diri melalui tanjakan-tanjakan berat dengan sepeda ber-gear tinggi, padahal tubuh sudah tidak mau kompromi.

Gearing tinggi ini bukanlah alasan.

Bila tak mampu seharusnya bisa diatasi dengan lebih sering berhenti, stop and go.

Mungkin juga kurang latihan yang benar untuk menghadapi balapan seperti ini.

Kedua kaki kini dihajar keram yang tak terkendali sehingga untuk berdiri pun sulit.

Dengan kesadaran yang menurun, saya dipapah ke ambulans dan langsung meminta oksigen.

Perjalanan balapan saya berakhir disitu.

Sempat minta diturunkan di WS 6 untuk melanjutkan perjalanan bersepeda, tapi situasinya tak memungkinkan.

Ngeri juga memikirkan gejala yang terjadi tadi dan saya anggap itu alarm dari tubuh untuk stop.

Bayangan buruk kejadian tak mengenakkan di sejumlah event olahraga lari atau sepeda seperti mengingatkan.

Ada rasa kecewa.

Tapi keselamatan jauh lebih penting.

Kali ini saya gagal menyelesaikan lomba, namun mendapat pengalaman amat berharga tentang sebuah keterbatasan.     

     

    

Penulis: Max Agung Pribadi
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved