Holding BUMN Beli 20 Persen Saham Tambang Nikel Vale, Harusnya jadi Perhatian Publik

Akhirnya setelah setengah abad PT Vale Indonesia beroperasi, Indonesia melalui holding BUMN tambang dapat memanfaatkan aset strategis

Holding BUMN Beli 20 Persen Saham Tambang Nikel Vale, Harusnya jadi Perhatian Publik
tribun timur
Pabrik pengolahan nikel PT Vale Indonesia, di Sorowako, Luwu Timur, saat diabadikan menggunakan drone, Rabu (1/8/2019). Sejak Mei 2019, PT Vale mengoperasikan boiler listrik berbasis energi terbarukan. TRIBUN TIMUR/MUHAMMAD ABDIWAN 

Setelah mengakuisisi tambang emas PT Freeport Indonesia, kini induk BUMN pertambangan MIND ID yang dulu bernama Inalum mengakuisisi 20 persen saham tambang nikel PT Vale Indonesia (INCO).

Pemerintah melalui surat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia No. 1706/32/DJB/2019 resmi menunjuk MIND ID untuk mengambil alih 20persen saham perusahaan tambang nikel PT Vale Indonesia tmelalui mekanisme divestasi.

Keputusan strategis tersebut sejalan dengan mandat konstitusi yang tertuang dalam UU No. 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara, sebagai langkah riil mengembalikan kedaulatan Negara melalui penguasaan SDA strategis.

Abra Talattov Ekonom INDEF melihat proses divestasi PT Vale Indonesia tidak seperti Freeport yang mampu menyedot perhatian publik.

"Kali ini relatif sepi dari diskursus publik. Padahal aksi korporasi holding BUMN tambang kali ini bukan sebuah aksi bisnis biasa. Akhirnya setelah setengah abad PT Vale Indonesia beroperasi, Indonesia melalui holding BUMN tambang dapat memanfaatkan aset strategis di sektor pertambangan mineral," ujarnya di Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Ia mengatakan, 75 ribu ton nickel matte per tahun atau 5 persen pasokan dunia disupply oleh PT Vale Indonesia dan untuk pertama kalinya Bangsa Indonesia melalui BUMN tambang akan turut merasakan nilai tambah dari SDA yang dikeruk dari tanah air.

"Ketika 20 persem saham PT Vale Indonesia beralih kepemilikan di bawah kendali holding BUMN tambang, maka harapan besar publik adalah keseriusan untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui hilirisasi mineral di Indonesia.
Sudah cukup Sumber Daya Alam Indonesia (mineral) diekspor mentah-mentah. Akibatnya, industri dalam negeri pun menjadi ketergantungan terhadap impor bahan baku ataupun barang setengah jadi," ujarnya.

Di tengah prospek industri otomotif berbasis listrik (electric vehicle) di masa depan, lanjut Abra, maka penguasaan SDA mineral terutama nikel (melalui divestasi PT Vale Indonesia) adalah momentum terbaik untuk mengangkat kembali kinerja industri nasional (reindustrialisasi).

Lebih penting lagi, kata Abra, Holding BUMN tambang juga harus menjaga kepercayaan publik dengan membuktikan komitmennya meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri nasional.

"Hanya dengan cara itu, maka kinerja perdagangan internasional Indonesia akan pulih. Bahkan rakyat Indonesia akan kembali bangga memiliki BUMN yang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk perekonomian nasional," tuturnya.

Editor: Ahmad Sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved