Sekolahnya Retak dan Rawan Ambruk, Puluhan Murid Penyandang Disabilitas Jalani UAS di Bawah Tenda

Wakil Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, menyayangkan para siswa ditempatkan di tenda untuk menjalani ujian semester

Sekolahnya Retak dan Rawan Ambruk, Puluhan Murid Penyandang Disabilitas Jalani UAS di Bawah Tenda
TribunJakarta.com/Jaisy Rahman T
Siswa disabilitas Sekolah Khusus Assalam 01 ujian di tenda yang dibangun di Sekolah Khusus Assalam 02, Serpong, Tangsel, Selasa (3/12/2019). 

“Ya awalnya masih enggak enak. Tapi kita harus beradaptasi dengan keadaan. Kalau dijalani dengan hati ikhlas dan senang, mau gimanapun keadaannya, asik-asik saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Bangunan sekolah SKh Assalam 01 di bilangan Jalan Cendana, Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel) sudah tidak lagi bisa digunakan.

Pihak Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sementara mengungsikan para murid yang kebanyaan tuna rungu dan tuna grahita ini ke SKh Assalam 02 di bilangan Ciater, Serpong.

Karena ruang kelas yang tidak cukup, 30-an dari 84 siswa berkebutuhan khusus itu terpaksa menggunakan satu tenda darurat sekira seluas lapangan bulutangkis, dan satu tenda lagi yang berukuran setengahnya.

Sesuai jadwal KBM, para siswa yang kebanyakan tuna rungu dan tuna grahita itu sedang menjalani ujian akhir semester (UAS).

Menyayangkan

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie angkat bicara soal Sekolah Khusus (SKh) Assalam 01 Serpong yang tidak bisa digunakan karena rawan ambruk.

Sebanyak 84 siswa yang kebanyakan tuna rungu dan tuna grahita itu diungsikan ke SKh Assalam 02 Serpong, Tangsel.

Wakil Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, menyayangkan para siswa ditempatkan di tenda untuk menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) yang sedang memasuki tahapan ujian semester.

"Iya saya cek dulu kalau bisa jangan di tenda lah ya gantian aja dengan sekolah-sekolah terdekat di situ supaya anak-anak nggak terlalu kesulitan menjalankan ujian apalagi musim hujan," ujar Benyamin saat dihubungi awak media, seperti dilansir TribunJakarta.com.

Benyamin mengatakan, sebenarnya SKh merupakan tanggung jawab Pemerintah Provinsi, namun pihaknya tetap berusaha membantu.

Karana tidak bisa menggunakan APBD, bantuan diusahakan dari swasta melalui Corporate Social Responsibility (CSR).

"Kita sudah kontak forum CSR mudah mudahan ya bisa di bantu. Tapi kita melaporkan kok ke provinsi. Tunggu saja provinsi," ujarnya.

Penulis: Dedy
Editor: Dedy
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved