Pengamat: Mafia Bola Rusak Motivasi Pemain

Apa yang dilakukan para mafia bola merusak motivasi para pesepak bola dan wasit di Indonesia untuk berprestasi.

Pengamat: Mafia Bola Rusak Motivasi Pemain
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Arak-arakan Timnas Indonesia U-22 usai juara Piala AFF U-22 2019 saat melintasi Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (28/2/2019). 

Pengaturan skor yang terjadi di sepak bola Indonesia dinilai sudah lama terjadi. Pelakunya adalah mafia bola yang melakukan hanya untuk kepentingan judi.

Pengamat sepak bola, Rudi S Kamri mengatakan apa yang dilakukan para mafia bola itu tidak hanya merusak motivasi para pemain dan wasit untuk berprestasi maksimal.

Menurutnya, masyarakat bakal marah bahkan bisa mengamuk saat mengetahui ketika seru-serunya menyaksikan pertandingan sepak bola, ternyata mendapatkan informasi bahwa pertandingan itu sudah diatur skornya oleh orang-orang tertentu.

"Kita merasa ditipu dan dibohongi oleh penjahat sepak bola tersebut. Ini ternyata telah terjadi selama puluhan tahun dalam dunia sepak bola kita. 'The Godfather' mafia sepak bola Indonesia dan para kroconya seenak sendiri mengatur merah hitamnya persepakbolaan Indonesia untuk kepentingan pribadi mereka," ujar Rudi.

Pengaturan skor, lanjut Rudi, bukan hanya merupakan pengkhianatan terhadap sportivitas yang menjadi roh utama pertandingan olahraga, melainkan juga kejahatan terhadap dunia olahraga.

"Ini mungkin bisa menjawab pertanyaan dari kita semua selama ini mengapa sampai sekarang sepak bola Indonesia tidak kunjung punya prestasi yang membanggakan," ujarnya.

Pengamat sepak bola, Rudi Kamri.
Pengamat sepak bola, Rudi Kamri. (Istimewa)

"Dengan modal sumber daya manusia (SDM) Indonesia sebanyak 260 juta orang, kita tidak akan mampu membentuk 'the dream team' (tim impian) selama mafia sepak bola merajalela di Indonesia," sambungnya.

Rudi kemudian mempertanyakan peran PSSI yang tak seolah kuasa membersihkan hal tersebut. Ia memberi contoh penetapan Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono dan beberapa anggota Komite Eksekutif PSSI sebagai tersangka "match fixing" dan perusakan barang bukti terkait match fixing.

Tragedi match fixing juga dialami saat pertandingan final Piala AFF 2010 di mana timnas Indonesia "dipaksa" mengalah terhadap tuan rumah Malaysia.

Terjadinya campur tangan mafia bola dalam pertandingan tersebut sempat diungkapkan manajer timnas Indonesia kala itu, Andi Darussalam Tabusalla beberapa waktu kemudian.

Mengapa mafia sepak bola Indonesia sulit sekali dihapuskan? Rudi menyatakan Suhendra Hadikuntono, Ketua Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN), sempat mengatakan bahwa hal itu terjadi karena melibatkan beberapa "tokoh besar" yang tak tersentuh.

"Kita berharap dalam Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI yang akan datang terpilih 'orang gila yang waras', yang berani membersihkan internal PSSI dan berani melawan 'The Godfather' mafia sepak bola. Jangan lagi PSSI dipimpin oleh orang-orang yang menggunakan PSSI untuk kepentingan pribadi dan politik seperti sebelumnya," ujar Rudi.

"Saya tidak tahu siapa 'orang gila yang waras' yang bisa menjadi Ketua Umum PSSI, tapi saya pribadi berharap sosok berani, tegas, bersih dan keras seperti Komjen M Iriawan atau Iwan Bule mau turun tangan menjadi Ketua Umum PSSI. Mudah-mudahan sepak bola Indonesia kembali bersih dari virus pengaturan skor dan pada ujungnya ada prestasi yang bisa dibanggakan," sambungnya.

Editor: Eko Priyono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved