Breaking News:

Pangan

Impor Beras Ketan Dinilai Mengingkari Produksi Dalam Negeri

Apalagi, masa panen padi biasa maupun beras ketan akan terjadi dalam waktu dekat yaitu pada awal tahun.

Editor: Ahmad Sabran
Tribunnews.com/Herudin
ILUSTRASI - Buruh angkut menata karung-karung beras Bulog asal Vietnam 

Pengamat ekonomi Indef Berly Martawardaya menilai rencana impor beras ketan bisa mengingkari hasil produksi dalam negeri para petani lokal.

Berly dalam pernyataan di Jakarta, Rabu, mengatakan rencana itu seharusnya disertai oleh data produksi maupun pasokan yang akurat.

Apalagi, masa panen padi maupun beras ketan akan terjadi dalam waktu dekat yaitu pada awal tahun.

"Kalau stok beras ketan tersedia sampai ke panen berikutnya tidak perlu impor. Apalagi sekitar tiga bulan lagi mau panen, tinggal lihat data BPS apakah sudah tahap membutuhkan atau tidak," katanya seperti dikutip dari antaranews.com.

Ketua Asosiasi Lumbung Pangan Jawa Timur Suharno juga menyampaikan bahwa impor tersebut belum mendesak karena saat ini banyak beras dan gabah di penggilingan yang masih menumpuk dan tidak bisa dijual.

"Kalau impor jadi, ini akan menyebabkan gairah untuk bertani menjadi loyo, petani tidak akan semangat. Sedangkan impor yang lama saja masih mempengaruhi distribusi beras saat ini," ujarnya.

Untuk itu, ia menambahkan, jika impor beras ketan itu jadi dilakukan, maka pemerintah tidak mementingkan produksi hasil tanam petani lokal.

"Harusnya petani ditingkatkan lagi untuk bertanam (beras ketan) daripada impor. Konsep itu yang harus di wujudkan untuk swasembada pangan," katanya.

Sementara Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi mengatakan, langkah permintaan impor menunjukkan bahwa Perum Bulog, tidak takut dengan ancaman sanksi dari Jokowi.

“Kalau dilakukan impor beras ketan, berani sekali itu Bulog, atau Kemendag, tidak takut dengan acaman akan 'digigit' 'big bos' mereka, Jokowi. Kalau impor dilakukan, benar benar sudah melanggar perintah Presiden Jokowi, dan hanya menghabiskan devisa saja,” ujar Uchok kepada wartawan, Rabu (20/11/2019).

Menurut Uchok, Bulog harusnya paham, langkah impor ini akan berdampak pada defisit pada neraca perdagangan. Ia mengusulkan agar Presiden Jokowi merealisasikan ancamannya "digigit" itu. 

Sebelumnya, Sekretaris Perum Bulog, Awaluddin Iqbal mengatakan salah satu alasan rencana impor beras ketan sebanyak 65.000 ton karena komoditas ini belum mampu dipenuhi oleh petani lokal.

Awaluddin menambahkan petani dalam negeri tidak banyak yang menanam beras ketan sehingga pasokan terbatas padahal permintaan cukup besar terutama dari industri makanan.

"Kalau beras biasa, kita stok sangat berlimpah, Pak Dirut (Perum Bulog) juga sudah katakan tidak akan impor beras biasa. Tetapi komoditas khusus yang lain bisa," ujarnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved