Pemerintahan Jokowi

Presiden Jokowi Minta Kepala Daerah Antisipasi Kemarau Panjang Jangan Sampai Terjadi Gagal Panen

Kemarau panjang diprediksi akan berada di puncaknya pada Agustus 2019. Pemerintah diharap bisa mencegah bencana akibat musim kemarau.

Presiden Jokowi Minta Kepala Daerah Antisipasi Kemarau Panjang Jangan Sampai Terjadi Gagal Panen
Setkab.go.id
Pemerintah menggelar rapat terbatas Senin (15/7/2019) sore 

"Memang wilayah sulit sumber air tanahnya. Hampir kebanyakan warga yang membuat sumur resapan, tidak pernah berhasil karena saat digali di dasar tanah kebanyakan batu kapur," jelasnya.

Warga selama ini mengandalkan sumur penampungan air hujan maupun dari aliran air di Kali Cihoe dan Cipamingkis.

Akan tetapi kali itu sudah menyusut airnya dan keruh.

"Andalan warga air hujan sama air dari kali itu. Kalau tidak ada hujan dalam waktu lama pasti paling pertama yang kekeringan. Makanya warga disitu senang kalau hujan turun," paparnya. (MAZ)

Tunda Tanam Padi

Lahan pertanian di tiga kecamatan Kabupaten Bekasi mengalami kekeringan pada musim kemarau pada tahun 2019 ini.

Kepala Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Nayu Kulsum mengatakan, data sementara kekeringan lahan pertanian ada di 3 kecamatan yakni Bojongmangu, Sukatani dan Cibarusah.

"Atau sebanyak 791 hektare lahan pertanian alami kekeringan dari total 22.174 hektare lahan pertanian yang tersebar di 23 kecamatan di Kabupaten Bekasi," katanya, Minggu (30/6/2019).

Adapun kekeringan terluas ada di Kecamatan Bojongmangu dengan luas lahan pertanian mencapai 716 hektare, disusul Kecamatan Sukatani 47 hektare dan Cibarusah 28 hektare.

"Angka itu akan terus bertambah mengingat hingga saat ini hujan belum juga turun," ucapnya.

Melihat kondisi tersebut, Nayu meminta para pertani menunda dalam melakukan penanaman padi.

Kondisi Kali Cihoe di Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Saat dilanda kekeringan 

"Kita minta dan himbau agar petani jangan tanam padi dulu karena padi butuh banyak air. Ini kita sudah sosialisasikan ke wilayah lain agar potensi gagal panen akibat kekeringan tidak mereka alami," ungkapnya.

Akan tetapi bagi wilayah yang masih memiliki sumber air cukup banyak.

Pihaknya, kata Nayu, akan membantu distribusi air untuk area persawahan dengan memberikan bantuan pompa untuk para kelompok tani.

"Bantuan yang kami berikan seperti pompa dan bentuk lainnya agar sawah teraliri air.

"Tapi itu pun untuk daerah yang ada sumber airnya. Tapi beberapa daerah yang tidak ada sumber airnya sulit, seperti halnya Cibarusah. Maka dari itu, kami imbau untuk menahan agar tidak dulu menanam," jelasnya.

Lahan pertanian bisa digunakan untuk menamam lain yang tidak butuh banyak air.

"Saya juga mengajak agar kedepannya para petani mengasuransikan tanaman padinya melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Sehingga ketika alami gagal panen bisa klaim ganti rugi," paparnya.

Koordinasi BPBD dan BMKG

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi pun berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Hal itu untuk mengetahui berapa lama kekeringan akan terjadi.

"Beberapa waktu lalu sudah kami tanyakan mengenai lamanya fenomena ini (kemarau) ke BMKG dan pemantauan petugas diperkirakan akan berlangsung selama dua sampai tiga bulan mendatang," kata Kepala Pelaksana tugas (Plt) BPBD Kabupaten Bekasi Adeng Hudaya pada Jumat (28/6/2019).

Tiga desa di Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi dilanda kekeringan sejak dua bulan terakhir.

Hal ini dipicu minimnya curah hujan di wilayah setempat, sehingga berdampak pada menyusutnya pasokan air tanah.

Namun, berdasarkan catatan BPBD, terdapat empat kecamatan lain yang berpotensi kekeringan.

Keempat kecamatan itu yakni Cikarang Selatan yang terdiri dari Desa Ciantra dan Desa Serang; Serang Baru (Desa Sirnajaya, Cilangkara, Nagacipta, Nagasari, dan Sukasari); Bojongmangu (Desa Karang Indah, Karang Mulya dan Medal Krisna); dan Cikarang Pusat (Desa Pasirranji, Cicau, Sukamahi, dan Jayamukti).

Meski begitu, tiga desa di Cibarusah menjadi yang terparah yaitu Ridhogalih, Ridhomanah dan Sirnajati.

"Sejak awal laporan kekeringan kami kirim 5.000 liter air bersih kemudian ditambah menjadi 10.000 liter. Kemudian kami tambah lagi saat ini menjadi 15.000 liter air," jelas Adeng.

Menurut dia, pendistribusian air dilakukan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bhagasasi.

Proses pengirimannya, kata dia, dilakukan menggunakan 2-3 truk tangki dan disalurkan ke warga di setiap kantor desa setempat.

"Kita kirim sesuai kebutuhan dan permintaan warga, bila ada perangkat Desa atau Camat melapor untuk minta dikirim air, secepatnya akan kita distribusikan," jelasnya.

Penulis: Desy Selviany
Editor: Dian Anditya Mutiara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved