Mulai Senin Pekan Depan, Anggota Polisi Jadi Inspektur Upacara di Sekolah Serukan Anti Tawuran

mengajak semua kalangan seperti dinas pendidikan, tokoh agama, hingga termasuk para wali murid agar berperan menjaga peserta didik dari tawuran.

Mulai Senin Pekan Depan, Anggota Polisi Jadi Inspektur Upacara di Sekolah Serukan Anti Tawuran
Warta Kota/Andika Panduwinata
Kapolresta Tangerang AKBP Ade Ary Syam Indradi menjelaskan tentang tawuran pelajar yang terjadi pyaada Kamis (28/11/2019) lalu, dan mengakibatkan seorang pelajar tewas akibat tertebas senjata tajam, Selasa (3/12/2019). Polisi menahan sepuluh tersangka, dan sembilan di antaranya berstas pelajar. 

Tawuran pelajar di wilayah Kabupaten Tangerang adalah sudah mengkhawatirkan.

Kapolresta Tangerang AKBP Ade Ary Syam Indradi pun menginstruksikan dan mewajibkan seluruh anggotanya adalah untuk menjadi inspektur upacara (irup) di sekolah setiap Senin.

“Mulai Senin depan, anggota menjadi irup dengan tema anti tawuran,” ucap Ade di Mapolrestro Tangerang, Selasa (3/12/2019).

Perintah itu adalah menyusul terjadinya tawuran di Kawasan Industri Olex, Desa Pasir Bolang, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Kamis (29/11/2019) lalu.

Pada peristiwa tawuran itu, satu orang pelajar berinisial OP (17) meninggal dunia akibat sabetan senjata tajam.

“Ini sudah memprihatinkan. Tawuran pelajar kembali menyebabkan orang meninggal. Perlu peran semua pihak agar kejadan tak terulang,” kata Ade.

Guna mencegah tawuran terulang, Ade menegaskan, akan mengajak semua kalangan seperti dinas pendidikan, tokoh agama, hingga termasuk para wali murid agar berperan menjaga peserta didik dari tawuran.

Menurut dia, pencegahan tawuran tak dapat dilakukan hanya oleh polisi.

Peran orang tua dan unsur masyarakat lainnya, kata dia, sangat penting agar anak sadar bahwa tawuran adalah tindakan negatif dan berbahaya.

Ade menerangkan, tawuran itu bermula dari saling ejek antara 2 pelajar di media sosial. Menurutnya, usai saling ejek, para pelajar kemudian bersepakat untuk tawuran.

Dia menambahkan, saat tawuran terjadi, jumlah kelompok korban lebih sedikit daripada jumlah kelompok lawan.

“Dua kelompok pelajar itu tawuran menggunakan senjata celurit, parang, badik, bambu runcing, hingga stik golf,” kata Ade.

Ade melanjutkan, dari tawuran itu polisi mengamankan 9 orang pelajar yaitu KP (16), HS (16), DD (15), AS (15), SZ (14), MRO (15), AR (17), RH (15), dan S (15). Selain 9 pelajar yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, tutur Ade, polisi juga meringkus 1 YOR yang sudah berusia 19 tahun atau dewasa.

YOR, kata Ade, adalah alumni salah satu sekolah yang terlibat tawuran. YOR, lanjutnya, diajak lalu kemudian ikut terlibat dalam tawuran itu.

“Korban meninggal karena dibacok dari belakang. Setelah ada korban tewas, para pelaku tawuran langsung berhamburan melarikan diri,” ungkapnya.

Penulis: Andika Panduwinata
Editor: Dedy
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved