Breaking News:

Ormas Boleh Hidup, Tidak Boleh Melawan Negara

nasionalisme saat ini perlu ditafsirkan sebagai nasionalisme yang membela nilai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Editor:
Dokumentasi Benny Sabdo
Benny Sabdo (tengah) selaku editor buku Ancaman Radikalisme dalam Negara Pancasila saat melakukan diskusi bedah buku baru-baru ini. 

WARTA KOTA, PALMERAH--- Pengajar FISIP Universitas Indonesia Ade Armando menyatakan ancaman terbesar NKRI lima tahun ke depan, yakni radikalisme.

Menurut Ade, gerakan radikal bertentangan dengan NKRI dan Pancasila.

"Perkara korupsi dan narkoba. Memang tidak mudah kita perangi tapi penyelesaiannya simpel. Kuncinya berada pada penegakan hukum yang tegas. Tapi perkara radikalisme itu ibarat kanker ganas," kata Ade Armando dalam bedah buku bertajuk Ancaman Radikalisme dalam Negara Pancasila di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

10 Cara Turunkan Berat Badan Tanpa Olahraga, Satu di Antaranya Matikan Lampu saat Tidur?

Hadir dalam acara ini sebagai pengulas Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri, Bahtiar, mengatakan sikap pemerintah akan tegas terhadap ormas yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

Ormas boleh hidup tapi tidak boleh melawan negara.

Ormas tidak boleh menjadi racun demokrasi.

"Ormas yang tidak sesuai dengan Pancasila, kami bubarkan," kata Bahtiar yang lulusan Doktor Ilmu Pemerintahan UNPAD ini.

Setelah Facebook, Telegram Berencana Rilis Mata Uang Kripto Bernama Gram

Direktur Eksekutif PARA Syndicate, Ari Nurcahyo, menyoroti nasionalisme saat ini perlu ditafsirkan sebagai nasionalisme yang membela nilai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Menurutnya, Pancasila perlu diterjemahkan dalam laku kehidupan sehari-hari.

"Lembaga seperti BPIP menjadi tidak relevan. Lebih baik praktik Pancasila langsung diejawantahkan di level kementerian dan birokrasi," kata alumnus ITB ini.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved