Wakil Wali Kota Tangsel Minta Kadisdik Usut Penahanan Ijazah Siswi SMP karena Belum Bayar Pungutan

Di kelas anak saya juga diminta donasi untuk perpustakaan dan komputer sebesar Rp 50 ribu, ada juga uang kas kelas Rp 5.000 per minggu.

Wakil Wali Kota Tangsel Minta Kadisdik Usut Penahanan Ijazah Siswi SMP karena Belum Bayar Pungutan
Wartakotalive.com/Andika Panduwinata
Para awak media melakukan wawancara kepada pihak SMPN 4 Tangsel terkait ijazah murid yang ditahan karena belum melunasi sejumlah dana yang sudah diwajibkan. 

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie geram mendengar ada ijazah seorang siswi SMP Negeri di wilayahnya yang ditahan pihak sekolah karena orang tuanya belum melunasi pembayaran dana donasi.

Benyamin pun menyayangkan mengapa kejadian ini bisa terjadi. Benyamin meminta kepada anak buahnya untuk melakukan investigasi dan mengusut soal dugaan pungli ini.

“Saya sudah mintakan Kadisdik­bud untuk cek kebenaran info tersebut dan ambil langkah - langkah yang diperlukan,” tutur Benyamin kepada Wartakotalive.com, Jumat (4/10/2019).

Lantaran belum melunasi sejumlah uang pungutan yang diminta sekolah, ijazah SMP milik seorang siswi dari orang tua berinisial KR ditahan pihak SMP Negeri 4 Tangerang Selatan.

Ditemui Wartakotalive.com, Jumat (4/10/2019), KR menjelaskan duduk persoalannya hingga dia tidak dapat melunasi kewajiban pembayaran dana yang telah disepakati antara orang tua dengan pihak sekolah sebelumnya.

“Sejak awal putri saya masuk sudah ditanya kemampuan untuk membantu sekolah, saat itu saya membayarkan Rp 5 juta agar putri saya bisa masuk kelas bakat istimewa,” ujar KR.

Bahkan bukan pada tahap awal pra penerimaan siswa baru saja KR dimintai dana, tapi juga diminta menyepakati komitmen untuk menyetorkan uang bulanan semacam SPP dengan besaran bervariatif

“Rata-rata menyepakati Rp 300 ribu untuk donasi semacam SPP itu. Tapi ada yang di bawah itu juga. Di kelas anak saya juga diminta donasi untuk perpustakaan dan komputer sebesar Rp 50 ribu, ada juga uang kas kelas Rp 5.000 per minggu. Ini anak saya sudah lulus benar-benar harus melunasi donasi itu semua, kalau tidak ijazah tidak boleh diambil,” ucapnya dengan wajah kesal.

Bukan pungli

Menanggapi keluahan orang tua siswi tersebut, Humas SMPN 4 Tangerang Selatan, Aris Munandar, mengakui adanya sejumlah donasi yang dibebankan kepada para orang tua siswa tersebut.

Menurutnya beban donasi itu hanya diberikan kepada siswa program cerdas istimewa dan bakat istimewa (CI BI). Program CIBI ini terakhir hanya berjalan pada tahun ajaran 2016.

“Bukan pungli, itu donasi. Diberikan orang tua murid tanpa adanya paksaan, karena dasarnya ikhla dengan kemampuan mereka bermacam-macam,” katanya.

Aris menegaskan pengambilan ijazah oleh para alumni di sekolahnya itu tidak dipungut biaya.

“Prinsipinya mengambil ijazah itu gratis. Tidak ada bayaran. Kecuali kelas akselerasi dan pengayaan (CI BI). Dan itu menginduk ke Provinsi, sebelum penerimaan siswa reguler dan sejak zaman pak Wahidin Halim sudah tidak boleh lagi yakni tahun 2017 sudah tidak ada kelas CI BI,” ungkapnya.


Penulis: Andika Panduwinata
Editor: Dedy
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved