Breaking News:

Penembakan

Diancam Hukuman Mati, Tim Pengacara Polisi Koboi Minta Uji Pasal dan Belum Tentukan Saksi

Tim pengacara polisi yang menjadi terdakwa atas kasus penembakan sesama polisi mengatakan akan menguji lebih dulu pasal-pasal yang disangkakan

Wartakotalive.com/Vini Rizki Amelia
Terdakwa Rangga Tianto (32) (peci putih rompi merah) saat sidang dan keluar ruang persidangan dengan didampingi tim pengacara, istri dan keluarga serta rekannya di Pengadilan Negeri Depok, Kota Kembang, Cilodong, Rabu (30/10/2019). 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Vini Rizki Amelia

DEPOK, WARTAKOTALIVE.COM - Tim pengacara polisi yang menjadi terdakwa atas kasus penembakan sesama polisi mengatakan akan menguji lebih dulu pasal-pasal yang disangkakan terhadap kliennya, Rangga Tianto (32).

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Rozi Juliantono menggunakan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan untuk menjerat Rangga dengan ancaman maksimal hukuman mati.

"Dengan pemberlakuan Pasal 49 dan atau Pasal 48 KUHP yakni tentang adanya pengaruh daya paksa (yang membuat terdakwa melakukan tindakan pidana) baik dari kedua belah pihak," ujar Farhan Hazairin, SH, MH, seusai persidangan di Pengadilan Negeri Depok, Kota Kembang, Cilodong, Depok, Rabu (30/10/2019).

Alasan Brigadir Rangga Tembak Bripka Rahmat Efendy Kukuh Bebaskan Pelaku Tawuran

Dikatakan Farhan, pengujian ini nantinya akan melihat terpenuhinya atau tidak unsur dalam Pasal 340 dan juga Pasal 338.

Farhan menegaskam, semua unsur dalam pasal-pasal tersebut harus dibuktikan dalam fakta persidangan.

"Apakah unsur perencanaan (Pasal 340) dan kesengajaan (Pasal 338) terpenuhi atau tidak, itu akan diuji semua dan majelis yang akan menilai," kata Farhan.

KISAH Bocah Terus Begadang Selama 3 Tahun, Jadi Beringas hingga Dijuluki Anak Domba, Ini Pemicunya

Menindak lanjuti dakwaan tersebut, seusai persidangan, Farhan Hazairin, SH, MH, selaku tim pengacara Rangga dari Michidan & Partners mengatakan akan melihat fakta-fakta persidangan sebelum menghadirkan saksi yang meringankan.

"Belum (menentukan saksi), kami lihat urgensinya, yang jelas akan ada saksi pidana juga, tapi kami akan uji lebih dulu pasal-pasal yang disangkakan," tutur Farhan.

Selain pengujian terhadap pasal, Farhan mengatakan pihaknya juga akan menghadirkan saksi-saksi guna mengungkap adanya fakta-fakta lain baik dari sebelum, saat, dan sesudah penembakan yang dilakukan kliennya.

MENHAN Modal Prabowo Maju Pilpres 2024 Didukung PDIP Disorot Pengamat Politik Suatu Kemungkinan

"Semuanya itu akan terungkap di persidangan baik itu saksi fakta yang dihadirkan jaksa ataupun dari kami," kata Farhan.

Sebelumnya, Rangga yang berpangkat Briptu menembak mati Bripka Rahmat Efendy di Ruangan SPKT Polsek Cimanggis, Kamis (25/7/2019) sekitar pukul 20.30.

Kejadian tersebut terjadi setelah Rangga dimintai tolong untuk membantu keponakannya yakni MFZ yang tertangkap membawa celurit saat ingin tawuran.

Mahfud MD Diminta Mundur jika Gagal Dorong Jokowi Terbitkan Perppu KPK, Ini Katanya: ICW Itu Siapa?

Rangga yang telah menyiapkan senjata api jenis HS 9 miliknya yang diselipkan di sebelah kanan pinggangnya.

Singkat cerita, Rangga meminta tolong agar keponakannya itu dibebaskan dan akan dibina oleh keluarga atas apa yang dilakukan.

Namun korban justru bersikap tegas dengan tidak mengindahkan permohonan pelaku yang kemudian nekat membrondong tembakan sebanyak tujuh tembakan ke arah korban.

UPDATE Kapolres Jaksel Benarkan Anggotanya Alami Luka Bacok saat Tawuran Manggarai, Ini Kronologinya

Korban yang mengalami lula tembak dibagian dada yang menyebabkam luka robek pada bagian paru-paru serta luka tembakan di tangan, kaki, dan bokong, langsung terkapar dan meninggal ditempat.

Sidang selanjutnya kembali di gelar Rabu (6/11/2019) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari pihak JPU.

UPDATE Polisi Butuh Dua Hari Kejar Mucikari PA yang Buron, Ini Ciri-ciri Fisik Soni Dewangga

Polri Akan Pecat Polisi Koboi yang Menembak Sesama Polisi di Depok

Secara terpisah Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Asep Adi Saputra mengatakan Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri akan menggelar sidang komisi kode etik untuk Brigadir Rangga Tianto.

Rangga merupakan pelaku penembakan terhadap sesama anggota polisi, Bripka Rahmat Effendi setelah pengadilan menjatuhkan vonis.

“Sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) akan dilaksanakan setelah selesai proses di peradilan umum,” kata Asep saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (30/10/2019).

HEBOH Beli Rumah Bonus Janda Muda Ramai di Depok, Bikin Warga Risih

Menurut Asep, hal itu dilakukan untuk membuktikan perbuatan tersangka atas tindak pidana pembunuhan terhadap Bripka Rahmat Effendi.

Sebab, dalam Pasal 338 KUHP yang dituduhkan kepada tersangka, Rangga Tianto, diancam 15 tahun penjara.

Jika terbukti bersalah maka sangat besar kemungkinan Polri akan memecat Brigadir Rangga.

KI JOKO BODO Ungkap Penyebab Bus Sudiro Ponorogo Bisa Nyasar di Hutan Wonogiri, Simak Alasannya

"Dia bisa dikenai Pemecatan Dengan Tidak Hormat," kata Asep.

Penulis: Vini Rizki Amelia
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved