Isu Makar

Sebut Kasusnya Rekayasa, Kivlan Zen: Saya Tidak Bersalah 100 Persen

MAYOR Jenderal TNI (Purnawirawan) Kivlan Zen mengklaim kasus kepemilikan senjata api dan amunisi ilegal yang menjeratnya, merupakan hasil rekayasa.

Sebut Kasusnya Rekayasa, Kivlan Zen: Saya Tidak Bersalah 100 Persen
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen (Purn) Kivlan Zen menjalani sidang perdana kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jakarta, Selasa (10/9/2019). Kivlan Zen ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus makar dan kepemilikan senjata api ilegal. 

"Dan saya harus baca pembelaan. Kalau saya tidak baca, dakwaan itu benar bahwa saya lakukan. Saya lakukan pembelaan eksepsi," tambahnya.

Sebelumnya Wartakotalive memberitakan, Wiranto dan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, menjadi target operasi dari kelompok yang dibentuk terdakwa Kivlan Zen.

Hal ini terungkap di sidang pembacaan surat dakwaan atas kasus kepemilikan senjata api (senpi) ilegal dan amunisi yang menjerat terdakwa Kivlan Zen.

"Saksi Helmi Kurniawan menyerahkan uang Rp 25 juta yang berasal dari terdakwa (Kivlan Zen) kepada saksi Tajudin," ungkap Fatoni, Jaksa Penuntut Umum (JPU).

 Dukung Anies Baswedan Trotoar Bisa Dipakai Berdagang, Keponakan Surya Paloh: Apa Masalahnya?

"Sebagai biaya operasional survei dan pemantauan guna memata-matai Wiranto dan Luhut Binsar Panjaitan," imbuh Fatoni, saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

Kasus kepemilikan senpi ilegal dan peluru tajam itu berawal dari pertemuan Kivlan Zen dengan Helmi Kurniawan di Monumen Lubang Buaya Jakarta Timur, 1 Oktober 2018 sekira pukul 14.00 WIB

Kivlan Zen meminta Helmi Kurniawan mencarikan senpi ilegal serta menjanjikan akan mengganti uang pembelian tersebut.

 Konferensi PostgreSQL 2019 di Bali, Darah Segar Pertumbuhan Ekosistem Open Source di Indonesia

Selanjutnya, Helmi memperkenalkan Kivlan Zen dengan Tajudin.

Untuk memenuhi permintaan Kivlan Zen, Helmi menemui saksi Asmaizulfi di kantor Cawang Kencana Lantai 9.

Asmaizulfi menawarkan satu pucuk senpi laras pendek jenis Taurus tanpa peluru, yang tidak dilengkapi surat-surat resmi dari pejabat yang berwenang, seharga Rp 50 juta.

 Video Syur Hebohkan Sumedang, Diduga Disebarkan Pemeran Pria karena Kesal Ajakan Menikah Ditolak

"Pada 13 Oktober 2018 sekira pukul 12.00 WIB, Asmaizulfi menemui Helmi di daerah Curug Pekansari Cibinong, dan menyerahkan satu pucuk Senjata Api jenis Revolver Merk Taurus Kaliber 38 mm."

"Helmi menyerahkan uang Rp 50 juta sebagai pembayaran senpi," ungkap Jaksa.

Selanjutnya, Helmi melaporkan kepada Kivlan Zen melalui handphone, telah mendapatkan satu pucuk senpi laras pendek jenis Taurus dari saksi Asmaizulfi, dan telah mengeluarkan uang sebesar Rp 50 juta.

 10 Calon Pimpinan KPK Harus Teken Surat Pernyataan Bermeterai, Setuju Atau Tidak Revisi UU KPK

Lalu, Kivlan Zen memerintahkan agar senpi disimpan terlebih dahulu dan akan digunakan jika dibutuhkan.

Pada 9 Februari 2019 sekira pukul 12.00 WIB, Kivlan Zen bertemu Helmi dan Tajudin di lantai 2 Rumah Makan Padang Sederhana Kelapa Gading.

Pada kesempatan itu, Kivlan Zen menyerahkan uang 15.000 dolar Singapura yang berasal dari pemberian saksi, Habil Marati.

 Bantah Isu Pelemparan Ular ke Asrama Mahasiswa Papua, Wiranto: Kalau Benar Ada, Tangkap Lalu Disate

Kivlan Zen meminta Helmi menukarkan uang di Money Changer dalam bentuk rupiah.

Kemudian, Helmi menukarkan uang sebesar 15.000 dolar Singapura di Money Changer Dollar Time Premium Forexindo dengan nilai sebesar Rp 151,5 juta.

"Terdakwa mengambil uang Rp 6,5 Juta untuk keperluan pribadi terdakwa."

 Dua Hercules Siap Angkut 835 Mahasiswa dan Pelajar Papua yang Mudik karena Termakan Hoaks

"Sedangkan sisanya Rp 145 Juta diserahkan kepada saksi Helmi untuk mengganti uang pembelian senpi laras pendek," ungkap JPU.

Terdakwa memerintahkan agar Helmi segera mencari senpi laras panjang kaliber besar serta untuk uang operasional Helmi.

Sebelumnya, Kepolisian menyerahkan Kivlan Zen dan Habil Marati secara bersamaan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Pusat, Kamis (22/8/2019).

 Polisi Buru Dukun Santet yang Gagal Celakakan Suami Aulia Kesuma, Bakal Jadi Tersangka Juga?

Kivlan Zen adalah tersangka kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal.

Sedangkan Habil Marati adalah tersangka kasus dugaan ancaman pembunuhan terhadap empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, berkas perkara Kivlan Zen  dan Habil Marati telah dinyatakan lengkap atau P21. Sehingga, keduanya diserahkan kepada kejaksaan.

 Jokowi Janji Segera Pekerjakan Seribu Sarjana Asal Papua di BUMN dan Perusahaan Swasta Besar

"Jadi, (berkas perkara) untuk tersangka KZ sudah P21 pada tanggal 16 Agustus."

"Dan (berkas perkara) tersangka HM (dinyatakan lengkap alias P21) tanggal 21 Agustus kemarin," jelas Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Kamis (22/8/2019).

Penetapan tersangka Kivlan Zen terkait pengembangan kasus kerusuhan 21-22 Mei 2019.

 BREAKING NEWS: Jokowi Janji Bangun Istana Presiden di Papua Tahun Depan

Kivlan Zen kemudian ditahan di Rutan Guntur Polda Metro Jaya sejak 30 Mei 2019 selama 20 hari.

Polisi selanjutnya memperpanjang masa penahanan Kivlan Zen selama 40 hari terhitung sejak Selasa (18/6/2019) lalu.

Terkait kasus tersebut, Kivlan Zen sempat menggugat Polda Metro Jaya ke sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

 Tanjakan Emen Makan Korban Lagi, Satu Orang Meninggal Gara-gara Truk Oleng

Namun, gugatan tersebut ditolak seluruhnya oleh hakim yang memeriksa perkaranya, dan ia pun tetap berstatus menjadi tahanan Polda Metro Jaya terkait kasus senjata api ilegal.

Sementara, polisi menangkap dan menetapkan Habil Marati sebagai tersangka kasus dugaan ancaman pembunuhan terhadap empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei.

Wadirkrimum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Ade Ary sebelumnya menyebut, Habil berperan sebagai pemberi dana sebesar Rp 150 juta kepada Kivlan Zen.

 Selain Bangun Istana, Jokowi Juga Kabulkan Permintaan Pembentukan Provinsi Baru di Papua

Uan itu untuk keperluan pembelian senjata api terkait rencana pembunuhan terhadap para tokoh tersebut.

Para tokoh yang menjadi target pembunuhan itu adalah Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, Menkopolhukam Wiranto, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan.

Juga, dan dan Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan Gories Mere. (*)

Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved