Breaking News:

Kasus Polisi Tembak Polisi Segera Disidangkan, Briptu Rangga Tianto Dijerat Pasal Hukuman Mati

“Terdakwa mengaku jika terdakwa emosi dengan perkataan korban sehingga mencabut senjata api miliknya dan menembakan ke tubuh korban,” ujar Rozi

Penulis: Vini Rizki Amelia
Editor: Dedy
WARTA KOTA/GOPIS SIMATUPANG
Suasana rumah duka tempat jenazah Bripka Rachmat Effendy disemayamkan, di Permata Tapos Residence, Kelurahan Sukamaju Baru, Depok, Jawa Barat, sesaat sebelum diberangkatkan menuju area pemakaman keluarga di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jumat (26/7/2019) siang. 

Kasus polisi tembak rekannya sesama polisi di Ruang SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu) Polsek Cimanggis Jalan Raya Bogor, Kota Depok, memasuki babak baru.

Kasus ini akan segera dipersidangkan di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat, Rabu (30/10/2019).

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Rozi Juliantono, mengatakan, terdakwa Briptu Rangga Tianto dari Kesatuan Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam) Polri terbukti bersalah karena dengan sengaja menembak rekannya sesama anggota polisi Bripka Rahmat Efendi dengan menggunakan senjata api jenis HS 9 miliknya.

“Terdakwa mengaku jika terdakwa emosi dengan perkataan korban sehingga mencabut senjata api miliknya dan menembakan ke tubuh korban,” ujar Rozi saat dihubungi wartawan, Selasa (29/10/2019).

Rozi mengatakan, terkait pasal yang diterapkan, penyidik kepolisian dan jaksa penuntut umum menjerat terdakwa dengan pasal 340 KUHPidana dengan ancaman maksimal hukuman mati.

“Perbuatan Terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340 KUHPidana ancaman hukumanya mati,” tutur Rozi.

Dari informasi yang diperoleh wartawan, peristiwa itu berawal pada Kamis, 25 Juli 2019 sekitar pukul 20.30, keluarga terdakwa yaitu saksi Rheiza Aditya Pratama datang dan meminta tolong kepada salah satu keluarga dari anggota polri yakni terdakwa Rangga Tianto jika Muhamad Fahrul Zahri tertangkap membawa celurit saat ingin tawuran.

Kemudian, terdakwa membawa atau mengambil senjata api jenis HS 9 miliknya yang kemudian diselipkan di sebelah kanan pinggang bagian kanan yang sebelumnya senjata tersebut disimpan di atas lemari dikamar tidur.

Selanjutnya, terdakwa bergegas pergi keluar menggunakan Sepeda motor terdakwa bersama Reza, menuju Polsek Cimanggis.

Sekira pukul 20.45 wib terdakwa sampai di Polsek Cimanggis dan memarkirkan motor di luar depan pintu gerbang Polsek Cimanggis.

Kemudian terdakwa masuk ke ruang tunggu SPKT Polsek Cimanggis dan saksi Rheiza menunggu diluar Polsek Cimanggis.

Setelah Terdakwa masuk di ruang tunggu SPKT Polsek Cimanggis tersebut, didalam ruangan tersebut terdakwa melihat dari ruang tunggu SPKT Polsek Cimanggis sudah ada pelaku tawuran Fahrul, saksi Adhi Bowo Saputro kepala SPKAT dan korban Rahmat Efendy di Ruangan SPKT Polsek Cimanggis.

Terdakwa lalu bertemu dan bersalaman dengan saksi Zulkarnain (Bapak Fahrul) dan saksi Zulkarnain menceritakan terkait peristiwa yang dialami oleh Muhamad Fahrul Zahri yang ditangkap membawa Celurit yang diduga hendak melakukan tawuran.

Terdakwa meminta kepada kepala SPKT Ipda Adhi Wibowo agar kasus tawuran yang dilakukan keponakanya tidak diperpanjang dan keluarga akan membina.

Namun korban Bripka Rahmat Efendy menjawab dengan nada keras kepada terdakwa dan berkata,“Kamu siapa, saya yang menangkap”. Terdakwa Briptu Rangga menjawab, mohon izin dengan siapa saya bicara? Korban Bripka Rahmat membalas, “Saya yang pegang Jatijajar sudah kamu keluar saja, junior saja kamu nanti saya laporkan kamu”.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved