Kesehatan

Ini Peran Orangtua Agar Anak Tidak Mudah Jajan dan Terhindar dari Obesitas

Bila makanan tinggi lemak dan gula terus menerus dikonsumsi tapi aktivitas tidak sebanyak yang dikonsumsi, akibatnya anak jadi gemuk.

Ini Peran Orangtua Agar Anak Tidak Mudah Jajan dan Terhindar dari Obesitas
Kompas.com
ILUSTRASI Jajanan di sekolah 

Di masa itulah proses pencarian identitas diri terjadi.  Bila saat remaja sudah kurang peduli akan masalah kesehatan, akan mendorong pada pola akan yang tidak menentu dan salah.

Di antara pola makan yang sering dilakukan remaja, makan fast food, banyak ngemil, jarang mengonsumsi sayur dan buah, serta malas bergerak.

Akibatnya remaja sudah mengalami kegemukan atau obesitas. Sayangnya, obesitas yang terjadi pada remaja cenderung menetap hingga dewasa.

Obesitas akan membuat bertambahnya risiko terkena sindrom metabolik.

Apakah sindrom metabolik itu?

Merupakan kumpulan faktor risiko kesehatan yang berpotensi menyebabkan kematian, yakni peningkatan tekanan darah, kadar gula tinggi, lemak berlebih di sekitar pinggang,  HDL atau kolestero ‘baik’, dan trigliserida tinggi.

Dokter Sani mengatakan, masa pubertas, tubuh mengalami perubahan hormon secara pesat yang dapat mempengaruhi kemunculan sindrom metabolik.

Bila tidak segera disadari, dampaknya bisa membawa perubahan besar dalam tubuh.

Perubahan besar yang bisa terjadi dalam tubuh remaja bila penanda sindrom metabolic tidak segera ditangani antaralain pengerasan pembuluh arteri (arteriosclerosis), penurunan fungsi ginjal, bahkan resistensi insulin, yaitu ketika sel tubuh tidak dapat mengolah gula darah dengan sempurna.

Kebiasaan ngemil juga menjadi hal yang perlu diperhatikan sejak remaja. Pasalnya, Indonesia menjadi negara di Asia Pacifik yang paling gemar mengonsumsi camilan.

Dokter Sani menjelaskan, hanya 2 persen yang memilih camilan sehat, mayoritas lebih memilih kripik, biscuit, roti, dan kue-kue.  

Sebanyak 38 persen terjadi peningkatan belanja makanan kemasan pada platform e-commerce serta 95 persen kurang mengonsumsi sayur dan buah.

“Dulu sindrom metabolik terjadi di usia yang lanjut, tapi kini sejak remaja sudah mulai terjadi. Saat remaja nafsu makan bertambah, tapi metabolisme lebih lambat," tuturnya.

"Bila nafsu makan ini tidak diiringi dengan aktivitas fisik akan membuat remaja menjadi gemuk,” imbuh dr Sani.

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved