Breaking News:

Infrastruktur

Jakpro Merugi Rp 1,2 Miliar Per Bulan Untuk Merawat Velodrome Rawamangun

PT Jakarta Propertindo menuntut kejelasan status pengelolaan atas Velodrome Rawamangun, Jakarta Timur.

Warta Kota/Ika Chandra Viyatakarti
Velodrome Rawamangun, Jakarta Timur, dilihat dari Stasiun LRT Velodrome. 

PT Jakarta Propertindo meminta Pemprov DKI segera memperjelas status pengelolaan atas Velodrome Rawamangun

Stadion yang menjadi salah satu lokasi kegiatan lomba pada penyelenggaraan Asian Games 2018 lalu itu saat ini belum  bisa dimanfaatkan secara optimal.

Penyebabnya, belum ada serah terima antara PT Jakarta Propertindo selaku pengembang kepada Pemprov DKI sebagai pemilik aset itu. 

"Kami sudah tiga kali kirim surat kepada Pemprov DKI untuk menanyakan kejelasan aset, apakah punya Jakpro atau Pemprov?" ujar Direktur Utama PT Jakarta Propertindo Dwi Wahyu.

Akibatnya, Jakpro harus mengeluarkan dana ekstra untuk merawat stadion balap sepeda itu agar tetap dalam kondisi baik. 

Setiap bulan, Jakpro menghabiskan Rp 1,2 miliar untuk membayar listrik (Rp 700 juta), kebersihan (Rp 300 juta), dan keamanan (Rp 200 juta). 

Kabakaran Hanguskan Sebuah Gudang di Venue Asian Games 2018 Velodrome Rawamangun

"Kami serba sulit kondisinya. Kalau tidak merawat salah. Tapi, BPK (Badan Pemeriksa Keuangan--Red) bisa mempertanyakan, 'kenapa belum diserahkan kok dirawat?'," kata Dwi Wahyu.

Dwi menjelaskan, dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 14 Tahun 2016, PT Jakpro itu hanya ditugaskan untuk membangun Velodrome, bukan untuk mengelola.

Hal itu berbeda situasinya dari Equastrian, stadion balap kuda di Pulomas, yang dikelola langsung oleh Jakpro setelah pembangunannya.

Ketidakpastian tersebut, kata Dwi, menyebabkan PT Jakpro sulit untuk mengoptimalkan pemanfaatkan Velodrome, karena tidak adanya dasar hukum.

Halaman
123
Penulis:
Editor:
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved