Sisi Lain Jakarta

Bagaimana Penjualan Pedagang Buah di Jalan Barito?

Jalan-jalan sambil bersantai di Taman Ayodya, jangan lupa untuk membeli buah segar untuk dibawa pulang yang dibeli di Jalan Barito.

Bagaimana Penjualan Pedagang Buah di Jalan Barito?
Kontan.co.id/Tri Sulistiowati
Pedagang buah di Jalan Barito, Jakarta Selatan. 

Memang, berdasarkan reportase Kontan, sebagian pedagang juga tinggal di kiosnya.

Seperti Surayem mengaku beberapa tahun belakangan tidur dan melakukan aktivitas sehari-hari di kiosnya.

Surayem beralasan tinggal di kios supaya lebih hemat.

Dikenal sebagai Investor Saham, Apakah Warren Buffett Investasi di Emas?

Turunnya omzet dan kian tingginya biaya hidup memaksanya untuk mengambil keputusan ini.

Apalagi, dia dan suaminya takut, kiosnya dilanda banjir dari luapan saluran air di bawah kios.

Sebelum menghuni kiosnya, Surayem bersama suami menyewa kamar kos di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, untuk tempat tinggal.

Hidup dalam kios, bukanlah pengalaman pertama bagi Surayem.

Sekitar tahun 1977, saat menempati sentra buah di kawasan Hang Tuah, Jakarta Selatan, dia bersama ibunya juga memanfaatkan kiosnya sebagai tempat tinggal.

Surayem pun mengaku pasrah bila Pemprov benar-benar akan merelokasi kios mereka tanpa ada ganti rugi.

Namun, sampai hari ini, dia belum mendapatkan sosialisasi resmi dari dinas terkait rencana tersebut.

"Memang saya sudah banyak mendengar dari tukang bersih-bersih di taman belakang sini (Taman Langsat) kalau rencana itu sudah disetujui oleh wali kota, tapi belum ada petugas yang kesini untuk bicara," katanya kepada Kontan.

Sekadar info, para pedagang menempati kios tersebut secara cuma-cuma.

Namun, saban bulan, mereka harus menyiapkan uang sekitar Rp 30.000 untuk membayar keamanan, kebersihan,dan jaga malam.

Senada dengan Surayem, Yanti memberikan persetujuan dengan rencana relokasi pedagang di Jalan Barito I.

Asalkan, dia dan ibunya mendapat tempat baru untuk berdagang.

Untung-Rugi Melakukan Transaksi Pakai Aplikasi Keuangan

Namun, sampai sekarang, dia belum mendapatkan kunjungan dari dinas untuk sosialisasi dan rencana kepindahan mereka.

Kabar tersebut didengarnya dari obrolan tukang kebersihan taman.

Memang berdasarkan rencana, Taman Langsat dan Taman Leuser bakal di renovasi dan dijadikan taman wisata.

Namun, belum diketahui pasti dimana posisi tepatnya kios-kios mereka bakal ditempatkan.

Berbeda dengan lainnya, Yanti dan ibunya memilih untuk tidak bermalam dalam kios.

Karena kondisinya yang kurang nyaman dan tergolong tidak layak.

Terlihat dari atap kios yang bolong dibeberapa sisi.

Saban hari, dia harus menyiapkan uang sebesar Rp 9.000 untuk membayar biaya jaga malam, kebersihan dan ketertiban.

Sehari-hari, Yanti membuka kios buah dan parsel barang pecah belah ini mulai pukul 07.00 WIB sampai dengan 23.00 WIB.

Selain menyediakan parcel yang sudah jadi, konsumen juga dapat memesan parsel sesuai keinginan.

Untuk pilihan ini, mereka menyiapkan aneka buah segar yang dijual per kilogram.

Di Balik Jajanan Kekinian, Diabetes Mengancam

Dengan begitu pelanggan bisa memilih buah sesuai selera dan dikemas dalam hitungan menit. Parcel buah pun siap dibawa.

Luruhnya nilai tukar rupiah terhadap dollar beberapa waktu lalu, berimbas pada harga buah impor.

Apel merah dan apel fuji pun mengalami kenaikan.

Yanti mengatakan, kenaikan itu sudah hampir sebulan.

Jika sebelumnya, harga apel fuji Rp 350.000 per dus, kini menjadi Rp 500.000 per dus.

Yanti pun terpaksa menaikkan harga jual parsel 10 persen-20 persen dari biasanya.

Selain kenaikan harga ini, Yanti juga bercerita soal kunjungan ke kiosnya yang menurun sejak tahun lalu.

Ia bilang, ketiadaan tempat parkir sejak ada pelebaran trotoar jadi penyebabnya.

"Konsumen jadi malas ke sini karena susah parkir," jelasnya.

Lantas, Yanti pun memanfaatkan marketplace untuk mempertahankan roda bisnisnya terus berjalan.

Meski permintaan dari penjualan online belum banyak, pemasukannya bisa untuk menambal biaya hidup sehari-hari.

Untuk persiapan Natal dan Tahun Baru, Yanti pun mulai mengumpulkan aneka kue kering dan berbagai koleksi perabot pecah belah.

Rencananya, barang-barang tersebut bakal dipajang dalam kios mulai awal bulan Desember.

Dia bilang, biasanya puncak belanja parcel Natal sekitar dua atau tiga sebelum 25 Desember.

Namun, Yanti tidak mematok target penjualan tinggi karena permintaan parcel Natal tidak setinggi parcel Idul Fitri.

Rata-rata permintaan parcel hanya puluhan unit.

Surayem merasakan hal yang sama.

Semenjak kurs dollar AS meroket harga buah impor ikut-ikutan naik.

Apel merah yang biasanya dibeli dari pemasok dengan harga Rp 400.000 per dus naik menjadi Rp 600.000 per dus.

Efeknya, dia harus menaikkan harga jual buah segar curah dan parcel buahnya lebih dari 10 persen.

Perempuan dengan rambut bercat ini mengaku cukup kesulitan menjual parcel buah-buahan segar miliknya.

Bukan hanya karena kenaikan harga, tapi tak adanya tempat parkir di kiosnya.

Dia bercerita semenjak trotoar dilebarkan, konsumennya enggan belanja ke kiosnya dengan alasan susah mencari tempat parkir.

Belum lagi, saat jam-jam tertentu jalanan di kawasan Barito I macet sehingga pembeli enggan berhenti dan turun dari kendaraannya.

"Saya jadi susah, penjualan turun drastis. Saya sudah melapor ke Dinas Pekerjaan Umum dan wali kota tapi belum mendapatkan tanggapan," jelasnya sambil menangis.

Mendekati bulan Desember masa-masa menjelang Natal, Surayem belum mempersiapkan barang-barang parsel.

Dia akan mulai belanja aneka kue kering, minuman pada pertengahan bulan November.

Dan, bakal memajang parcel Natalnya dua minggu sebelum perayaan Natal tiba.

Dia mengaku selama bulan Desember permintaan parsel Natal hanya mencapai belasan sampai puluhan.

Itupun, pembelinya adalah para pelanggan setia.

YLKI Desak Grab Hentikan Menyewakan Skuter Listrik

Berita ini sudah diunggah di Kontan dengan judul Apa kabar kios buah Jalan Barito?

Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved