Breaking News:

Teror Penyiraman Cairan Kimia

Rekonstruksi Kasus Penyiraman Cairan Kimia Akhirnya Digelar di Mapolda Metro Jaya

Rekonstruksi Kasus Penyiraman Cairan Kimia, Akhirnya Digelar di Mapolda Metro Jaya

Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Rekonstruksi kasus penyiraman cairan kimia digelar di Mapolda Metro Jaya, Kamis (21/11/2019). 

"Kenapa korbannya harus perempuan. Karena ia merasa waktu sakit akibat terjatuh pada 2015 lalu dan luka di kepala, kakaknya perempuan dianggap olehnya tidak memperhatikan dia. Sehingga dia memilih korbannya adalah perempuan, dan secara acak," kata Gatot.

Meskipun kata Gatot, dari keterangan kakak pelaku yang perempuan, didapati sang kakak membantah ia tak memperhatikan adiknya saat sakit dan dirawat di rumah sakit.

"Karenanya masih kita dalami lagi, motif sebenarnya tersangka. Yang ada saat ini masih motif sementara. Apakah ada motif lain atau seperti apa, masih didalami," kata Gatot.

Gatot mengatakan dari hasil pengembangan pemeriksaan ke pelaku, terungkap bahwa pelaku sudah 4 kali beraksi. Ini artinya ada satu aksi yang tidak dilaporkan ke polisi.

Aksi FY yang tidak dilaporkan ke polisi itu adalah pada 3 November 2019 lalu.

"Dari pengembangan pemeriksaan yang dilakukan, ternyata sebelumnya, yakni tanggal 3 November, pernah sekali ia melakukan penyiraman air kimia," kata Gatot.

"Jadi ada 4 kali sebenarnya tersangka melakukan penyiraman. Tapi karena soda api dan air, campurannya terlalu sedikit pada penyiraman 3 November itu, tidak ada berdampak pada korban dan tidak ada yang melapor ke Polsek Kebon Jeruk atau Polres Jakarta Barat," kata Gatot.

Barulah pada penyiraman air kimia berikutnya atau yang kedua sampai keempat kata Gatot, ada dampak yang dialami korban sehingga membuat laporan ke polisi.

Dari sanalah polisi berhasil mengungkap kasus ini dan membekuk pelaku.

"Penyiraman air kimia yang pertama itu dan tak berdampak pada korban, dilakukan pelaku tak jauh dari Polsek Kebon Jeruk. Jadi pengakuan tersangka ia sudah 4 kali melakukan penyiraman," kata Gatot.

Mengenai motif pelaku yang dibeberkan polisi sebelumnya yakni karena pelaku pernah jatuh dan tak diperhatikan keluarga sehingga melakukan penyiraman agar orang lain merasakan penderitaan yang sama, menurut Gatot masih merupakan motif sementara.

"Untuk motif pastinya semua masih didalami kembali, dengan melibatka ahli kejiwaan atau psikolog," kata Gatot.

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor:
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved