Salat Minta Petunjuk Lalu Dor! Kisah Jenderal Polisi Nyaris Tembak Seorang Ibu Kini Daftar Capim KPK

Seorang jenderal polisi nyaris tembak seorang ibu, yang diketahui tragedi itu jadi pengalaman jenderal polisi kini daftar capim KPK.

Salat Minta Petunjuk Lalu Dor! Kisah Jenderal Polisi Nyaris Tembak Seorang Ibu Kini Daftar Capim KPK
printscreen twitter.com/@dang_ike
Irjen Pol Ike Edwin 

Kalau benar, maka citra polisi di mata masyarakat akan semakin baik.

Irjen Pol Ike Edwin, mantan Dirtipikor Mabes Polri, mendaftarkan diri ke panitia seleksi capim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (4/7/2019) siang,. Ia datang dengan menumpang taksi.
Irjen Pol Ike Edwin, mantan Dirtipikor Mabes Polri, mendaftarkan diri ke panitia seleksi capim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (4/7/2019) siang,. Ia datang dengan menumpang taksi. (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

"Saya tahu, saya harus bertindak. Tapi, dengan kondisi yang ada, saya paham risikonya sangat besar. Kalau saya salah bertindak, di situ juga karier saya akan hancur seketika," tuturnya.

Ike lalu mempelajari situasi.

Di dalam rumah, ada pria tersebut dengan ibunya.

Tak ada jarak di antara keduanya.

Kisah Jenderal Polisi Lampung Kini Daftar KPK: Pernah Putus Asa, Sholat Minta Petunjuk lalu Door! (Foto Ike Edwin saat berada di RSUD Abdul Moeloek)

Tangan kanan pria tersebut memegang pisau yang bilahnya sudah menempel ketat di leher ibunya.

Suasana saat itu sudah malam.

Hampir tak ada cahaya yang masuk, karena lampu dimatikan.

Keduanya bisa terlihat sedikit berkat cahaya senter yang diarahkan seorang anggota polisi.

Cahaya yang sangat sedikit.

Dalam kondisi terdesak oleh situasi seperti itu, dalam hati Ike berdoa.

Ia memohon kepada Tuhan agar diberi kekuatan dan petunjuk untuk menyelesaikan masalah.

Tak terasa ia merapal Al-Fatihah beberapa kali.

Kepada Wakasat Reskrim, ia lalu meminta agar menjaga situasi agar tidak berkembang panas.

Jangan ada anggota yang bertindak tanpa perintahnya. "Saya ada keperluan dulu," pesannya.

Ke mana Ike pergi? Apakah dia meninggalkan lokasi? Ternyata tidak.

Ia mencari tempat wudhu, lalu ke tempat salat.

Di situ, ia menunaikan salat dua rakaat.

Seusai salat, ia berdoa kepada Tuhan.

"Saya bilang, 'Ya Allah, apa yang akan terjadi pada diriku semua merupakan kehendak-Mu. Berikan kekuatan kepada hamba-Mu untuk berbuat kebaikan dengan mengatasi persoalan ini. Hamba memohon petunjuk-Mu'," tuturnya.

Seusai salat, Ike kembali ke lokasi. Kini, langkahnya terasa lebih ringan. Ia juga tidak ragu lagi untuk bertindak.

"Saya waktu itu dalam hati berkata, apapun yang terjadi, kalau karier saya setelah ini hancur, saya ikhlas," kenangnya.

Suasananya masih seperti semula.

Si pria tetap seperti kehilangan kewarasan.

Pisau masih menempel di leher ibunya.

Kepada Wakasat Reskrim, ia meminta agar sorotan senter dipertahankan.

Saat itu, senter diarahkan dari arah atas, dan hanya bisa menerangi sedikit dari bagian depan si ibu.

Ia juga masih bisa melihat tangan si pria yang memegang pisau.

Ike lalu megeluarkan pistolnya.

Dari lubang yang sangat sempit, dengan dibantu cahaya senter yang tidak terang, ia membidik sasaran.

Jantungnya sempat berdegup kencang.

Apa yang akan ditembak Ike? Rupanya, ia membidik tangan si pria yang sedang memegang pisau.

Ia ingin peluru menghantam tangan itu sehingga pisaunya terjatuh, dan saat itu juga anak buahnya menyerbu masuk untuk membebaskan si ibu.

Itu baru skenario. Ike sadar, kalau tembakannya meleset satu inci saja, maka semua akan hancur.

Bisa jadi si ibu yang akan tewas kena terjang peluru.

Kariernya akan selesai.

Sesaat sebelum menarik pelatuk, Ike kembali mengingat Tuhan. Ia berdoa diberi kekuatan dan petunjuk.

Setelah hatinya bulat, maka, "dorrr...."

Satu tembakan tepat mengenai tangan si pria. Pisau terlepas.

Anak buahnya langsung menyerbu dan amankan situasi.

"Saat itu juga, saya seperti lepas dari beban ribuan ton. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Permasalahan itu berakhir dengan baik. Pria itu ditangkap, ibunya selamat," kenangnya.

Selama Ike Edwin menjadi Kasat Reskrim, tak ada kasus pembunuhan yang tidak berhasil diselesaikannya.

Prestasi itu mengantarnya menapak karier, hingga menjadi Kapolres Tanah Bumbu di Kalsel, Wadirreskrim Polda Metro Jaya, Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kapowiltabes Surabaya, sampai Wakapolda Sulselbar.

Ike menceritakan pengalamannya selama menjadi polisi bukan bermaksud untuk menyombongkan diri.

"Paling tidak, apa yang saya ceritakan bisa menjadi pelajaran atau motivasi bagi orang lain, terutama para polisi muda," tuturnya saat bersilaturahmi ke kantor Tribun Lampung 2016 silam. (tribunlampung.co.id / andi asmadi)

Artikel ini telah tayang di tribunlampung.co.id dengan judul "Kisah Jenderal Polisi Lampung Kini Daftar KPK: Pernah Putus Asa, Sholat Minta Petunjuk lalu Door!"

Editor: Panji Baskhara
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved