Fadli Zon Kritik Pidato Nadiem, Banyak Arahan Tapi Masalah Kesejahteraan Guru Tidak Terselesaikan

Peringatan Hari Guru Nasional Fadli Zon kritik pidato Nadiem, banyak arahan tapi masalah kesejahteraan guru tidak kunjung terselesaikan

Fadli Zon Kritik Pidato Nadiem, Banyak Arahan Tapi Masalah Kesejahteraan Guru Tidak Terselesaikan
Kompas.com
Anggota DPR Fadli Zon beri tanggapan pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) usai menyampaikan pidatonya setelah resmi dilantik menjadi presiden periode 2019-2024. 

Bukan karena mendayu-dayu dengan penuh pengharapan, naskah pidato Nadiem Makarim itu dinilai menyentuh hati lantaran ditulis apa adanya.

Dalam pembukanya, Nadiem Makarim justru meminta maaf karena tidak melanjutkan kebiasaan yang umumnya disampaikan dalam peringatan Hari Guru Nasional.

Dirinya mengaku lebih ingin berbicara apa adanya ketimbang menyampaikan kalimat retorika yang inspiratif dan memacu semangat.

Menurutnya, tugas seorang guru adalah tugas yang paling mulia sekaligus tersulit dibandingkan dengan profesi lainnya di dunia ini.

Guru katanya harus dapat membentuk anak didik yang merupakan masa depan bangsa, tetapi dengan pertolongan yang minim.

Begitu juga dengan kurikulum dan regulasi yang ada saat ini, guru diungkapkan Nadiem tidak dapat membantu ketertinggalan siswa didiknya lantaran disibukkan dengan tugas administratif.

"Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan. Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas," ungkap Nadiem dalam naskah pidato.

"Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan. Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan," jelasnya.

Tidak hanya itu, kesempatan guru untuk berinovasi pun tertutup dengan beragam regulasi, padahal setiap guru berharap dapat menjadil model bagi para anak didiknya.

"Anda frustasi karena anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal. Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi," jelas Nadiem.

Halaman
1234
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Dwi Rizki
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved