Ekspor Impor

Pemerintah Diharap Tuntaskan Lebih Banyak Lagi Perjanjian Dagang dengan Negara Lain

Pengusaha, kata dia, memiliki kerterbatasan dalam melakukan ekspor. Alhasil hanya negara-negara tertentu saja yang bisa menjadi sasaran.

Pemerintah Diharap Tuntaskan Lebih Banyak Lagi Perjanjian Dagang dengan Negara Lain
Warta Kota/Henry Lopulalan
Presiden Joko Widodo dengan sejumlah Menteri ketika melepas ekspor komoditas Indonesia menggunakan kapal kontainer berukuran raksasa ke sejumlah negara di Terminal JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu 

Pemerintah diharap bisa terus menggencarkan lobi dagang ke negara-negara non-tradisional.

Langkah ini dinilai cara yang tepat dalam mereduksi risiko di tengah perang dagang global.

Penyelesaian free trade agreement (FTA) maupun preferential trade agreement (PTA) ke pasar baru potensial diharapkan terus digenjot dan lebih banyak diselesaikan sampai akhir tahun nanti.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Danang Girindrawardana menyatakan, visi dari pembuatan FTA dan PTA amatlah bagus karena bisa menjaring potensi pasar yang lebih besar guna mengganti hilangnya nilai ekspor ke Amerika Serikat (AS) maupun China.

“Kita akan lebih mudah berdagang dengan negara-negara yang mempunya perjanjian dagang dengan Indonesia,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Senin (29/7).

Saat ini, menurutnya, sudah banyak perjanjian dagang yang digagas dan diupayakan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita.

Namun, banyak yang di antaranya juga yang belum selesai. Ia berharap sampai akhir tahun, perjanjian dagang ke negara-negara Rusia, Asia Tengah, dan Asia Selatan bisa segera diselesaikan dan diimplementasikan.

VIDEO: Menekan Polusi Udara, Motor Listrik di GIIAS Jadi Magnet Pengunjung

Danang berpendapat, negara-negara tersebut memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di tengah gejolak global.

“Kalau kita bisa dagang ke mereka dengan lebih baik, bisa mengatasi masalah-masalah hubungan dengan Uni Eropa juga,” ujarnya.

Penggencaran lobi pasar nontradisional untuk ke depannya juga mesti terus digiatkan. Ini untuk semakin mengurangi ketergantungan perdagangan dengan China dan AS.

Halaman
12
Editor: Ahmad Sabran
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved