Aksi Terorisme

Pasutri Warga Indonesia Pernah Dicuci Otak Hingga Bersedia Jadi 'Pengantin' di Gereja Filipina

PASANGAN suami istri pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral, Jolo, Filipina, disebut pernah mengikuti doktrinasi hingga pencucian otak alias brainwa

Pasutri Warga Indonesia Pernah Dicuci Otak Hingga Bersedia Jadi 'Pengantin' di Gereja Filipina
TRIBUNNEWS/VINCENTIUS JYESTHA
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (24/7/2019). 

Sinyo Harry Sarundajang mengatakan, pernyataan Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano atas keterlibatan WNI sebagai pelaku pengeboman yang menewaskan 22 orang dan melukai ratusan lain itu, hanya didasari pada pola serangan yang mirip dengan serangan bom di Surabaya.

Padahal, sampai saat ini otoritas setempat, yaitu PNP (Kepolisian Nasional Filipina), belum mengeluarkan rilis hasil uji DNA serta gambar resmi hasil rekaman CCTV di lokasi ledakan.

Sehingga, belum ada kepastian apa pun yang menyatakan keterlibatan Warga Negara Indonesia (WNI).

 Ahoker Ini Menangis Berhari-hari Hingga Tinggalkan Jakarta Saat Ahok Divonis Dua Tahun Penjara

Sejauh ini, Sinyo Harry Sarundajang menuturkan, tuduhan keterlibatan WNI dalam aksi serangan berdarah bom, bukan kali pertama ditunjukan kepada Indonesia.

Dari catatan KBRI, telah dua kali Pemerintah Filipina memberikan pernyataan tanpa bukti dan investigasi terlebih dahulu.

Yakni, saat peledakan Bom di Kota Lamitan, Provinsi Basilan pada 31 Juli 2018 dan bom jelang tahun baru 2019 di Cotabato City.

 Bahaya! Panitia Idul Adha Jangan Gunakan Kantong Plastik Hitam untuk Kemas Daging Kurban

"Meski demikian, hasil investigasi menunjukkan tidak ada keterlibatan WNI dalam dua pengeboman sebagaimana pernyataan aparat dan pemberitaan media-media," ucap Sinyo Harry Sarundajang.

Menkopolhukam Wiranto juga sempat menyesalkan klaim sepihak otoritas Filipina, yang menyebut ada pasangan WNI yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Katedral Jolo, Provinsi Sulu, Filipina.

Wiranto mengatakan, pihak Filipina yang memiliki otoritas mengurus masalah terorisme juga masih menyelidiki pelaku-pelaku bom bunuh diri pada 27 Januari 2019 itu.

 Terduga Teroris yang Diciduk di Padang Berencana Serang Polisi saat Upacara Bendera 17 Agustus

“Itu kan masih klaim sepihak, otoritas Filipina sendiri masih melakukan penyelidikan dan memastikan siapa pelakunya."

"Masih banyak kemungkinan, jangan buru-buru memvonis bahwa yang melakukan itu orang Indonesia,” tegasnya, ditemui di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Senin (4/2/2019).

 Agar Tak Diolah Lagi, Pengamat Sarankan Ahok Tak Buru-buru Kembali ke Politik

Wiranto pun meminta masyarakat Indonesia di dalam negeri tak mudah tersulut pernyataan sepihak dari otoritas Filipina.

Ia menyampaikan, kini Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kementerian Luar Negeri terus mengusut isu tersebut.

Bahkan, menurut Wiranto, kedua institusi itu akan segera mengirim personelnya ke Filipina untuk mengetahui secara pasti duduk perkaranya.

 Rekeningnya Masih Diblokir Polisi, Dinar Candy Sampai Berutang di Warung Makan

“Kita tunggu saja, karena BNPT dan Kemenlu sedang melakukan penyelidikan dan penjajakan."

"Bahkan keduanya akan mengirim orang ke sana untuk mengetahui duduk perkaranya sebenarnya seperti apa,” paparnya.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano menyatakan keyakinannya bahwa pelaku bom bunuh diri bernama Abu Huda berasal dari Indonesia. (Vincentius Jyestha)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved