Inspirasi
Arminsyah Mempunyai Tekad dan Komitmen untuk Membangun dan Memajukan Kejaksaan
Arminsyah mempertegas komitmen untuk membangun dan memajukan kejaksaan secara menyeluruh.
Wakil Jaksa Agung RI, Arminsyah mempertegas komitmen untuk membangun dan memajukan kejaksaan secara menyeluruh.
"Di sisa usia saya dinas di kejaksaan, akan terus saya abdikan untuk kemajuan kejaksaan."
"Lillahitaalla, saya akan membangun kejaksaan lebih baik lagi," ujar Arminsyah di Jakarta, Senin (16/9/2019).
Menurut Arminsyah, untuk membangun institusi Kejaksaan, tentu saja tetap merujuk kepada kebijakan pemerintah.
"Kebijakan Pak Jokowi harus kita laksanakan dengan baik."
"Sami'na Wa Ahto'na, saya dengar dan saya kerjakan."
"Demikian, prinsip saya dalam bekerja," ujarnya.
Arminsyah menegaskan, ada 3 prinsip hidup yang ia pegang dan juga disampaikan ke anak buahnya di kejaksaan.
Yakni ikhlas, bekerja bersemangat, dan bersungguh-sungguh, atau tidak asal-asalan.
"Jadi, ada 3 prinsip saya yang itu secara pribadi."
"Bekerja itu harus bersemangat, bersungguh-sungguh dan ikhlas."
"Jangan bekerja sedikit sudah tanya-tanya kapan naik pangkat, kapan promosi."
"Oh, nggak bisa itu."
"Karena, kalau dia kerja nggak ikhlas, dia tidak bersyukur namanya," ujarnya.
Ketiga prinsip itu, menurut Arminsyah, juga diterapkan kepada putra putrinya.
Namun, penyampaiannya berbeda ketika menyampaikan prinsipnya itu ke anak buah di Kejaksaan.
"Penyampainnya tetap berbeda."
"Mereka bebas bicara, tentunya, saya akan kasih tahu juga, nanti kalau sudah besar, bekerja dengan semangat, sungguh-sungguh dan belajarlah selalu ikhlas dalam bekerja," katanya.
Ikhlas itu, kata Arminsyah, seperti lagu zaman dulu yakni Kasih Ibu.
"Kasih Ibu kepada beta."
"Tak terhingga sepanjang masa."
"Hanya memberi, tak harap kembali."
"Bagai sang surya, menyinari dunia," katanya mengutip bait lagu yang populer.
Diakui Arminsyah, memang ikhlas itu berat.
"Tapi, kalau sudah di titik di mana dia bisa ikhlas dalam bekerja, berbuat, memberi, tidak ada tuntutan apa-apa."
"Kita sebagai pegawai misalnya, sudah digaji, ya bekerja ikhlas lah."
"Nanti, pimpinan akan lihat."
"Kalau kita baik, pasti tanpa diminta juga dipromosikan," ujarnya.
"Anda boleh mencari pimpinan saya."
"Satu-satu tanya, pernahkah saya minta jabatan."
"Silakan dicari."
"Nggak pernah saya (minta jabatan)."
"Atau, dari anak buah saya di mana bekerja."
"Mungkin, ajudan saya dulu."
Tanya, pernahkah saya minta-minta jabatan," ujarnya.
Katanya, begitu mendapatkan perintah, langsung melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh dan semangat.
Arminsyah menyatakan, dia akan tetap memegang prinsip bahwa di mana dia bekerja, di situ ia mengabdi.
"Pimpinan adalah orangtua kita."
"Jadi, kalau pimpinan katakan A, kerjakan A."
"Jangan ada agenda-agenda terselubung, nggak baik."
"Lebih baik, sampaikan terus terang kalau nggak bisa."
"Itu lebih fair."
"Pak, saya nggak bisa pak, saya beban ini."
"Sampaikan, jangan iya-iya, belakangnya melenceng, nggak baik itu," ujarnya.
"Pimpinan sudah menggariskan kebijakan A, ya turunnya menuju ke A."
"Jangan pimpinan tetapkan A, terus diolah lagi, wah ini keliru."
"Itu yang bikin kacau sebenarnya," tegasnya.
Bahkan, Arminsyah pernah menyampaikan, kalian harus bekerja, jangan khawatir jabatan.
"Percayalah, jabatan itu memang sementara."
"Jangankan jabatan atau pangkat."
"Nyawa kita saja juga belum tentu berapa lama."
"Sampeyan yakin, besok masih hidup, apalagi dengan jabatan."
"Sudahlah, bekerja dengan baik."
"Layani masyarakat dengan baik," katanya.
Menurutnya, yang harus paling inti adalah, bagaimana masyarakat ini bisa sejahtera.
Apa pun pekerjaannya, rujukan akhirnya adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kebahagiaan masyarakat
Negara tentu ada yang merumuskan, bahagia itu yang utama.
Bahkan, kata dia, dijadikan target pembangunannya, parameternya bahagia.
Tingkat kebahagiaan itulah kemajuan suatu negara.
"Jadi, kita bekerja, apapun pekerjaannya."
"Mau bikin mobil, mau bikin pelabuhan, mau bikin pabrik, mau penegakan hukum, endingnya harus ke sana."
"Penegakan hukum juga harus ending ke sana."
"Penegakan hukum adalah meluruskan yang bengkok, mengatur yang kacau, membenarkan yang sudah tidak baik."
"Tapi, endingnya bukan harus orang dihukum sekian."
"Seperti Pak Presiden pada pidato beliau di DPR bahwa penegakan hukum bukan berapa banyak orang ditahan," ujarnya.
Arminsyah menegaskan, nenek moyang mengajarkan, toto tentrem kerto raharjo, yang bermakna menata supaya tidak kacau, supaya tidak bengkok.
"Siapa yang menata, hukum."
"Siapa orangnya, aparaturnya."
"Tapi, supaya tentram," katanya.
"Di sisa masa kerja saya, saya akan abdikan diri saya untuk kejaksaan dan pemerintah."
"Mau apa lagi, toh mati juga tidak dibawa-bawa."
"Tapi, bisa mengabdi kepada masyarakat adalah suatu hal yang sangat berguna."
"Sebagai manusia, yang utama adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain," katanya.
• Kisah Rifa yang Bekerja Sambil Kuliah Itu Menginspirasi Pegawai PJLP Wali Kota Jakarta Selatan
• Sesama Pemain Villa Terlibat Kontak Fisik di Lapangan Hijau Antara Rekan Mo Salah dan Tyrone Mings
• Fadli Zon Mengungkap Wacana Pindah Ibu Kota Menjadi Ironi di Tengah Pekatnya Kabut Asap Landa Negeri
• Ucapan Moeldoko Soal Kabut Asap agar Masyarakat Ikhlas Disambut Netizen Minta Dia Pindah ke Riau