Kasus First Travel

Emosi Sidang Perdata Ditunda, Korban First Travel Pukul Meja dan Minta Hak Dikembalikan

Ditundanya sidang perdata yang menggagendakan putusan perkara aset First Travel membuat marah para jamaah yang sudah datang.

Wartakotalive.com/Vini Rizki Amelia
Eni Rifqiah salah seorang korban First Travel yang kecewa majelis hakim menunda sidang perdata putusan perkara First Travel di PN Depok, Cilodong, Senin (25/11/2019). 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Vini Rizki Amelia

DEPOK,WARTAKOTALIVE.COM - Ditundanya sidang perdata yang menggagendakan putusan perkara aset First Travel membuat marah para jamaah yang sudah datang.

Eni Rifqiah, koordinator jamaah mengatakan, dirinya dan jamaah lain sudah menunggu lama hasil perkara yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Depok sejak Agustus 2019.

Namun nyatanya, kedatangan Eni dan sesama jamaah sejak pagi dibayar dengan penundaan sidang.

"Kami semua tentu kecewa, bisa dibayangkan katanya mau musyawarah tapi kenapa di tunda. Bayangkan, kami sudah mengikuti sidang ini sejak 4 Maret 2019 lalu atau kurang lebih tujuh bulan lamanya," ujar Eni kepada wartawan di Pengadilan Negeri Depok, Cilodong, Depok, Senin (25/11/2019).

suasana ruang sidang saat Majelis Hakim yang diketuai Ramon Wahyudi dan beranggotakan Yulinda Trimurti serta Nugraha Medica Prakarsa memutuskan sidang perdata putusan aset First Travel ditunda di ruang sidang utama, Pengadilan Negeri Depok, Cilodong, Senin (25/11/2019).
suasana ruang sidang saat Majelis Hakim yang diketuai Ramon Wahyudi dan beranggotakan Yulinda Trimurti serta Nugraha Medica Prakarsa memutuskan sidang perdata putusan aset First Travel ditunda di ruang sidang utama, Pengadilan Negeri Depok, Cilodong, Senin (25/11/2019). (Wartakotalive.com/Vini Rizki Amelia)

Eni mengaku, dirinya dan jamaah lain selalu mengawal jalannya sidang demi sidang, mulai dari sidang pidana hingga perdata.

Seluruh mekanisme hukum ditempuh demi mendapatkan kembali hak para korban yang dijanjikan akan berangkat Umroh.

Pil pahit bahkan harus ditelat bulat-bulat oleh Eni yang mengaku mewakili 3.207 jamaah dengan total kerugian mencapai Rp 49 miliar lebih, setelah kuasa hukum mereka, Riesqie Ramadiansyah meninggal pada 12 Agustus 2019.

"Kami, disini tanpa kuasa hukum sepeninggal kuasa hukum kami yang berjuang bersama meninggal dunia beberapa waktu lalu. Jadi, kami memperjuangkan kelompok kami," bebernya.

Sedangkan korban lainnya yakni Zulherial mengatakan, dirinya emosi mengikuti sidang yang akhirnya ditunda lantaran majelis hakim mengaku belum selesai bermusyawarah.

Halaman
12
Penulis: Vini Rizki Amelia
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved