Breaking News:

Pencari Suaka Bertikai Gara-gara Berebut Makanan, Sebagian Lalu Memilih Tinggal di Trotoar Kalideres

KERICUHAN sempat terjadi di lokasi penampungan pencari suaka di gedung eks Kodim, Kalideres, Jakarta Barat.

Editor: Yaspen Martinus
WARTA KOTA/JOKO SUPRIYANTO
Beberapa perabotan milik pencari suaka diletakkan di trotoar depan gedung eks Kodim Kalideres, pasca-bentrokan pada Kamis (22/8/2019) malam. 

Sebelumnya, United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) meminta pemerintah memberdayakan pencari suaka sebagai pekerja di Tanah Air.

UNHCR adalah penanggung jawab ribuan pencari suaka di Kalideres, Jakarta Barat.

UNHCR mengaku memiliki keterbatasan membantu para pencari suaka, yang kini hidup di penampungan di gedung eks Kodim Kalideres.

 Ibu Kota Pindah, Wali Kota di Jakarta Bakal Dipilih Langsung Lewat Pilkada

“Kami lihat mereka memiliki keahlian dan kapasitas untuk membantu menghidupi mereka sendiri,” kata Senior Protection Officer UNHCR Julia Zajkowski, saat Rapat Penanganan Pencari Suaka di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (21/8/2019).

"Dan pemerintah bisa merekrutnya sebagai bentuk kontribusi mereka karena telah dibantu hidup di Indonesia,” imbuhnya.

Acara itu dihadiri oleh Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi, pihak Kementerian Luar Negeri, UNHCR, International Organization for Migration (IOM), Dinas Kesehatan DKI, dan Satpol PP DKI.

 Cak Imin Minta Maaf Gagal Jadi Cawapres, Lalu Terpilih Lagi Jadi Ketua Umum PKB

Menurut dia, UNHCR sedang melakukan kajian jangka menengah untuk mengidentifikasi pemberian bantuan dari lembaga sosial tersebut.

Kajian ini bertujuan menentukan sosok pencari suaka yang rentan, sehingga mereka berhak mendapatkan bantuan berupa uang tunai.

Kata dia, pencari suaka yang rentan ini tidak hanya mendapatkan bantuan.

 PSI Tolak Pin Emas DPRD DKI Jakarta, Lebih Pilih Beli Tiruannya di Toko Online

Mereka juga memperoleh kartu identitas berstatus pengungsi yang dikeluarkan oleh lembaga UNHCR.

“Kami menyadari bantuan yang diberikan ini tidak berkesinambungan untuk kebutuhan mereka selanjutnya."

"Karena itu, kami menyampaikan ide jangka panjang kepada pemerintah untuk memberdayakan mereka,” jelasnya.

 Masa Jabatan Cuma di Bawah Lima Tahun, Kepala Daerah Hasil Pilkada 2020 Bakal Dapat Ganti Rugi Gaji

Hal itu disampaikan Julia saat menanggapi wacana pengosongan pencari suaka di gedung eks Kodim Kalideres, Jakarta Barat, Senin (31/8/2019) mendatang.

Bahkan, DKI telah menghentikan bantuan berupa kesehatan, logistik, dan air kepada 1.192 pencari suaka dari berbagai negara di sana mulai Rabu (21/8/2019) malam.

“Kami menyadari bahwa keputusan pemerintah yang akan menutup penampungan pencari suaka di Kalideres pada 31 Agustus 2019 mendatang."

 BREAKING NEWS: Papua Barat Membara Lagi, Kali ini Aksi Pembakaran Merembet ke Fakfak

"Untuk itu kami melakukan kajian jangka menengah dan panjang ini,” imbuhnya.

Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi lantas menolak permintaan UNHCR supaya pemerintah memberdayakan para pencari suaka di Kalideres, Jakarta Barat.

Kata pria yang akrab disapa Pras ini, keputusan pemerintah merekrut pencari suaka menjadi pekerja, justru menimbulkan polemik baru.

 Fahri Hamzah: Presiden Harus Berikan Jaminan Perasaan kepada Masyarakat Papua

“Orang Indonesia saja masih banyak yang menganggur, kok ini malah minta diberdayakan?"

"Nanti stigma yang timbul justru Indonesia sebagai negara tanpa visa, bebas menerima pekerja asing secara besar-besaran,” ucap Pras, seusai Rapat Penanganan Pencari Suaka di DPRD, Rabu (21/8/2019).

Dalam kesempatan itu, Pras justru lebih setuju agar ribuan pencari suaka di sana dikembalikan ke negara asalnya, alias dideportasi.

 Prajurit Berpangkat Pratu Ini Ungkap Jumlah Gajinya kepada Panglima TNI, Juga Bilang Pacarnya Setia

Namun, UNHCR sebagai penanggung jawab pengungsi, sebaiknya berkoordinasi dengan Kantor Imigrasi setempat, mengenai rencana kepulangan mereka ke negara ketiga atau negara asalnya.

“Paling banyak mereka (pencari suaka) ingin pindah ke Australia, ya kami harap lembaga terkait bisa memfasilitasi mereka,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Pras juga mempertanyakan legalitas para pencari suaka melalui kartu pengungsi yang diterbitkan UNHCR.

 Fakfak Rusuh, Kominfo Lambatkan Akses Internet

Kata dia, UNHCR harus menggandeng Kantor Imigrasi untuk mengetahui apakah kedatangan mereka legal atau ilegal.

“Harus dicek itu, mereka datang pakai paspor atau tidak?"

"Kan bisa saja mereka masuk ke Indonesia tanpa menggunakan paspor lewat jalur laut atau kapal nelayan,” tuturnya.

 FOTO-FOTO Pohon Tumbang di Universitas Pancasila, Dua Orang Jadi Korban

Senior Protection Officer UNHCR Julia Zajkowski mengatakan, pihaknya selalu berkoordinasi dengan Kantor Imigrasi dalam mendata para pencari suaka di sana.

Bahkan, pihaknya telah mengecek secara seksama dan merinci melalui serangkaian wawancara dan pemeriksaan berkas kepada para pencari suaka di sana.

“Kami melakukan kajian yang sangat teliti mengenai siapa pencari suaka yang berhak mendapat status pengungsi."

 Jusuf Kalla Ungkap Besarnya Perhatian Pemerintah kepada Papua, Disubsidi Hampir Rp 100 Triliun!

"Kami melakukan kajian berdasarkan standar internasional dan nasional yang tercantum di Perpes (Peraturan Presiden) Nomor 125 tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri,” ulasnya.

Kata dia, dengan adanya kejadian ini justru lembaganya memaksimalkan koordinasi dengan Kantor Imigrasi.

Sebagai gambaran, dari total pengungsi yang ditangani UNHCR, sekitar 65 persen mendapatkan kartu identitas, sedangkan sisanya 35 persen ditolak.

 Gugat PLN, Azas Tigor Nainggolan Minta Ganti Rugi Rp 6.500

“Mereka yang ditolak tentu tidak mendapatkan kartu, dan status mereka sudah kami laporkan ke Imigrasi untuk dikembalikan ke negara asalnya,” jelasnya.

Pemprov DKI Hentikan Bantuan

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bakal menghentikan bantuan kepada ribuan para pencari suaka di gedung bekas Kodim, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat mulai Rabu (21/8/2019) malam.

Penghentian bantuan itu berupa air, listrik, kesehatan, hingga bantuan makanan.

Kepala Satuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DKI Jakarta Taufan Bakri mengatakan, penghentian layanan ini sebagai bentuk sosialisasi.

 Parahnya Pencemaran Kali Bekasi, Ikan Sapu-sapu yang Tangguh Pun Tewas

Kata dia, pada Sabtu (31/8/2019) nanti, pemerintah akan melakukan pengosongan terhadap para pencari suaka di gedung eks Kodim Kalideres.

“Pengosongan dilakukan karena satuan pelaksana dari Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam) telah berakhir.

Kegiatan ini juga dilakukan karena ketidakmampuan kami menunjang bantuan sosial untuk mereka,” kata Taufan saat Rapat Penanganan Pencari Suaka di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (21/8/2019).

 BREAKING NEWS: Satu Korban Pohon Tumbang di Universitas Pancasila Meninggal, Ini Identitasnya

Kata Taufan, kegiatan ini dihentikan karena bantuan yang dimiliki oleh DKI dan dari para donatur juga terus menipis.

Bahkan, UNCHR pun mengalami keterbatasan yang sama.

Mereka tidak mampu terus menanggung kehidupan ribuan para pencari suaka di gedung eks Kodim Kalideres.

 Kronologi Warga Tangerang Tewas Tertimpa Pohon Tumbang di Universitas Pancasila, Sedang Tunggu Anak

“Intinya kami sosialisasikan mulai malam ini, dengan harapan mereka bisa keluar dari gedung itu pada Sabtu (31/8/2019) nanti,” ucapnya.

Setelah para pencari suaka itu dikeluarkan dari gedung eks Kodim, maka UNHCR dan IOM yang menanggungnya.

Meski demikian, pemerintah daerah akan terus melakukan pengawasan mengenai aktivitas dari para pencari suaka ini.

“Pemprov kemampuannya terbatas, karena itu kami kerja sama dengan semua aspek kemanan, Intelijen, Kemenpolhukam untuk bantu mengawasi,” paparnya. (Joko Supriyanto/Fajar Alfajri)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved