Breaking News:

Kampoeng Legenda Mal Ciputra Jakarta, Momen Kenalkan Kuliner Legendaris Kepada Kaum Muda.

Kampoeng Legenda kali ini menghadirkan cita rasa autentik dari 34 provinsi di Indonesia yang dihadirkan langsung dari daerah asalnya.

Dok. Ciputra Mall Jakarta
Para pelaku bisnis kuliner mengikuti parade dengan membawa langsung hasil olahan kulinernya saat pembukaan Kampoeng Legenda Mal Ciputra Jakarta, Kamis (8/8/2019). 

Sementara dari Solo: Tengkleng Rica Rica Kambing Pak Manto (1990) Nasi Liwet Bu Wongso Lemu Asli (1950) ; Madura: Bebek Sinjay Asli Bangkalan Madura (2000) ; Semarang: Asem-Asem Koh Liem (1978), Toko OEN Semarang (1930), Pisang Plenet Mbah Toerdi Jalan Pemuda (1952), Warung Makan Mangut Manyung Bu Fat (1969).

Dari Bangka: Otak-otak Ase, Jogjakarta : Gudeg Yu Djum (1951), Bale Raos (2003) ; Bali: Sate Babi Bawah Pohon (1997), Babi Guling Karya Rebo (1991) ; Cirebon: Nasi Jamblang Mang Dul (tahun 1970) ; Bandung: Kupat Tahu Gempol (1965) .

Dari Jakarta sebagai tuan rumah dihadirkan: Kwe Cab Abong (1983), Soto & Sop Kaki Sapi H. Agus Barito (1987), Pempek Megaria (1989), Rujak Shanghai Encim (1950), Pisang Goreng Madu Bu Nani (2007) Ketan Susu Kemayoran (1958), Kopi Es Tak Kie (1927), serta masih banyak lagi kuliner legendaris lainnya.

Ferry berharap, dengan adanya event ini, pengunjung Ciputra Mall Jakarta juga meningkat 5-7 persen dari biasanya. Rata-rata jumlah pengunjung di mal ini saat weekday antara 35-40 ribu, dan saat weekend dari hari Jumat, antara 50-60 ribu. “Dengan adanya event ini, kami harap bisa tambah 3.500-an pengunjung lagi,” harap Ferry.

Resep keluarga

Event tersebut juga dirasakan manfaatnya bagi para pelaku bisnis kuliner. Bekti Mulyani, pengelola Warung Makan Mangut Manyung Bu Fat  yang eksis sejak 1969 di Semarang, Jawa Tengah, mengaku dirinya akhirnya berani membuka cabang di Jakarta setelah mengikuti event tersebut tiap tahunnya.

Warung Makan Mangut Manyung Bu Fat awalnya dikelola oleh Nyonya Fatmawati, ibu kandung Bekti Mulyani. Sebagai anak keempat, Bekti mewarisi resep keluarga yang diperoleh dari ibunya untuk mengolah mangut manyung.

“Cabang di Jakarta sekarang generasi ketiga, dikelola anak saya. Omzetnya malah melebihi dari warung yang di Semarang. Manyung langsung dikirim dari Semarang dua hari sekali. Empat kuintal manyung bisa untuk dua hari. Di Semarang per hari sekitar satu kuintal,” kata Bekti Mulyani.

Selain membuka cabang di Jalan Cempaka Putih Raya Nomor 19, Jakarta Pusat, Bekti juga berencana membuka warung cabang di daerah potensial lainnya seperti di Bandung dan Bintaro, Tangerang.

Penulis: Ichwan Chasani
Editor: Ichwan Chasani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved