Berita Duka

Arswendo, Cerpen Pertama di Rubrik Kompas, dan Misi Humanisme dalam Tulisannya

Arswendo, Cerpen Pertama di Rubrik Kompas, dan Misi Humanisme dalam Tulisannya. jenazah Arswendo kemudian dimakamkan di San Diego Hills, Karawang.

Arswendo, Cerpen Pertama di Rubrik Kompas, dan Misi Humanisme dalam Tulisannya
Warta Kota/Zaki Ari Setiawan
Upacara pelepasan jenazah Arswendo Atmowiloto di Gereja Katolik Santo Matius Penginjil, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Sabtu (20/7/2019). 

Kabar kepergian penulis dan mantan wartawan Arswendo Atmowiloto menjadi kabar duka bagi dunia kesusastraan Indonesia.

Arswendo wafat pada umur 70 tahun setelah berjuang melawan kanker prostat, di kediamannya, Kompleks Kompas, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (19/7/2019) sore.

Seusai disemayamkan di rumah duka, jenazah kemudian dibawa ke Gereja Katolik Santo Matius Penginjil, Pondok Aren, Tangerang Selatan, untuk misa requiem dan pelepasan jenazah, Sabtu (20/7/2019).

Tampak sejumlah kerabat yang aktif di bidang kesenian dan kesusastraan hadir untuk memberikan penghormatan terakhir ke Wendo, sapaan akrab Arswendo.

Di sela-sela misa, Redaktur Sastra Kompas Putu Fajar Arcana menceritakan warisan yang ditinggalkan oleh Arswendo, termasuk di antaranya adalah cerita pendek (cerpen) pertama dalam rubrik cerpen Kompas.

"Yang menarik sepanjang penelusuran saya, Kompas mulai memuat fiksi mulai tahun 65, tapi fiksi saduran, dari cerita luar.

Tonggak pertama kali Kompas memuat cerpen itu ketika mas Wendo bikin cerpen judulnya Bukan Cerpen tahun 74," kata Fajar Arcana yang mengenakan pakaian dan topi fedora serba hitam saat itu.

Sempat Kirim Karya ke Kompas, Arswendo Membicarakan Tuhan dalam Cerpen Terakhirnya

Redaktur Sastra Kompas, Putu Fajar Arcana di upacara pelepasan jenazah Arswendo Atmowiloto di Gereja Katolik Santo Matius Penginjil, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Sabtu (20/7/2019).
Redaktur Sastra Kompas, Putu Fajar Arcana di upacara pelepasan jenazah Arswendo Atmowiloto di Gereja Katolik Santo Matius Penginjil, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Sabtu (20/7/2019). (Warta Kota/Zaki Ari Setiawan)

Ketika menulis cerpen, kata Fajar Arcana, Arswendo sudah bekerja di harian Kompas. Karya Bukan Cerpen pun menjadi cerpen pertama dalam rubrik yang masih terbit hingga saat ini.

"Sejak itu Kompas tanpa henti sampai sekarang memuat cerpen. Jadi beberapa tonggak penting dalam sastra kita sastra koran dilahirkan mas Wendo," ujarnya.

Banyak karya besar lahir dari tulisan Arswendo, sebut saja Imung, Canting, Senopati Pamungkas, dan karya yang paling populer Keluarga Cemara.

Fajar Arcana menilai, karya-karya Arswendo bukan hanya karya yang menghibur, tapi juga memiliki misi kemanusiaan yang menganggap semua orang sama di depan Tuhan sampai di depan hukum.

"Misi penting dari seluruh karya mas Wendo sebenarnya hampir mirip dengan misinya Kompas Humanisme Transedental.  Jadi semua orang sama di hadapan agama, Tuhan, kebudayaan, apa pun, apalagi di hadapan hukum."

Upacara pelepasan jenazah Arswendo Atmowiloto di Gereja Katolik Santo Matius Penginjil, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Sabtu (20/7/2019).
Upacara pelepasan jenazah Arswendo Atmowiloto di Gereja Katolik Santo Matius Penginjil, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Sabtu (20/7/2019). (Warta Kota/Zaki Ari Setiawan)

"Tidak ada perbedaan warna kulit, pakaian, atau agama. mas Wendo memegang teguh misi ini dalam setiap karyanya, apa pun karyanya pasti misinya tentang itu. Ini sumbang literasi yang menurut saya besar dalam terus menjalani menjadi Indonesia," ujar Fajar Arcana.

Tidak hanya menulis cerpen, Arswendo yang meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak, semasa hidupnya juga dikenal sebagai penulis naskah drama, hingga naskah sinetron.

Setelah rangkaian upacara pelepasan selesai, jenazah Arswendo kemudian dimakamkan di San Diego Hills, Karawang Jawa Barat.

Penulis: Zaki Ari Setiawan
Editor: Mirmo Saptono
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved