Pemerintahan Jokowi

Rizal Ramli Bandingkan 3 Menteri Keuangan di Era Jokowi, Sri Mulyani Dianggap Paling Buruk

Dalam 5 tahun pemerintahan setidaknya Presiden Jokowi sudah 3 kali mengganti Menteri Keuangan.

Penulis: Desy Selviany | Editor: Dian Anditya Mutiara
Kolase foto
3 Menteri Keuangan Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla: dari ki-ka Sri Mulyani, Bambang Brojonegoro, dan Chatib Basri 

Pengamat ekonomi senior Rizal Ramli membandingkan 3 menteri keuangan yang pernah jabat di Kabinet Kerja Jokowi-JK.

Mereka yakni Muhammad Chatib Basri, Bambang Brodjonegoro dan Sri Mulyani.

Menurut Rizal, dari ketiga menteri keungan yang terburuk ialah Sri Mulyani dan Chatib Basri karena kebijakannya dianggap selalu menguntungkan investor surat utang karena memberikan bunga lebih tinggi.

“Petaka Bunga Utang Ketinggian dari Menteri2 “Terbalik”. Menkeu Sri Mulyani & Chatib Basri selalu untungkan Investor surat utang, berikan bunga lebih tinggi,” cuit Rizal dalam akun twitternya @RamliRizal pada Selasa (16/7/2019).

Rizal Ramli Sudah Mengingatkan Jokowi Soal Kebijakan Sri Mulyani yang Berdampak Buruk pada Indonesia

Berbeda dengan Sri Mulyani dan Chatib Basri, Rizal menganggap Bambang Brodjonegoro dan mantan Menteri Keuangan di era SBY Agus Martowardojo jauh lebih baik karena tetapkan bunga sesuai atau dibawah bunga kompetitif.

Oleh karenanya menurut Rizal, jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih mempertahankan menteri-menteri tersebut maka ia mengajak masyarakat untuk tidak lagi mempercayai Jokowi.

“Jika @jokowi pertahankan Menkeu “terbalik”, yang hanya untungkan kreditor dengan bunga tinggi & bebas pajak 30 tahun untuk asing besar — tapi rugikan rakyat & negara, dan Mentri Perdagangan ‘Raja Impor’, jangan percaya bahwa Jkw pro-rakyat Itu hanya permainan kata-kata. Deja Vu,” tandasnya.

Rentang Bunga Utang Tinggi

Kritikan Rizal Ramli itu lantaran berdasarkan tulisan yang dimuat oleh Peneliti Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR) Gede Sandra.

Menurutnya di era Chatib Basri dan Sri Mulyani kebijakan penentuan bunga atau kupon surat utang yang selalu rentang (‘spread’) nilainya di atas kurva yield alias ketinggian.

Pada era Agus Martowardoyo diterbitkan surat utang FR0053 (8 Juli 2010), FR0054 (22 Juli 2010), dan FR0056 (23 September 2010) dengan tenor masing-masing 10, 20, dan 15 tahun.

Besaran kupon yang ditetapkan oleh Agus Martowardoyo untuk ketiga surat utang tersebut berturut-turut: 8,25%; 9.5%; dan 8,375%.

Kemudian bandingkan dengan besaran bunga patokan di kurva ‘yield’ di Juli 2010 yang untuk tenor, 10, 20, dan 15 tahun, berturut-turut: 8,341%; 9,632%; dan 8,792%%.

Maka dapat kita amati besaran kupon surat utang yang ditetapkan Agus Martowardoyo sesuai acuan di kurva ‘yield’, bahkan di bawah.

Ekonom Rizal Ramli berbincang dengan awak Tribunnews.com, terkait perkembangan ekonomi Indonesia terbaru, di Kantor Redaksi Tribun Network, Palmerah, Jakarta, Rabu (6/2/2019).
Ekonom Rizal Ramli berbincang dengan awak Tribunnews.com, terkait perkembangan ekonomi Indonesia terbaru, di Kantor Redaksi Tribun Network, Palmerah, Jakarta, Rabu (6/2/2019). (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)
Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved