Breaking News:

Kolom Trias Kuncahyono

Kisah Ki Ageng Mangir

Kali ini Kanjeng Panembahan Senopati meletakkan pusakanya, tombak Kyai Pleret di atas batu tempat duduk, persis di bawah pahanya.

Editor: Achmad Subechi
KOMPAS.COM
Pertemuan Utiek Suprapti (Kanan) dan Bupati Bantul Suharsono (Krem) di Kantor Bupati Bantul Senin (18/11/2019). Foto: KOMPAS.COM/MARKUS YUWONO 

“Pisowanan” hari itu sangat istimewa. Biasanya, dalam pisowanan, yang sowan, menghadap raja adalah para kerabat raja, para nayaka praja, pejabat–dari pusat hingga daerah-daerah–para pemimpin daerah taklukan, dan para prajurit.

Tetapi, kali ini ada tokoh penting yang hadir dalam pisowanan yang digelar Raja Kerajaan Mataram Kanjeng Panembahan Senopati (berkuasa 1587 – 1601):  Ki Ageng Mangir Wanabaya.

Kali ini Kanjeng Panembahan Senopati meletakkan pusakanya, tombak Kyai Pleret di atas batu tempat duduk, persis di bawah pahanya.

Ketika itu, Adipati Tanah Perdikan Mangir (sekarang masuk wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta), Ki Ageng Mangir Wanabaya yang sebelumnya tidak mau tunduk dan mengakui kekuasaan Mataram, menghadap untuk menghaturkan sembah bekti kepada Kanjeng Panembahan Senopati.

Ki Ageng Mangir menghadap sebagai menantu setelah memperistri R.Ay Pembayun, putri Panembahan Senopati.

Djoko Surya dalam Kisah Senapati-Ki Ageng Mangir dalam Historiografi Babad , menulis ada tiga versi Babad Mangir. 

Yakni, Serat Babad Mangir susunan Raden Ngabehi (R.Ng.) Soeradipoera (Suradipura), Babad Mangir alih aksara Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta, dan Babad Bedhahing Mangir dari Museum Sonobudoyo Yogyakarta.

Kisah dalam Babad Mangir, pada dasarnya berkisar pada masalah pembangkangan Ki Ageng Mangir terhadap raja Mataram.

Ki Ageng Mangir tidak mau datang menghadap ke istana di Kota Gede, sekalipun daerah-daerah lain telah tunduk menyerah kepada Panembahan Senopati, seperti daerah Kedu, Bagelen, Pati, Jepara, Kediri, Pajang dan Semarang.

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam drama tiga babak Mangir (1976) yang ditulisnya, menggambarkan Ki Ageng Mangir sebagai seorang pemimpin yang lemah, lengah dengan kehadiran wanita di sampingnya.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved