Rusuh Papua

Duka Mendalam Atas Wafatnya dr Soeko Marsetiyo di Wamena, Ini Pernyataan Sikap 2 Perhimpunan Dokter

"Kami juga mendesak Kementrian Kesehatan mengevakuasi seluruh tenaga kesehatan di daerah rawan,"

Editor: Wito Karyono
TribunMataram Kolase/ Kompas.com Wijaya Kusuma
Dokter Soeko Marsetiyo dimakamkan. Kematiannya saat kerusuhan di Wamena meninggalkan duka mendalam bagi dunia kesehatan di negeri ini. 

Dunia Kesehatan berduka setelah salah satu dokter yang selama lima tahun terakhir bertugas di Kabupaten Tolikara, Papua, menjadi salah satu korban tewas kerusuhan Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Namanya dr Soeko Marsetiyo (53 tahun). Dia berprofesi sebagai dokter umum yang bersedia meninggalkan keluarganya di Yogyakarta untuk melayani masyarakat di pedalaman Papua.

Pernyataan sikap pun bermunculan. Terbaru dari Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) dan Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia (MHKI).

Din Syamsuddin dan Andre Rosiade Ungkap Keprihatinan Mendalam Akibat Banyaknya Korban di Wamena

22 dari 26 Korban Tewas Akibat Kerusuhan di Wamena Warga Pendatang

KAPOLRI Sebut KNPB Dalang Kerusuhan di Wamena yang Akibatkan 26 Warga Tewas

Dalam siaran persnya, kedua perhimpunan tersebut menyampaikan enam pernyataan sikap.

Salah satunya adalah meminta semua pihak untuk tidak memperlakukan seluruh dokter/dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya secara tidak manusiawi, bahkan menyebabkan perlukaan dan bahkan kematian.

"Kami juga mendesak Kementrian Kesehatan mengevakuasi seluruh tenaga kesehatan di daerah rawan,"

Demikian pernyataan sikap yang ditanda tangani Ketua Umum PDEI​​​​​  dr Moh Adib Khumaidi Sp OT ​​​
Ketua Umum MHKI dr Mahesa Paranadipa M MH (Lihat pernyataan sikap di bawah berita ini).

Bertemu di Lokasi Syuting Film SIN, Mawar De Jongh Dikabarkan Berpacaran dengan Bryan Domani

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Kesehatan Papua dr Silwanus Sumule, SpOG(K) mengakui saat ini tidak mudah mencari seorang dokter yang bersedia ditugaskan di wilayah terpencil walau pada saat disumpah menjadi seorang dokter, mereka harus mau bertugas di mana pun dan dalam kondisi apa pun.

Namun, hal ini berbeda ketika dr Soeko datang ke Papua sekitar tahun 2014.

"Saya tidak terlalu tahu dia sebelumnya bertugas di mana, tetapi ketika dia datang di Papua dia langsung bertugas di Tolikara dan memang dia meminta pelayanannya di daerah yang terisolir," tuturnya saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Kamis (26/9/2019).

Silwanus menilai, dengan usia yang tidak muda lagi, seorang dokter biasanya sudah ingin merasakan kehidupan yang nyaman. Tetapi, hal tersebut tidak berlaku bagi dr Soeko yang terus bersikeras untuk tetap mengabdi di pedalaman Papua.

TERUNGKAP, Jokowi Ditekan DPR dan Mahasiswa Terkait Rencana Terbitkan Perppu Pengganti UU KPK Baru

"Itu luar biasa, beliau mau mengabdi di daerah yang sulit di usianya sekarang 53 tahun. Biasanya orang sudah meminta di kota, dia masih meminta untuk bertahan di daerah yang terisolir," kata Silwanus.

Tewasnya dr Soeko pada 23 September 2019 setelah sebelumnya sempat mendapat penanganan medis di RSUD Wamena merupakan duka bagi seluruh insan kesehatan di Papua.

Sosok dokter Soeko Marsetiyo

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved