Wisata Indonesia
Tiusa, Gunung Karang Penuh Tantangan di Samudra Indonesia
Banyak tempat di Indonesia sangat cocok menjadi destinasi wisata, namun sayangnya tempat tersebut masih "tersembunyi" alias belum terkenal.
Banyak tempat di Indonesia sangat cocok menjadi destinasi wisata, namun sayangnya tempat tersebut masih "tersembunyi" alias belum terkenal.
Salah satunya adlah Kepulauan Banyak diKabupaten Aceh Singkil, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.
Sesuai namanya, sudah pasti sajian yang langsung terlihat di tempat ini pantai dengan laut biru yang jernih.
Namun, Kepulauan Banyak tak melulu menawarkan pantai dengan hamparan pasir selembut bedak, serta pemandangan bawah laut bagai akuarium raksasa.
Gunung para raja
Pulau Tuangku, gugusan pulau terbesar di Kecamatan Pulau Banyak Barat, memiliki destinasi wisata berbeda.
Sebagaimana diwartakan Serambi Indonesia, di sana ada aktivitas jelajah hutan menuju puncak Gunung Tiusa, yang merupakn gunung warisan para raja.
Reporter Serambi Indonesia, Dede Rosadi, mendaki gunung ini bersama anggota komunitas pencinta alam Pulau Banyak Barat, dan menceritakan pengalamannya.
Hutan di Pulau Tuangku ini bisa dibilang masih perawan, mengingat tak banyak orang yang datang ke sana.
Karena itu, tak mengherankan jika di sepanjang perjalanan terdengar suara aneka jenis burung.
Sangat terjal
Bukan itu saja tawaran seru yang akan diperoleh, sebab sajian utamanya adalah tantangan yang cocok bagi mereka para adrenaline junkie.
Gunung itu tingginya hanya sekitar 300 meter, namun medannya yang membuat adrenalin terpacu.
Untuk mencapai puncak Tiusa hanya ada satu rute yang bisa didaki tanpa alat bantu. Itu pun sangat terjal, dengan kemiringan medan antara 75 derajat sampai 85 derajat.
Selebihnya berupa tebing batu karang. Harus ekstra hati-hati serta butuh fisik prima ketika naik maupun turun gunung ini.
Saat perjalanan dimulai, medannya masih datar. Namun, tak sampai sejam kemudian medan berubah drastis menjadi terjal, sehingga pendakian dilakukan dengan cara semi memanjat.
Kerja keras dimulai. Tenaga langsung terkuras banyak, otot paha kaki tertarik ketika terus menerus merayapi tebing.
Penuh tipuan
Naas, dinding karang menghadang di hadapan. Rupanya rombongan salah jalan, sehingga mereka harus turun lagi.
Itulah tantangan lain Puncak Tiusa, yakni para pendaki harus menemukan jalan menuju puncak Tiusa.
Pepohonan tumbuh rapat dan mirip satu sama lain, membuat jalan setapak menuju puncak Tiusa tersembunyi.
Setelah jalan yang benar ditemukan, rombongan tak sempat tersenyum lama-lama sebab mereka kmbali harus mengatur napas dan keseimbangan.
Jalur itu merupakan punggungan gunung karang yang terjal. Tingkat kesulitannya tak berhenti sampai di situ, sebab lebar punggungan itu hanya cukup untuk meletakkan sebelah kaki. Di kiri dan kanannya terbentang jurang.
Menurut Dede, sinar Matahari tepat di ubun-ubun kepala ktika mereka tiba di puncak pertama Tiusa.
"Puncak berupa batu karang persis di tepi jurang, yang bergoyang ketika mendapat beban," tulisnya.
Puncak sesungguhnya mereka capai 20 menit perjalanan dari Puncak Satu. Terbayar sudah kerja keras para pendaki ini.
Laut biru tosca
Untuk diketahui, Puncak Tiusa merupakan bukit hutan tropis di pulau yang terletak di Samudra Indoneia.
Maka, ketika sampai di puncak, pendaki akan mendapat suguhan pemandangan luar biasa. Hamparan pulau-pulau kecil menyembul di permukaan air laut berwarna biru tosca.
Belaian angin dan hamparan pulau yang mempesona mata, membuat Dede dan rekan-rekannya enggan beranjak dari tempat itu.
Gunung Tiusa ini memiliki sebutan gunung para raja. Penyebabnya, di Pulau Tuangku berdiri kerajaan kecil sejak abad ke-17.
Berdasarkan literatur serta kisah lisan warga setempat, Pulau Tuangku pernah diperintah oleh enam raja.
Raja pertama bernama Sutan Malingkar Alam, sedangkan raja terakhir bernama Sutan Umar atau Tuangku Umar.
Nama Pulau Tuangku diambil dari nama penguasa terakhir.
"Kerjaan ini berdiri sendiri," kata Herlin, keturunan ketujuh panglima perang pertama kerjaan yang mendiami Pulau Tuangku.
Untuk mencapai Pulau Tuangku, para pelancong bisa naik kapal kayu dari Singkil, ibu kota Kabupaten Aceh Singkil.
Cara lainnya adalah naik kapal feri ke Pulau Banyak, lalu melanjutkan perjalan ke Pulau Banyak Barat.
Mengingat medannya angat sulit dan penuh tipuan, pastikan mendaki dengan menggunakan jasa pemandu setempat. Rombongan Dede ditemani oleh Rehan, pemuda setempat.
• Menemukan Cerita Perdagangan Zaman VOC di Museum Bahari
• Siapa Berani Wisata ke 10 Tempat Angker di Jakarta?
Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul "Sensasi Taklukkan Puncak Tiusa, Gunung Para Raja di Pulau Banyak Barat Aceh Singkil"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/pendaki-di-puncak-tiusa.jpg)