Berita Bekasi

Walau Bebas Antraks, Ada 40 Hewan di Kota Bekasi Tak Layik Dikurbankan, Ini Penyebabnya

Hanya 0,21 persen hewan tak layik dikurbankan di Kota Bekasi, dan tak ditemukan adanya hewan kurban antraks di Kota Bekasi.

Walau Bebas Antraks, Ada 40 Hewan di Kota Bekasi Tak Layik Dikurbankan, Ini Penyebabnya
WARTA KOTA/DWI RIZKI
Ilustrasi pemeriksaan hewan kurban 

Agar, para donatur bisa mendapat keberkahan yang melimpah dari hewan yang disalurkan.

Dalam kesempatan itu, dia juga mengklaim hewan kurban hasil inti plasma di Desa Gadu, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini lebih murah dibanding penjual lainnya.

Kata dia, biasanya satu ekor kambing dengan bobot 27-30 kilogram dijual Rp 3 jutaan.

Namun pihaknya hanya menjual Rp 1,65 juta ke para donatur.

"Harga hewan kurban sebetulnya murah kalau diperoleh dari peternak langsung"

"Persoalannya yang membuat harganya naik adalah banyaknya perantara atau mata rantai penjualan hewan kurban," ujarnya.

Tidak hanya kambing, ACT juga melayani penjualan hewan kurban untuk keperluan Idul Adha 1440 H pada Agustus 2019 mendatang.

Misalnya sapi seberat 220 kilogram atau lebih dengan nilai Rp 11,55 juta, unta seberat 300 kilogram atau lebih seharga Rp 27,5 juta, domba Gaza berat 45 kilogram atau lebih harga Rp 4,75 juta dan sapi Gaza berat 400 kilogram atau lebih harga Rp 33,25 juta.

Hewan Kurban di Depok Tak Ditemukan Penyakit

Sebanyak 20.242 ekor hewan kurban dari 266 lapak telah dicek kesehatannya oleh tim petugas dari Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Depok.

Hasilnya, petugas belum menemukan adanya penyakit zoonosis atau penyakit infeksi menular pada hewan.

Namun masih ditemukan penyakit ringan pada hewan kurban yang didatangkan dari luar Kota Depok seperti flu dan sakit mata.

Kepala DKP3 Kota Depok, Diah Sadiah, memprediksi faktor perjalanan jauh menuju Depok bisa menjadi indikasi hewan kurban menderita penyakit flu dan sakit mata tersebut.

Lebih lanjut Diah menyarankan kepada para pemilik lapak yang beberapa hewannya mengalami sakit ringan untuk segera diobati dan dipisahkan dari hewan lainnya supaya tidak tertular.

Kedepannya untuk menghindari penyakit serupa, Diah menginstruksikan untuk hewan kurban yang didatangkan dari luar kota harus mempunyai surat keterangan sehat terlebih dulu.

“Kami sarankan kepada para pelapak untuk segera mengobati hewan yang sakit dan dipisahkan dari hewan lainnya,” tegas Diah kepada Wartakotalive.com, Selasa (6/8/2019).

“Hewan yang didatangkan dari luar Depok juga wajib mempunyai surat keterangan sehat dari daerah pengirim sehingga datang di Depok hewan tersebut sehat,” tuturnya.

Pemeriksaan terhadap hewan kurban dilakukan petugas DKP3 Kota Depok sejak H-10 atau Kamis (1/8/2019) lalu.

“Update sampai tanggal 6 Agustus sore telah diperiksa 266 lapak, dengan jumlah hewan 20.242 ekor dan Alhamdulillah belum ditemukan penyakit zoonosis,” ungkap Diah lagi.

Di sisi lain, Diah juga berharap para penjual dan pembeli bisa memilih hewan yang sehat, cukup umur dan memenuhi syarat dari segi bobotnya, sebab kurban juga merupakan ibadah.

“Karena kurban ini ibadah, penjual dan pembeli saya harapkan memilih hewan yang sehat, cukup umur, dan gemuk,” ucap mantan Kepala Disnaker Kota Depok itu.

Penulis: Anggie Lianda Putri
Editor: Panji Baskhara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved