Berita Jakarta

Wacana Kota Bekasi Jadi Jakarta Tenggara, Gubernur Anies Bilang Begini

Jadi secara prinsip Pemprov DKI harus mentaati keputusan pemerintah pusat,” katanya, Senin (19/8).

Wacana Kota Bekasi Jadi Jakarta Tenggara, Gubernur Anies Bilang Begini
Warta Kota/Junianto Hamonangan
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan 

"Biarkan Bekasi seperti ini adanya dengan sejarah dan keasliannya. Jakarta engga ke urus mau urus bekasi. Saya lebih setuju jadi kota mandiri seperti kota-kota lainnya seperti Depok, Tanggerang, Bogor, Bandung dan lainnya," jelas dia.

Begitu juga netizen bernama Muhammad Yusuf yang tidak setuju Bekasi masuk ke DKI Jakarta.

"Engga setuju mending buat provinsi baru aja. Gabungan Bekasi, Karawang, Depok dan Bogor. Bekasi dan Karawang jadi lokasi industri, Depok pendidikan dan Bogor wisata," kata netizen tersebut.

Polda Metro Jaya Musnahkan 71, 8 kg Sabu dan 15.326 Butir Ekstasi

Sebelumnya, Sejarahwan Bekasi juga ikut mengomentari soal ramainya pembicaraan terkait tawaran untuk bergabungnya Kota Bekasi menjadi bagian dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Kalau istilah saya si itu bukan bergabung tapi kembali ke Jakarta, kembali ke DKI Jakarta," ujar Ali Anwar kepada Wartakota, Senin (19/8/2019).

Ali Anwar menjelaskan hal itu dikarenakan Bekasi dahulu merupakan bagian dari Jakarta bukan dari Jawa Barat.

Dahulu pada abad ke 16 Bekasi itu masuk ke wilayah Jayakarta atau DKI Jakarta.

VIDEO: Semangatnya Siswa Berkebutuhan Khusus Ephphatha Indonesia Ikuti Upacara HUT ke-74 RI

Bahkan setelah dikuasi oleh penjajah Belanda dan berubah nama menjadi Batavia, Bekasi masih masuk ke wilayah tersebut.

Akan tetapi mulai berpisahnya Bekasi dan masuk bagian dari Provinsi Jawa Barat ketika tahun 1950.

Ketika itu, Indonesia menjadi negara bagian atau Republik Indonesia Serikat (RIS).

Kala itu Jakarta menjadi negara bagian distrik vederal Jakarta dan Jawa Barat menjadi negara pasundan.

"Ketika itu tokoh masyakat Bekasi dan Cikarang tidak ingin bekasi masuk wilayah keduanya. Mereka ingin tetap NKRI tidak negara bagian," ujar Ali Anwar.

Ali Anwar menjelaskan berdasarkan hasil wawancaranya dengan beberapa tokoh-tokoh militer waktu itu, salah satunya Lucas Kustaryo. Alasan Bekasi keluar dari wilayah Jakarta dikarenakan khawatir Belanda kembali melanggar perjanjian.

"Walaupun sudah ada kedaualatan, tapi dari pengalaman Belanda ini kan sering ingkar janji. Maka wilayah Jakarta harus dipersempit sehingga Bekasi keluar dari Jakarta," ungkap dia.

VIDEO: Puluhan Pasien Gangguan Jiwa di Bekasi Ikuti Upacara HUT ke-74 RI

Wilayah Bekasi sebelum masa revolusi dan setelah masa revolusi menjadi basis pertahanan Indonesia khususnya Jakarta dari pasukan penjajah baik, ketika penjajang Belanda, Jepang maupun ketika agresi militer oleh Belanda yang kembali lagi ke Indonesia.

"Jadi keluar dari Jakarta maksudnya bukan karena ingin masuk ke Jawa Barat. Bekasi inginnya masuk NKRI. Tapi pada kenyataannya ketika Belanda benar-benar hengkang ke negaranya dan RIS jadi NKRI nah Bekasi digabung ke dalam wilayah Jabar," jelas Ali Anwar.

Irionisnya ketika Bekasi masuk ke Provijsi Jawa Barat, Bekasi justru tidak sejahtera. Dari segi ekonomi saja Jakarta dan Jawa Barat berbeda jauh.

Kemudian pada tahun 1980 hingga 1990 ketika berdiri kawasan industri di Bekasi, ternyata banyak anak-anak pejuang yang tidak bisa masuk kerja, anak-anak Bekasi susah masuk kerja dan pengangguran tetap banyak.

"Kita lihat disini, tingkat pusat dan Jabar tidak begitu peduli dengan Bekasi. Makanya pembangunan Bekasi begitu lamban tapi DKI begitu cepat. Nah ada keinginan dari tokih masyarakat, atau Walikota termasuk dari saya juga mending kita kembali saja Jakarta," ucap dia.

Bahkan ketika sesi wawancara, tokoh-tokoh yang dahulu pernah menuntut keluar dari Jakarta sedikit menyesalkan hal itu.

"Berat memang dahulu kondisinya, saat terbentuk negara bagian Bekasi harus memilih keluar dari DKI karena harus menjadi basis pertahanan dan mempersempit wilayah Jakarta ketika nanti Belanda ingkar janji," paparnya. (MAZ)

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Ahmad Sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved