Diperlukan Kerjasama Antar Umat Hadapi Pertumbuhan Penduduk yang Dahsyat di Tangsel di Tahun 2030

Dikarenakan konflik yang terjadi di masyarakat biasanya tidak disebabkan faktor agama melainkan faktor non agama.

Diperlukan Kerjasama Antar Umat Hadapi Pertumbuhan Penduduk yang Dahsyat di Tangsel di Tahun 2030
Warta Kota/Andika Panduwinata
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie mengajak masyarakat untuk mewujudkan Tangsel yang religius. Hal tersebut diungkapkan Benyamin dalam seminar kerja sama antarumat beragama yang digelar di Lobana Sengkol, Setu, Tangerang Selatan, Rabu (2/10/2019). 

Jumlah penduduk di wilayah Tangerang Selatan diperkirakan akan bertambah dua kali lipat di tahun 2030.

Agar kehidupan masyarakatnya tetap tentram, nyaman, dan saling menjaga toleransi, pihak Pemerintah Kota Tangerang Selatan sejak dini menggaungkan yang namanya kerjasama antar umat beragama.

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie pun mengajak masyarakatnya mewujudkan Tangsel yang religius.

Menurutnya, kerja sama antarumat beragama dengan mewujudkan Tangsel religius ini dipilih karena memiliki peran penting bagi Kota Tangsel.

Dengan jumlah penduduk sebanyak 1,6 juta jiwa, jumlah tersebut ada yang akan lahir dan datang ke Tangsel dan itu diperkirakan akan bertambah dua kali lipat di 2030 mendatang.

“Untuk itu saatnya kita saling menjaga dan bersilatuhrami meski kita beda keyakinan untuk mempersatukan masyarakat yang besar ini di Tangsel,” kata Benyamin di acara seminar kerja sama antarumat beragama yang digelar di Lobana Sengkol, Setu, Tangerang Selatan, Rabu (2/10/2019).

Benyamin menegaskan pentingnya agama, karena agama itu diciptakan untuk menciptakan kerukunan kehidupan. Seperti hidup akan tenang jika mengikuti ajaran agama, sosial juga akan tenang kalau sesuai dengan agama, begitu pula dengan politik, akan tenang kalau mengikuti agama.

Ketua MUI Tangsel, Saidi menambahkan seminar ini untuk mempersatukan Tangsel agar sesuai dengan motonya yakni religius.

Dikarenakan konflik yang terjadi di masyarakat biasanya tidak disebabkan faktor agama melainkan faktor non agama.

“Untuk mencegah potensi konflik itu perlu dikedepankan dialog. Namun, dialog perlu bersifat dialogis yaitu dialog yang bertumpu atas dasar ketulusan, keterbukaan dan keterus terangan untuk penyelesaian masalah, dan inilah yang harus diterapkan di Tangsel,” papar Saidi.

Penulis: Andika Panduwinata
Editor: Dedy
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved