Pelantikan Presiden dan Wapres

UPDATE Dari Ketapel, Bola Karet Isi Bahan Peledak Mirip Petasan Banting, hingga Siapkan 8 Monyet

Upaya Gagalkan Pelantikan Presiden, Pelaku Buat Bola Karet Isi Bahan Peledak Mirip Petasan Banting. Ada juga ketapel dan delapan monyet

UPDATE Dari Ketapel, Bola Karet Isi Bahan Peledak Mirip Petasan Banting, hingga Siapkan 8 Monyet
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Jumpa pers pengungkapan kasus kelompok siapkan ketapel dan bom ban karet dengan enam tersangka di Mapolda Metro Jaya, Senin (21/10/2019). 

"Jika satu kelompok AB sebelumnya membuat bom isi paku dan merica serta kelompok lainnya membuat molotov, maka kelompok ini membuat dan menyiapkan ketapel kayu, peluru gotri serta ban karet dari lilitan tali ban yang bisa meledak. Jadi tiga kelompok ini satu jaringan," kata Argo dalam konpers di Mapolda Metro Jaya, Senin (21/10/2019)

Menurut Argo, ada komunikasi intens antara dosen IPB Abdul Basith serta kelompoknya dengan tersangka SH yang membuat dan menyiapkan ketapel peluru gotri serta bola karet yang bisa meledak.

"Jadi semua ini berawal dari adanya grand design besar yang intinya menggagalkan pelantikan Presiden dan Wapres di DPR pada tanggal 20 Oktober kemarin. Dimana pertemuan awal digelar di rumah SN di Ciputat untuk merencanakan penggagalan pelantikan ini," kata Argo.

Ia menjelaskan dalam. komunikasi antara Abdul Basith dan tersangka SH untum menggagalkan pelantikan presiden, kelompok SH ini rencananya menggunakan ketapel dan bola karet untuk menyerang aparat yang berjaga di gedung DPR/MPR pada 20 Oktober 2019.

"Dari hasil pemeriksaan diketahui, ketapel dan bola karet, akan dipakai di gedung DPR untuk menyerang aparat, atau akan diberikan ke demonstran," kata Argo.

Sudah Beli 8 Monyet

Selain itu katanya kelompok ini menyiapkan 8 ekor monyet untuk dilepas di Gedung DPR dan Istana Merdeka saat acara pelantikan.

"Ada ide dari kelompok ini yaitu melepas monyet di Gedung DPR dan Istana Merdeka agar terjadi kegaduhan dan petugas di sana tak fokus. Sudah disiapkan 8 ekor monyet. Sudah dibeli, tapi belum dilepas," kata Argo.

Kelompok ini katanya juga merencanakan penjarahan di toko-toko dan di daerah perekonomian.

Dalam berkomunikasi di grup aplikasi pesan WhatsApp, mereka kata Argo menggunakan sandi miror. "Sandi mirror ini yakni dalam membentuk kata tidak memakai huruf yang sebenarnya tapi memakai huruf lain di baliknya, dimana diketahui dengan cara huruf di ketikan dilipat. Jadi huruf yang bertemu, itulah huruf penggantinya," kata Argo.

Halaman
1234
Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Mirmo Saptono
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved