Unjuk Rasa Mahasiswa

Sejumlah Fakta Penanganan Perbedaan Pendapat Era Menko Mahfud MD Lebih Humanis Dibanding Era Wiranto

Pendekatan represif seperti yang terjadi di era Wiranto, yang berlatar belakang militer diyakini tidak terjadi lagi di era Mahfud MD.

Sejumlah Fakta Penanganan Perbedaan Pendapat Era Menko Mahfud MD Lebih Humanis Dibanding Era Wiranto
Twitter
Pernyataan Menko Polhukam, Moh Mahfud MD dikutip berbeda, sehingga memicu kehebohan. 

ADA sejumlah fakta terkuak dengan penanganan perbedaan pendapat di era Menteri Koordinator (Menko) Politik Hukum Keamanan (Polhukam), Mahfud MD diyakini lebih humanis dan manusiawi.

Pendekatan represif seperti terjadi di era Wiranto, yang berlatar belakang militer diyakini tidak terjadi lagi di era Mahfud MD, yang juga pernah menjadi Menteri Pertahanan di era Gus Dur.

Fenomena itu di antaranya terjadi saat Mahfud MD mengalami serangan bertubi-tubi terkait pelintiran pernyataan yang disampaikannya.

Ada media tertentu yang kemudian dibagikan banyak pihak tertentu untuk menyerang dirinya.

Namun, tidak seperti era Wiranto yang langsung main copot dandim dan sejumlah anggota TNI, apa yang dilakukan di era Mahfud MD dilakukan dengan pendekatan yang lebih manusiawi.

Para era Wiranto, demonstrasi mahasiswa ditangani dengan pendekatan kekerasan, hingga sejumlah mahasiswa mengalami luka-luka, bahkan ada yang koma hingga meninggal dunia.

Terungkap Tidak Terpilihnya Yusril dan Fahri Hamzah Ungkap Parpol Dekati Presiden dengan Memecatnya

Selain itu, pendekatan kekerasan dalam menangani demonstrasi dan unjuk rasa di era Wiranto menjadi Menkopolhukam mengingatkan pada penanganan perbedaan pendapat dan demokrasi yang dilakukan pada era Orde Baru.

Kala itu, penanganan aksi demonstrasi dengan tangan besi memicu banyak perlawanan dan kerugian, bahkan akhirnya Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya.

Hal itu di antaranya terjadi saat banyak mahasiswa dan rakyat bersatu untuk berdemonstrasi dan Menteri Pertahanan (Menhan) Panglima ABRI (Pangab) di masa itu adalah Wiranto.

Dampaknya, demonstrasi tidak mereda bahkan semakin meluas hingga akhirnya Presiden Soeharto harus turun dari jabatannya karena kerasnya tindakan terhadap perbedaan pendapat yang terjadi.

Halaman
1234
Penulis: Gede Moenanto
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved