Keberadaan Pengolahan Semen Dikeluhkan Warga, PT Adhimix Precast Menilai Terjadi karena Salah Paham

Keberadaan pabrik olahan semen di Jalan Kebon Jahe VII RT 15/02, Gambir, Jakarta Pusat dikeluhkan warga.

Keberadaan Pengolahan Semen Dikeluhkan Warga, PT Adhimix Precast Menilai Terjadi karena Salah Paham
Warta Kota/Dwi Rizki
Kegiatan yang dilakukan PT Adhimix Precast Indonesia. 

Secara terpisah, tampilan video dibuka dengan kisah sejumlah ibu yang melakukan demonstrasi meski diancam dibubarkan paksa oleh kepolisian di antaranya oleh seorang polisi berpakaian preman, tapi kaum ibu tidak peduli.

Sejumlah ibu yang kurus kering digusur.

Mereka mencoba menghadang sejumlah truk dan alat berat memasuki area pabrik di Gunung Kendeng itu.

Kaum ibu menyanyikan shalawat di malam hari bertahan semalaman.

Video berdurasi lebih dari setengah jam ini adalah karya Watch Doc, yang dipimpin Dandy Laksono, cukup mengharukan menyaksikan kaum ibu berjuang untuk menahan laju industri seperti pabrik semen tersebut.

Mereka juga melanjutkan aksi di DKI Jakarta dengan melakukan ibu dipasung semen.

Mereka dijuluki Kartini dari Kendeng.

Kaum ibu menyatakan, mereka seharusnya menjadikan daerahnya sebagai lumbung tani, bukan lumbung semen, sehingga perlawanan akan terus terjadi dengan keringat dan air mata untuk mempertahankan pertanian yang memang dihidupi oleh Kartz, pegunungan yang mengaliri air kepada pertanian yang dikerjakan warga secara turun temurun.

Perjuangan mereka disambut warga di antaranya dengan memberikan komentar, mereka terenyuh dengan aksi tersebut.

Berbagai upaya perlawanan memang dilakukan kaum ibu, sehingga tidak kurang, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo bereaksi terhadap aksi para ibu tersebut.

Dikutip dari Kompas.com, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyayangkan aksi sembilan perempuan di Istana Negara, Jakarta, yang menyebut dirinya "Kartini Kendeng" dari Rembang yang melakukan protes atas pembangunan pabrik semen dengan mengecor kedua kaki mereka menggunakan semen.

Menurut Ganjar, aksi itu justru menyakiti diri mereka sendiri.

"Saya sayangkan, kenapa (kakinya) disemen, itu kan menyakiti. Saya bicara dengan teman-teman, siapa yang punya ide itu, siapa yang desain ya," kata Ganjar ketika dimintai tanggapan seusai Musrenbang di Kabupaten Wonogiri, Kamis (14/4/2016).

Menurut Ganjar, persoalan semen di Kabupaten Rembang telah selesai karena telah diputuskan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara. Kala itu, PTUN menganggap gugatan yang diajukan telah kedaluwarsa.

Para pihak yang menolak pun dipersilakan untuk menyampaikan ekspresinya. Hal tersebut karena penolakan itu merupakan bagian dari hak untuk mengeluarkan pendapat.

"Sudah ada putusannya, kalau tidak terima terus mau apa. Kalau soal menolak silakan, itu hak mereka," kata dia.

Dia pun mengingatkan masyarakat tentang dua contoh putusan PTUN soal izin lingkungan pendirian pabrik semen di Pati dan Rembang. Putusan di Pati memenangkan warga, sedangkan di Rembang diputus kedaluwarsa.

"Ingat lho, Rembang itu gugatan kalah, Pati menang. Semuanya jalan, mereka yang tetap enggak setuju ya enggak apa-apa," ujarnya lagi.

Sejumlah kalangan juga bereaksi terkait aksi tragis tersebut, termasuk di antaranya disampaikan oleh Dian Sastrowardojo.

Namun, tidak pelak, aksi para ibu dari Kendeng itu sangat menyentak demi menolak berdirinya pabrik semen di gunung, yang akan menghancurkan lahan pertanian milik mereka, yang sebenarnya merupakan sumber penghidupan mereka.

Kaum ibu dan masyarakat setempat meniru kesuksesan kaum Samin, yang juga berdekatan dengan mereka, yang hidup dengan bertani.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved