Breaking News:

Luhut Panjaitan: Kita Masih Asyik Ngomong Asing dan Aseng, Cina Sudah ke Mana-mana

BARU kembali dari Tiongkok, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengaku dirinya banyak belajar dari Negeri Tirai Bambu itu.

Editor: Yaspen Martinus
TRIBUNNEWS/FITRI WULANDARI
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dalam acara Workshop 'Pemanfaatan Minyak Sawit untuk Green Fuel dalam Mendukung Ketahanan Energi dan Kesejahteraan Petani Sawit', yang digelar di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta Pusat, Selasa (16/7/2019). 

Sehingga Luhut Binsar Panjaitan menekankan, yang menjadi masalah bukan keberadaan Tiongkok.

Namun, bagaimana pengelolaan terhadap apa yang selama ini dipandang negatif.

"Masalah mana saja (bisa menjadi) masalah, kalau tidak kita olah dengan baik, jadi pengelolaan ini yang saya kira penting," jelas Luhut Binsar Panjaitan.

Sekjen FPI Munarman Bilang Ijtima Ulama Jilid Empat Tak Perlu Izin Aparat Seperti di Negara Otoriter

Sebelumnya Wartakotalive memberitakan, Presiden Joko Widodo menilai isu-isu yang menyerang dirinya jelang Pemilihan Presiden 2019, semakin aneh.

Salah satunya, ia disebut sebagai antek asing atau kaki tangan dari pihak luar yang menguntungkan asing, dan tidak memikirkan kesejahteraan masyarakat di Indonesia.

"Antek asing, antek aseng, antek asing yang mana?"

Baca: Harga Sembako Diisukan Naik, Jokowi: Dipikir Saya Enggak Pernah Keluar Masuk Pasar

"Blok Mahakam yang dulu dikelola Prancis dan Jepang, sudah 100 persen saya serahkan kepada Pertamina sejak 2015," ujar Jokowi di Jakarta, Selasa (30/10/2018).

Jokowi mengaku kerap mengikuti perkembangan isu-isu yang tidak mendasar di tengah-tengah masyarakat, melalui media massa maupun media sosial‎.

"Saya itu kalau dari Istana (Jakarta) menuju ke Bogor, punya waktu satu jam. Saya buka-buka berita, saya buka media sosial, jadi saya ngerti, tahu yang menjadi isu-isu," papar Jokowi.

Baca: Jusuf Kalla Sebut Indonesia Berpeluang Berhubungan Diplomatik dengan Israel, Fahri Hamzah: Mustahil

‎Menurut Jokowi, pemerintah sudah banyak mengambil alih sumber daya alam (SDA) di Tanah Air, yang selama ini dikuasai oleh perusahaan luar negeri.

"Blok Rokan, Chevron, sudah 100 persen dimenangkan Pertamina. Freeport yang 40 tahun kita diberi 9,3 persen (saham), kita bisa mendapatkan 51 persen," ungkap Jokowi.

Menguasai 51 persen saham Freeport Indonesia di Papua, kata Jokowi, tidak semudah membalikkan tangan dan memerlukan waktu tidak singkat.

Baca: Diduga karena Korsleting Listrik, 15 Rumah Semi Permanen di Duren Sawit Hangus

"Enggak mudah mendapatkan ini (51 persen saham Freeport), baik tekanan politik, baik tekanan kanan kiri," ucap‎ Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu pun menjawab isu adanya serbuan tenaga kerja asing (TKA) ‎di berbagai daerah di Tanah Air.

"‎Katanya ada 10 juta tenaga kerja dari Tiongkok yang membanjiri Indonesia, mana?"

Amien Rais Setuju Rekonsiliasi, tapi Jangan Bagi-bagi Kursi

"Isu-isu seperti ini banyak dipercayai, kalau enggak saya terangkan berulang-ulang dipikir sebuah kebenaran."

"Padahal, tenaga kerja asing yang ada di Indonesia palingan 80-an ribu semuanya," beber Jokowi.

Berdasarkan data yang diterima olehnya, tenaga kerja asing di Indonesia tidak melebihi 1 persen dari total pekerja.

Prabowo Dibilang Nyelonong Temui Jokowi, Waketum Gerindra Tantang Amien Rais Lakukan Ini

Dan jumlah ini sangat kecil dibandingkan negara lain, seperti Uni Emirat Arab yang 80 persen tenaga kerjanya orang asing.

"Arab Saudi 33 persen, Brunei 32 persen, Singapura 24 persen, Malaysia 5 persen, ‎Indonesia 0,03 persen, 1 persen aja tidak ada, kok diramein, jutaan dari mana? Ngitungnya kapan?" tutur Jokowi. (Fitri Wulandari)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved