Kekerasan Terhadap Anak

Grasi Terpidana Kasus Sodomi di JIS, Reza Indragiri Amriel: Manusiawi atau Distorsi?

NEIL Bantleman bekas guru Jakarta International School (JIS), terpidana kasus sodomi yang divonis 11 tahun penjara oleh MA pada 2016, kini telah bebas

Grasi Terpidana Kasus Sodomi di JIS, Reza Indragiri Amriel: Manusiawi atau Distorsi?
Tribunnews.com
Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel 

Berbasis data sejak 1958 hingga 1974, diketahui bahwa 42 persen predator melakukan residivisme. "Pengulangan perbuatan jahat itu mencakup kejahatan seksual, kejahatan dengan kekerasan, dan kombinasi keduanya," 

NEIL Bantleman bekas guru Jakarta International School (JIS), terpidana kasus sodomi yang divonis 11 tahun penjara oleh putusan Mahkamah Agung (MA) 2016, kini telah bebas, setelah mendapat grasi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menanggapi hal ini, Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menyatakan, saat kasus sodimi itu meledak beberapa tahun lalu, ada dua pihak yang meminta kesediaan dirinya menjadi ahli di persidangan.

"Nalar keilmuan saya mengantar saya pada pemikiran tertentu atas kasus tersebut, walau tetap harus diuji di persidangan. Dengan berbagai pertimbangan, keduanya saya tolak. Putusan hakim tetap harus dihormati," kata Reza kepada Wartakotalive.com, Jumat (12/7/2019) malam.

Presiden Jokowi Beri Grasi kepada Terpidana Pelecehan Seksual Anak, KPAI: Ini Menyisakan Kepedihan

Petugas Haji Sesalkan Jemaah yang Kerap Sembunyikan Kehamilannya

Polisi Sebut Ada Kelemahan Pengamanan, Begini Tanggapan Pengelola Ancol Taman Impian

"Terlepas dari itu, mari kita takar konsistensi kebijakan Presiden," ajak Reza.

Dengan mengajukan grasi, katanya, berarti terpidana mengaku bersalah.

Pada sisi lain, tambah Reza, Presiden Jokowi menyatakan bahwa kekerasan seksual terhadap anak merupakan kejahatan luar biasa.

"Komisioner KPAI, Erlinda, pun menyebut Indonesia berada dalam situasi darurat kejahatan seksual terhadap anak. Itu posisi negara yang penting dikiblati dalam menyikapi kasus semacam ini," kata Reza.

Sekarang, lanjutnya, kita lihat hasil studi. Berbasis data sejak 1958 hingga 1974, misalnya, diketahui bahwa 42 persen predator melakukan residivisme.

Blanko e-KTP Langka, Dukcapil Kota Tangerang Selatan Prioritaskan Pemohon Pemula

"Pengulangan perbuatan jahat itu mencakup kejahatan seksual, kejahatan dengan kekerasan, dan kombinasi keduanya," kata dia.

"Terakhir, kita longok tren penghukuman bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Keluarnya UU 17/2016 menandai ketegasan hukum yang tidak main-main terhadap para predator," tambah dia.

Kendati kata Reza, masih terkesan macan kertas, UU tersebut memuat sekian bentuk pemberatan sanksi bagi para bedebah pemangsa anak-anak.

"Dengan sebutan-sebutan sedahsyat itu, data seserius itu, dan ancaman sanksi seberat itu, bagaimana lantas publik bisa memahami bahwa grasi justru Presiden berikan kepada orang yang melakukan kejahatan luar biasa dimana orang itu turut berkontribusi bagi terjerumusnya Indonesia ke dalam situasi darurat?" tanya Reza.

Pada akhirnya, lanjut Reza, ia patut bertanya akan grasi Presiden Jokowi itu, yang jawabannya pasti ada di kepala kita semua.

"Manusiawi atau distorsi?" katanya.

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved