Berita Video
VIDEO: Bocah Laki-Laki Pengidap Pengeriputan Otak Hanya Dirawat Seadanya di Pasarminggu
"Usia 12 tahun diagnosis pengeriputan otak. Sudah tes medis sitiscan, dari pengobatan," ucap Ibu Panggah, Puji Utami
Panggah Jalu Pawane, bocah laki-laki berusia 14 tahun ini hanya dapat terbaring lemah tak berdaya di atas kasur berukuran 120 × 200 cm.
Diruangan 2,5 X 1,5 meter, Panggah terpaksa menghabiskan masa kanak-kannaknya setelah di diagnosa mengidap penyakit pengeriputan otak dan gizi buruk hingga menyebabkan kehilangan motorik gerak tubuh dan membuatnya kaku tak berdaya.
Tragisnya, Panggah terpaksa harus makan melalui selang Nasograstik yang dipasangkan di lubang hidungnya untuk menyalurkan makanan agar masuk ketubuhnya.
"Usia 12 tahun diagnosis pengeriputan otak. Sudah tes medis sitiscan, dari pengobatan," ucap Ibu Panggah, Puji Utami dengan mata yang berkaca-kaca dimatanya di rumah kediamannya Gang Rukun, Jalan Swadaya I, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (25/11/2019).
Sang Ibu, dengan keikhlasan hati melayani anaknya dalam perjuangan untuk kembali sembuh dari penyakit yang dideritanya.
Mendengar gumaman yang berasal dari sang anak, Puji lantas bergegas mengarahnya dengan menyiapkan beberapa makanan ataupun minuman, sekaligus melakukan pengecekkan kondisi Panggah yang membuabg air besar atau kecil.
Sambil menyuapi anaknya dengan makanan biskuit sereal, Puji terus melapangkan dadanya dalam melihat kondisi anaknya yang semakin memburuk.
Sesekali Puji menceritakan, kisah anaknya sewaktu salam kondisi sehat bugar. Ia menagatakan, anaknya sempat gemar menggambar sewaktu masih di tingkat PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).
"Waktu kesehariannya sering main sama temannya. Di PAUD, dia pintar ikut lomba gambar dan lainnya," kenang Puji.
Sewaktu memasuki tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD), gejala-gejala kecil telah terlihat pada kondisi mental maupun tingkah laku Panggah.
Ditambah, kabar Panggah yang dinyatakan tak naik kelas 6 SDN Karet 01 Pagi, dikarenakn kondisi dirinya yang mulai tak mampu mengikuti ujian kenaikkan kelas.
Sang Ibu turut mengaku, kondisi mental Panggah diperparah setelah dirinya menikahi seseorang lelaki yang menjadi ayah tiri Panggah.
"Pas masuk SD dia mulai guncang, ditambah melihat saya menikah lagi. Dan melihat saya pernah dipukulin didepan dia sama ayah tirinya. Mundur mungkin mentalnya pas melihat saya digituin. Terus orangnya pendiam semenjak itu," jelasnya.
Sebelumnya, Panggah dinyatakan diagnosa pengeriputan otak saat dirinya sempat terjatuh dan menjalani perwatan di beberapa rumah sakit yang terdapat di kawasan Jakarta.
"Masuk RSUD Jati Padang saat 1 Desember 2018 pengeriputan otak. Awalnya jatuh, lalu kejang-kejang dibawa ke RS jati Padang dirujuk ke RSUD Koja, Jakarta Utara dirawat sampai tanggal 19 Desember 2018," katanya.
Hingga saat ini, Panggah hanya menjalani rawat jalan di kediamannya Gang Rukun, Jalan Swadaya I, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sembari sesekali diberi terapi motorik gerak tubuh yang telah dipelajari oleh Sang Ibu. (m23)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/anggah-jalu.jpg)