Pendidikan

Upaya Membangun Pendidikan Bebas Radikalisme Diwujudkan Melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan

Dalam tiga tahun terakhir, pembahasan mengenai intoleransi dan radikalisme agama terbilang cukup gencar di Indonesia.

Editor: Gede Moenanto
Warta Kota/Zaki Ari Setiawan
Ilustrasi. Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), M Nur Rizal melatih ratusan guru di QBig BSD City, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Rabu (28/8/2019). 

Paham radikalisme memang mulai subur di sekolah-sekolah, namun Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) menunjukkan bahwa hal itu bisa dihapuskan dengan pendidikan kritis.

Dalam tiga tahun terakhir, pembahasan mengenai intoleransi dan radikalisme agama terbilang cukup gencar di Indonesia.

Hal ini tentu sangat bisa dimaklumi jika menilik hasil penelitian yang dirilis oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terkait radikalisme pada 2018 lalu.

"Di mana sebesar 57,03 persen guru di Indonesia di level SD dan SMP ternyata memiliki pandangan intoleran," kata Muhammad Nur Rizal, pendiri GSM dalam keterangan yang disampaikan, Senin (7/10/2019).

Bahkan, kata dia, sesuai kajian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) lebih dulu menawarkan hasil penelitian bahwa 48,9 persen siswa mendukung adanya tindakan radikal.

Data ini mengindikasikan bagaimana sebuah paham alternatif berusaha menggeser ideologi Pancasila dan pengaruhnya mulai merasuk di setiap lapisan masyarakat.

"Ironisnya, dia sudah menyasar salah satu sendi strategis bangsa, yakni pendidikan," katanya.

Tren ini dinilai tentu secara gamblang menunjukkan kepada publik bahwa permasalahan radikalisme sudah menjadi masalah bersama, masalah nasional, dan cenderung akut.

Pendidikan bisa menjadi jalan retasan untuk menghadapi potensi permasalahan seperti ini.

Sebagai arena menuntut ilmu bagi generasi muda, sekolah memang rawan terjangkit radikalisme, namun sekaligus bisa menjadi titik awal untuk mematikan benih tersebut dan menciptakan mekanisme untuk melindungi generasi dari pengaruh negatif apa pun.

Jika sekolah-sekolah mampu menciptakan situasi seperti ini, kiranya tidak ada yang perlu ditakutkan oleh Indonesia.

Muhammad Nur Rizal mengatakan bahwa sekolah sebagai institusi pendidikan bisa menjadi jalan retasan untuk menghadapi masalah ini.

“Sekolah-sekolah perlu menggalakkan cara belajar yang mengakomodasi pikiran kritis."

"Anak-anak juga perlu diberi ruang untuk belajar memahami keberagaman informasi dan literasi digital, terutama di pendidikan dasar dan keluarga."

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved