Penembakan
Ini Analisa Pakar Psikologi Forensik soal Penembakan Bripka Rachmat Oleh Brigadir Rangga
Bripka Rachmat Effendy tewas ditembak dengan tujuh peluru di tubuhnya oleh Brigadir Rangga Tianto (32), personel Baharkam Polri.
Penulis: Budi Sam Law Malau |
SEMANGGI, WARTAKOTALIVE.COM -- Staf Subdit Regident Ditlantas Polda Metro Jaya Bripka Rachmat Effendi tewas ditembak 7 kali peluru ditubuhnya oleh Brigadir Rangga Tianto (32), personel Baharkam Polri.
Penembakan terjadi di Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polsek Cimanggis, di Jalan Raya Bogor, Kota Depok, Kamis malam sekitar pukul 20.50 WIB
Pemicunya keduanya sempat cekcok terkait diamankannya seorang remaja pelaku tawuran yakni FZ.
FZ digelandang Bripka Rachmat Effendy (41), selaku Ketua Pokdarkamtibmas Cimanggis ke Polsek Cimanggis berikut celurit yang dibawa FZ.
Bripka Rangga yang diketahui paman FZ meminta FZ dikembalikan ke orangtua untuk dibina.
Namun Bripka Rachmat yang mengamankan FZ menolaknya dan siap menjadi saksi melaporkan FZ.
Penolakan yang dianggap dilakukan dengan nada tinggi membuat Brigadir Rangga emosi dan akhirnya memberondong Bripka Rachmat Effendy dengan 7 peluru hingga tewas.
Menanggapi peristiwa tersebut Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan keberadaan atau kepemilikan senjata api sendiri memang melipatgandakan agresivitas.
"Ini adalah Teori Efek Senjata. Memang bertentangan dengan asumsi bahwa niat mendahului perilaku.
"Akibat keberadaan senjata, individu bisa sewaktu-waktu terprovokasi oleh senjatanya untuk menggunakannya, betapa pun tanpa niat sejak awal.
"Bayangkan jika efek senjata itu bertemu dengan rangsangan dari luar.
"Maka probabilitas munculnya perilaku agresif akan semakin tinggi," papar Reza kepada Warta Kota, Jumat (26/7/2019).
Sebelumnya Reza menilai tembakan yang sedemikian banyak yang dilepaskan Brigadir Rangga ke Bripka Rachmat, sangat mengundang tanda tanya.
"Menjadi penting diketahui apa isi pembicaraan mereka. Karena boleh jadi ada sesuatu yang membuat emosi naik tajam.
"Kalau sebatas bicara nada agak keras sebagai pemicunya, itu sepertinya biasa dalam komunikasi di lembaga semacam kepolisian.
"Apalagi dalam konteks senior (bripka) dan yunior (brigadir)," papar Reza kepada Warta Kota, Jumat (26/7/2019).
Selain itu kata dia juga penting diketahui apakah pelaku saat itu dalam pengaruh narkoba atau tidak.
"Juga relevan untuk mengecek kemungkinan adanya pengaruh narkoba," tambah Reza.(bum)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160219pakar-psikologi-forensik-saipul-jamil-bukan-pedofilia-murni_20160219_161823.jpg)