Sekarang Konsumen Pakaian Jadi Lebih Peduli Isu Ketenagakerjaan

konsumen diyakini lebih menyukai produk-produk pakaian jadi dari produsen pakaian ataupun brand yang dipercaya menghormati hak-hak pekerja.

Sekarang Konsumen Pakaian Jadi Lebih Peduli Isu Ketenagakerjaan
thinkstockphotos
Ilustrasi. 

WARTA KOTA, PALMERAH--- Seiring dengan meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya pemenuhan hak-hak pekerja, praktik konsumerisme etis menjadi tren yang menandai perilaku konsumen dalam membeli produk.

Di tengah-tengah tren ini, konsumen diyakini lebih menyukai produk-produk pakaian jadi dari produsen pakaian ataupun brand yang dipercaya menghormati hak-hak pekerja dalam menjalankan praktik bisnisnya.

Hal ini selanjutnya mempengaruhi pertimbangan brand-brand pakaian jadi internasional dalam menyeleksi suplier pakaian jadi untuk produk mereka.

“Para buyer (brand pakaian jadi) kini menjadi lebih lebih berhati-hati dalam membeli produk pakaian jadi karena konsumen akhir-akhir ini menjadi lebih sadar akan isu ini,“ ujar Direktur International Labour Organization (ILO) untuk Indonesia dan Timor Leste, Michiko Miyamoto, baru-baru ini.

Transaksi Perbankan Masih Didominasi Kartu Debit

Sejalan dengan pandangan tersebut, beberapa temuan survei menunjukkan bahwa perilaku konsumen di sejumlah negara memang dipengaruhi oleh pertimbangan etis.

Hasil temuan survei yang dilakukan oleh sebuah market intelligence bernama Mintel pada tahun 2015 menunjukkan sebanyak 56 persen konsumen di Amerika Serikat menyatakan akan berhenti melakukan pembelian terhadap produk dari brand-brand yang diyakini menyalahi standar-standar etis.

Sebanyak 27 persen di antaranya bahkan menyatakan akan tetap menghentikan pembelian produk dari brand yang menyalahi standar etis meski produk alternatif yang tersedia memiliki kualitas lebih rendah.

Lebih lanjut, sebanyak 35 persen dari responden bahkan menyatakan akan tetap menghentikan pembelian meskipun barang substitusi tidak tersedia di pasaran.

Menelusuri Keindahan yang Tersembunyi di Balik Kepulauan Seribu

Artinya, aspek etika menjadi pertimbangan yang lebih utama dibanding aspek kualitas bagi sejumlah konsumen.

Hasil yang serupa juga dapat ditemui dalam temuan survei yang dilakukan Statista pada tahun 2018.

Halaman
12
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved