Breaking News:

Fasilitas Umum

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Kini Menjadi Surga Pencinta Bacaan

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menjadi salah satu tempat untuk mencari sumber bahan penelitian.

Warta Kota/Janlika Putri
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat. 

Anda yang sedang melakukan penelitian, pasti membutuhkan perpustakaan untuk mencari sumber bahan penelitian.

Nah, ada perpustakaan baru yang disebut-sebut sebagai perpustakaan tertinggi di Asia yang kini menjadi surga pencinta bacaan.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menjadi salah satu tempat untuk mencari sumber bahan penelitian.

Perpustakaan itu terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat.

Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang menempati bangungan 27 lantai itu diresmikan penggunaan pada 14 September 2019 oleh Presiden Joko Widodo.

Tempat itu tak pernah sepi pengunjung. Ratusan orang kerap berkunjung ke perpustakaan itu setiap hari.

Warga Rusun Jatinegara Kaum Kini Punya Perpustakaan Digital, Sediakan Koleksi 500 Buku

Sebelum menjadi Perpusnas seperti sekarang ini, ada sederet kisah dari masa lampau tentang pembangunan Perpusnas tersebut.

Sejarah menyebutkan, Perkumpulan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang dibentuk pada 24 April 1778 adalah cikal bakal Perpusnas.

Bataviaasch Genoothschap merupakan perkumpulan cendekiawan para kolonial Belanda.

Mereka kerap  melakukan diskusi, bertukar pikiran, dan penelitian.

Perkumpulan orang pintar itu banyak menyumbang buku. Buku-buku itu pun kemudian dikumpulkan.

Untuk menyimpan bahan bacaan yang sudah bertumpuk itu agar bisa dibaca oleh orang lain lantas dibentuk perpustakaan.

Beragam Kegiatan Digelar, Perpustakaan Umum Kabupaten Bekasi Tetap Sepi Peminat

Isi perpustakaan itu khusus didominasi tentang penelitian ilmu bahasa, antropologi, dan ilmu bumi.

Setelah beberapa tahun Indonesia merdeka, perkumpulan itu dibubarkan pada tahun 1950.

Saat memasuki era penjajahan Jepang tahun 1942, sama sekali tidak ada lagi kegiatan kepustakaan.

Pasalnya, ketika itu Jepang lebih memusatkan perhatian untuk keperluan mesin perang.

Bahkan, pada awal kekuasaannya di Indonesia, Jepang melarang buku-buku berbahasa Belanda, Inggris dan bahasa Eropa lainnya beredar.

Semua sekolah tinggi ditutup.

Pemkab Bekasi Punya Perpustakaan Digital IBekasikab untuk Mendukung Peningkatan Budaya Literasi

Namun, ketika Jepang mulai terdesak beberapa sekolah tinggi mulai dibuka kembali untuk keperluan Jepang.

Selain sekolah tinggi ditutup,  semua kegiatan kantor, lembaga dan organisasi 'berbau' Belanda  dihapus Jepang.

Nama kantor diubah ke dalam bahasa Jepang.

Baca selengkapnya di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Penulis:
Editor: Intan Ungaling Dian
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved