Berita Daerah

Bocah 15 Tahun Dicabuli Kakek Hingga Melahirkan Bayi, Ini Kronologi dan Reaksi Orang Tua Korban

Seorang bocah 15 tahun dicabuli seorang kakek, dan aksi kakek cabuli bocah 15 tahun berlangsung dua tahun.

Bocah 15 Tahun Dicabuli Kakek Hingga Melahirkan Bayi, Ini Kronologi dan Reaksi Orang Tua Korban
Sriwijaya Post
Ilustrasi 

Kini, tersangka resmi menjadi tahanan jaksa.

Tersangka kemudian dititipkan pada Lembaga Pemasyarajatan (Lapas) Bukitsemut di Sungailiat sambil menunggu proses hukum selanjutnya bergulir.

"Status tersangka jadi tahanan jaksa sampai 20 hari ke depan, mulai Tanggal 12 September 2019 hingga Tanggal 1 Oktober 2019," kata Dede memastikan.

Dalam waktu dekat, perkara itu akan mereka limpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Sungailiat Bangka, guna proses sidang.

Ancaman Hukuman

Dede menyebutkan, perbuatan tersangka pelaku diduga telah melangar Pasal 81 Ayat 1, Ayat 2 dan Ayat 3 atau Pasal 82 Ayat 1 dan Ayat 2 Undang Undang (UU) RI Nomor 17 Tahun 2016.

UU tersebut mengatur tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 menjadi UU RI Nomor 35 Tahun 2018 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Menurut Dede, ancaman hukuman pada pasal dan undang-undang yang dimaksud relatif berat.

Hal itu dikarenakan korban yang merupakan anak di bawah umur atau belum dewasa.

Kasus itu dikategorikan tindak pidana persetubuhan atau pencabulan terhadap anak di bawah umur.

Kasus Serupa

Tindak pencabulan kakek kepada cucu juga terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur.

Dilansir Kompas.com, seorang kakek berinisial Ha (63), warga Kecamatan Sambutan, Samarinda, mencabuli cucunya sendiri selama dua tahun atau sejak 2017.

Kejadian ini terungkap setelah ibu korban melaporkan ke Polresta Samarinda, Senin (19/8/2019).

Kanit PPA Polresta Samarinda, Iptu Rihard Nixon, menceritakan, korban disetubuhi sejak berusia 13 tahun atau kelas enam SD.

Kejadian baru terungkap pada Agustus 2019.

Awal mulanya, korban tinggal bersama kakek dan nenek.

Kejadiannya waktu itu saat sang nenek masih hidup.

Saat korban dan neneknya tidur bersama.

Kakek tidur di kamar berbeda.

"Dulu korban sudah pernah melapor tapi nenek bilang nanti kita pukul dia (kakek). Kemudian nenek meninggal dan korban tidur di kamar tempat neneknya," cerita Rihard, Selasa (10/9/2019) di Kantor Polresta Samarinda.

Setelah nenek meninggal, korban sering ditemani tidur tantenya atau adik dari ibu korban.

Suatu ketika malam pukul 02.00 Wita dini hari, kakek sempat masuk kamar tidur sang korban.

Tangannya mencolek-colek kaki korban.

Korban mendengar, tetapi pura-pura tidur.

Aksi kakek diketahui tante korban.

"Tante korban sempat tanyai kenapa masuk kamar malam-malam. Tapi alasan sang kakek, mau lihat foto istrinya (nenek). Padahal di ruang tengah banyak foto nenek," tutur Rihard sebagaimana pengakuan tante korban.

Aksi si kakek pun berlanjut.

Suatu pagi, tante korban kembali mendapati aksi sang kakek sedang meremas tubuh korban di ruang tengah saat korban nonton televisi.

Dari situ, dia mulai curiga dan menceritakan kejadian ini ke ibu korban.

Namun, awalnya ibu korban tak percaya kakek senekat itu.

Sang ibu sempat menanyakan ke anaknya dua kali dan diakui anaknya disetubuhi oleh kakek.

Tapi lagi-lagi ibu kurang yakin karena tanpa bukti.

Puncaknya pada (12/9/2019) saat korban dibohongi sang kakek ke sekolah.

Padahal hari itu adalah hari libur.

Korban diajak ke sekolah dibawa putar-putar menggunakan motor.

Setelah itu kembali ke rumah kakek dan disetubuhi.

Aksi ini tercium oleh sang ibu korban.

Semakin curiga, ibu korban akhirnya berkonsultasi ke psikolog.

Keterangan psikolog menguatkan pengakuan korban.

Akhirnya, kejadian ini dilaporkan ke polisi.

Setelah divisum, ternyata kecurigaan ibu korban terbukti.

Korban telah disetubuhi beberapa kali oleh kakek tirinya itu.

"Tapi hasil pemeriksaan kami. Kakek itu belum mengaku. Tapi dari keterangan korban dan para saksi sudah mengarah ke kakek yang bersangkutan," jelasnya.

Kini, sang kakek ditetapkan sebagai tersangka.

Atas perbuatannya, sang kakek dijerat Pasal 81 dan 82 Undang- Undang nomor 17/2006 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Keterangan kakek, ia setiap pagi mengantar korban ke sekolah.

Namun, ia mengaku tak pernah menyetubuhi.

"Iya saya antar setiap pagi. Ibunya tidak pernah mengantar. Saya kasih uang saku Rp 7.000 tiap hari," kata sang kakek.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul "Kakek Cabuli Cucu Usia 15 Tahun hingga Melahirkan Bayi, Pondok Kebun Jadi Saksi Bisu Selama 2 Tahun"

Editor: Panji Baskhara
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved