Jakpro Pastikan Akan Melanjutkan Proyek Jakarta International Stadium

PT Jakarta Propertindo (Jakpro) memastikan proyek pembangunan Jakarta International Stadium (JIS) tetap berjalan.

Jakpro Pastikan Akan Melanjutkan Proyek Jakarta International Stadium
Istimewa
Design JIS atau stadion BMW. 

PT Jakarta Propertindo (Jakpro) memastikan proyek pembangunan Jakarta International Stadium (JIS) tetap berjalan, meski DPRD DKI Jakarta meminta agar lelang tender diulang.

Alasannya, Jakpro selaku pemilik proyek itu berpedoman pada Peraturan Gubernur (Pergub) sebagai landasan dalam mengerjakan pembangunan stadion. “Jelas kalau kami perintahnya dari Pergub, karena dalam Pergub diperintahkan Jakpro membangun,” kata Direktur Konstruksi JIS Jakpro, Iwan Taswin, Rabu (11/9/2019).

Iwan mengataakan, aturan itu menjelaskan ada tenggat waktu yang harus diselesaikan Jakpro dalam membangun JIS. Karena itu, Jakpro wajib mematuhi aturan tersebut. “Di dalam Pergub ada deadline yang harus dipenuhi apa lagi ini kegiatan staregis daerah, yang prosesnya dimonitor dan perizinannya juga dimonitor, sehingga kami harus melaporkan progresnya untuk memenuhi target,” ujar Iwan.

Anies Baswedan Sebut Media Massa Utang Budi Kepada BJ Habibie

Lukas Graham Siap Tampil Di Indonesia Lewat Konser The Purple Asian Tour Live In Jakarta 2019

Sold Out, Seluruh Tiket VIP Package Balkonjazz Festival 2019 di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur

Sebelumnya, DPRD DKI Jakarta Fraksi PDI Perjuangan meminta Jakpro untuk mengulang lelang tender proyek tersebut. Dewan menengarai adanya polemik antara dua Kerja Sama Operasional (KSO) dalam membangun JIS.

KSO di antaranya Wika Gedung, Jaya Konstruksi dan PT Pembangunan Perumahan (PP) dengan KSO PT Adhi Karya-Hutama Karya-Nindya Karya-Indah Karya. Saat itu panitia lelang memilih penawaran KSO Wika Gedung, Jaya Konstruksi dan PT Pembangunan Perumahan senilai Rp 4,08 triliun. Angka ini lebih tinggi dibanding penawaran KSO PT Adhi Karya-Hutama Karya-Nindya Karya-Indah Karya sebesar Rp 3,78 triliun.

Keberatan

Sekretaris Perusahaan PT Adhi Karya, Ki Syahgolang Permata saat dikonfirmasi, mengaku, sudah melayangkan surat keberatan mengenai hal itu kepada Jakpro. Kata dia, kedua KSO sebetulnya dinyatakan lulus secara teknis dalam proses lelang itu.

Bahkan penawaran KSO-nya lebih rendah dibanding KSO Wika gedung, Jaya Konstruksi dan PT PP. Namun, peserta yang dinyatakan sebagai pemenang justru KSO Wika Gedung-Jaya Konstruksi-PP yang menawarkan harga lebih mahal.

KPK Nyatakan Firli Bahuri yang Kini Capim KPK Lakukan Pelanggaran Berat, Ini Daftar Pelanggarannya

Agensi Bantah Rumor Honey Lee Putus dari Yoon Kye Sang

Indonesia Incar Poin di Nomor Tunggal di Piala Davis

Protes yang dilayangkan itu juga dipicu dengan posisi Wika Gedung sebagai perusahaan yang tidak diundang dalam mengikuti lelang. “Perusahaan yang diundang untuk mengikuti lelang adalah PT Wijaya Karya, sedangkan Wika Gedung merupakan anak perusahaan Wijaya Karya,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Direktur Konstruksi JIS JakPro Iwan Taswin mengatakan pihaknya mengutamakan kualitas dan ketepatan waktu dalam menentukan pemenang proyek ersebut. Kata dia, penilaian yang dilakukan tim teknis sangat detail, mulai dari perencanaan, desain, metode konstruksi, material hingga jadwal penyelesaiannya.

“Dua perserta lelang ini disandingkan, proposal teknisnya kemudian muncul skor teknis, dari skor itu ada yang lebih tinggi ada yang lebih rendah, yang rendah ini karena ada beberapa item yang tidak dia penuhi dari beberapa kategori nah itu mempengaruhi skor,” kata Iwan.

Ancol Taman Impian Jadi Destinasi Wisata Eksotis dari Tepi Laut Jakarta

Bangun Bungker Tanpa Izin, Rumah Indekos Dibongkar Petugas Satpol PP Jakarta Selatan

Sidang Kasus Penipuan Alkes Senilai Rp 16 Miliar Keluarga Korban Teriak Minta Uang Dikembalikan

Tahap selanjutnya adalah harga. Dari dua tahap ini pihaknya lalu mengakumulasikan skornya, sehingga munculah total skor yang menentukan peringkat pemenang. Bagi KSO yang dibilang harganya lebih rendah, itu tidak bisa mengakat skor teknis mereka yang kurang setelah diakumulasi.

“Di proposal teknis perencanaan dia juga ada item yang tidak terpenuhi, sedangkan kami porsi tekniknya lebih tinggi. Teknik itu komposisinya 70 persen dan harga 30 harga. Kami mau kualitas karena ini bangunan spesifik bangunan khusus dan standar internasional,” jelasnya.

Sementara terkait keluhan posisi Wijaya Gedung, kata dia, aturan main dalam proyek lelang ini berlaku bagi induk maupun anak perusahaan. “Di kami boleh BUMN atau anak perusahaannya, jadi Wika Holding itu sudah bersurat bahwa mendelegasikan menguasakan anak perusahaannya untuk mengikuti,” ungkapnya.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Agus Himawan
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved