Minta Polemik Ucapan Sukmawati Dimediasi, Maruf Amin: Kita Sudah Terlalu Sering Ribut

Maruf Amin meminta polemik ucapan Sukmawati Sukarnoputri yang diduga membandingkan Nabi Muhammad SAW dan Soekarno, diselesaikan lewat jalur mediasi.

Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Sukmawati Soekarnoputri berjalan usai berbicara kepada wartawann di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/4/2018). Ia meminta maaf dan mengatakan tidak berniat menghina umat Islan Indonesia dengan puisi yang dibacakannya pada saat pageralan 29 tahun Anne Avantie. Dia mengaku sebagai seorang muslimah yang bersyukur dan bangga akan keislamannya. Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha 

WAKIL Presiden Maruf Amin meminta polemik ucapan Sukmawati Sukarnoputri yang diduga membandingkan jasa Nabi Muhammad SAW dan Soekarno, diselesaikan lewat jalur mediasi.

"Penyelesaiannya sebaiknya kalau bisa dimediasi, itu lebih bagus, supaya kita tidak terus berhadapan."

"Cobalah saya usulkan untuk dimediasi saja. Kita ini sudah terlalu sering ribut-ribut," katanya, di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (20/11/2019).

Ini Tujuan Ade Armando Posting Meme Anies Baswedan Berwajah Joker

Menurut Maruf Amin, ucapan yang berakhir kontroversial itu memang tidak tepat dikeluarkan, lantaran tidak relevan dibandingkan.

"Memang tidak tepat membandingkan Bung Karno dengan Nabi Muhammad SAW, itu tidak tepat."

"Zamannya berbeda, ketokohannya berbeda. Bung Karno sendiri nabinya Nabi Muhammad SAW," kata Ketua MUI ini.

Minta Pegawainya Tak Berkopiah Saat Tugas, Ketua KPK: Bayangkan Kalau yang Ditangkap dari Agama Lain

"Bung Karno juga mengaku nabinya Nabi Muhammad SAW, dia muslim. Membandingkan Nabi Muhammad dengan Soekarno itu tidak sebanding, tidak tepat," paparnya.

Berkaca dari kasus tersebut, Maruf Amin meminta siapa pun untuk tidak mengeluarkan ucapan yang mengandung muatan sensitif.

"Bikinlah narasi-narasi yang membawa kerukunan, jangan narasi konflik. Baik agama maupun pandangan-pandangan yang bisa menimbulkan konflik itu dijauhkan."

Ade Armando Siap Mediasi dengan Fahira Idris, tapi Takkan Berhenti Kritik Anies Baswedan

"Gimana membangun narasi-narasi yang memang membawa kerukunan, keutuhan, kesatuan, kasih sayang, saling mencintai," harap Maruf Amin.

Sebelumnya, Sukmawati Sukarnoputri, putri Proklamator RI Soekarno, mengaku jengkel dengan maraknya bendera hitam bertuliskan Arab, yang kerap dikibarkan kelompok tertentu di Indonesia.

Kejengkelan itu ia ungkapkan saat menghadiri diskusi bertajuk 'Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme', Senin (11/11/2019).

Awalnya, pemilik nama lengkap Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri itu membahas perjuangan Bangsa Indonesia melawan pasukan asing di Surabaya pada November 1945 silam.

 Partai NasDem Targetkan Jadi Jawara Pemilu 2024, Pengurusnya Bakal Sampai Desa dan Kelurahan

Ia menyatakan, tentara Indonesia berjuang keras mengalahkan penjajah dengan peralatan seadanya. Hingga akhirnya, tentara Indonesia bisa mengibarkan bendera merah putih.

"Kita rakyat Indonesia hanya seadanya dan senjata dari Jepang dan bambu, keris golok dan segala macem," ucapnya di Gedung The Tribrata, Jalan Dharmawangsa III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

"Para pahlawan itu naik ke suatu gedung, berkibarlah bendera merah putih biru atau benderanya Belanda."

 Patrice Rio Capella Komentari Partai Nasdem, Anak Buah Surya Paloh Berniat Laporkan ke Polisi

"Kemudian mereka ambil itu bendera dan mereka robek warna biru dan dinaikkan lagi merah putih."

"Berkibarlah bendera merah putih untuk merdeka atau mati," tuturnya.

Sukmawati pun menanyakan mengapa saat itu tidak ada bendera hitam yang bertuliskan Arab.

 Prabowo Baru Tahu Indonesia Sudah Bisa Buat Bahan Pendorong Roket

Di situ, ia mengungkapkan kekesalannya kepada para oknum yang justru ingin mendirikan negara khilafah.

"Saya ingin bertanya lagi, di mana itu bendera hitam dengan tulisan Arab? Di mana?"

"Kok ujuk-ujuk sekarang berkibar-kibar seolah-olah mau mendirikan Negara Islam atau khilafah?" paparnya.

 Prabowo Minta Rapat Kerja Bareng Komisi I Digelar Tertutup, Sempat Debat dengan Effendi Simbolon

Dalam kesempatan itu, Sukmawati menyebut pihak-pihak tersebut sebagai orang yang durhaka dan kurang ajar terhadap perjuangan bangsa.

"Waktu kita bertempur penuh darah dan tangis keringat, ke mana mereka?"

"Jadi mungkin Pak NU bisa menjawab. Kok kurang ajar, durhaka, dan kualat?"

 Pekan Lalu Sri Mulyani Sebut Ada Desa Fiktif Terima Dana Pemerintah, Kini Bilang Sudah Hilang

"Sedih, jengkel kalau melihat kenyataan yang ada ketika saya sudah nenek-nenek. Kok masih ada ya?" ucapnya.

Sukmawati lantas menyatakan kesal dengan maraknya tindakan radikalisme di Indonesia.

Apalagi, kelompok tersebut kerap membenturkan Alquran dan Pancasila.

 Surya Paloh Lantik Dirinya Sendiri Setelah Terpilih Lagi Jadi Ketua Umum Partai Nasdem

Sukmawati pun kemudian menanyakan balik, mana yang lebih berjasa merebut kemerdekaan Indonesia, antara Muhammad SAW dan Soekarno.

Awalnya, Sukmawati berbicara mengenai tragedi Perguruan Cikini (Percik) yang terjadi pada 30 November 1957.

Ia menyebutkan, kejadian yang juga menimpa ayahnya, Soekarno itu, menjadi awal mula terjadinya terorisme di Indonesia.

 DAFTAR Lengkap Pengurus DPP Partai NasDem 2019-2024: Anak Surya Paloh Pegang Jabatan Penting

"Di dalam perjuangan membangun bangsa dan negara Indonesia ini."

"Saya dari kecil umur 6 tahun, saya menjadi saksi hidup mulai adanyanya terorisme," ungkap Sukmawati.

Ketika itu, ia bercerita, Soekarno diserang oleh kalangan terorisme yang menggunakan granat saat mengunjungi Percik untuk membuka bazar.

 Ketum Pertama Nasdem Bilang Manuver Surya Paloh Memalukan, Sebut karena Kehilangan Kursi Jaksa Agung

Kedatangan Soekarno kala itu justru disambut oleh ledakan granat.

"Bung Karno diundang untuk membuka bazar. Bazar sudah siap sedia untuk menyambut Presiden datang."

"Presiden itu turun dari mobil anak-anak, sekolah, guru dan lain sebagainya. Begitu turun (ledakan)," ungkapnya.

 Rizieq Shihab Klaim Dicekal, Mahfud MD Minta Dikirimkan Surat Fotokopiannya

"Mereka itu atau orang yang Islam sempit pikiran, yang hanya melihat paling mulia adalah yang mulia Nabi Muhammad dan hanya boleh Alquran dan hadis."

"Lain pengetahuan, lain ilmu, atau apa itu kafir, toghut," sambungnya.

Ia menyatakan, hingga saat ini, orang yang disebutnya sebagai kalangan radikalis masih kerap eksis.

 Kasus Novel Baswedan Tak Kunjung Terungkap, Haris Azhar Sebut Jokowi Martabak Spesial Isi Janji

Menurutnya, kelompok tersebut juga suka mengafirkan orang lain.

"Oh ini loh yang dimaksud pemimpin saya atau bapak saya ya, Bung Karno, kelompok sempit pikiran yang suka royal dengan kata-kata kafar kafir kafar kafir."

"Jadi zaman Bung Karno kelompok sempit pikiran itu sudah ada, sampai saya nenek-nenek masih ada," tuturnya.

 Ini Makna Logo Partai Gelora yang Mirip Perindo, Tiga Pimpinannya Mantan PKS

Dalam kesempatan itu, ia menyatakan geram dengan tingkah kaum radikalis.

"Kalau untuk merekrut yang namanya hijrah kek atau calon radikalis, katanya infonya, itu ditanya mana lebih bagus Pancasila sama Alquran," terangnya.

"Sekarang saya mau tanya, yang berjuang di abad 20 itu nabi yang mulia Muhammad atau Insinyur Soekarno? Untuk kemerdekaan Indonesia?" Tanyannya.

 Bilang Partai NasDem Berubah Jadi Restoran Politik, Patrice Rio Capella Dianggap Politikus Cengeng

Pertanyaan tersebut sempat ingin dijawab oleh beberapa peserta diskusi. Salah satu yang diperbolehkan menjawab ialah mahasiswa UIN, Jakarta, Maulana.

"Memang benar, pada saat awal abad ke-20 itu yang berjuang adalah insinyur Soekarno.....," jawab Maulana.

"Sudah cukup saya tanya itu saja," potong Sukmawati.

 Polisikan Novel Baswedan, Dewi Tanjung Bantah Numpang Tenar

Ia kemudian melanjutkan paparannya mengenai radikalisme.

Menurutnya, ia keberatan dengan adanya anggapan seorang muslim tidak boleh menghormati sosok selain Nabi Muhammad.

"Memangnya kita tidak boleh menghargai, menghormati orang-orang mulia di awal-awal atau di abad modern? Apakah yang selalu menjadi suri tauladan itu hanya nabi-nabi?" Tanyannya.

 Bukan Cuma Novel Baswedan, Ini Orang-orang yang Pernah Dipolisikan Politikus PDIP Dewi Tanjung

"Ya oke nabi-nabi, tapi perjalanan sejarah seperti revolusi industri, apakah kita tidak boleh menghargai seperti Thomas Jefferson, Thomas Alfa Edison, orang-orang mulia untuk kesejahteraan manusia?"

"Saya pikir-pikir Anda tidak benar kalau untuk tidak menghargai dan menghormati mereka-mereka yang berbudi mulia," bebernya. (Rina Ayu)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved