Wirausaha

Johan Yuniarto: Pasca-Pensiun Sukses Rintis Usaha Rumah Abon Berbahan Lele dan Belut

‎"Kepada mereka baru pensiun, saya selalu katakan, untuk tetapkan tekad dan keinginan dulu, mau melakukan apa pensiun ini."

Warta Kota/Ign Agung Nugroho
Pengusaha UKM Johan Yuniarto saat menunjukkan aneka makanan yang diproduksinya berlabel Rumah Abon. 

Memasuki masa pensiun, ada sebagian orang sudah merasa puas dan memilih menikmati masa purnakaryanya.

Namun, ada juga orang yang masih ingin bekerja agar mendapat penghasilan tambahan.

Nah, berwirausaha bisa menjadi pilihan untuk penghasilan di luar uang pensiun.

Seperti yang dilakukan Johan Yuniarto (60 tahun).

Delapan tahun ini, pensiunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung, Jawa Barat, ini menekuni dunia wirausaha.

Johan Yuniarto memproduksi abon berbahan dasar ikan lele dan belut, Merek produknya yakni Rumah Abon.

Usaha rumahan Johan ini diproduksi di kediamannya, di Riung Bandung Permai, Bandung, Jawa Barat.

Aneka makanan produksi Rumah Abon
Aneka makanan produksi Rumah Abon (Warta Kota/Ign Agung Nugroho)

Pusat Kebugaran Terbesar di Asia Tenggara Hadir di Kapuk Utara Jakarta Utara, Begini Penampilannya

Saat ini, Rumah Abon‎ tidak hanya mengolah abon sebagai produk andalannya.

Usahanya kini telah berkembang memproduksi makanan lainnya seperti aneka camilan serba kriuk seperti crispy udang, crispy teri, crespy pete, crispy jamur, crispy usus, dan aneka kerupuk ikan.

Dari produksi makanan, dalam sebulan pria kelahiran Jember, Jawa Timur, 23 Juni 1959, bisa ‎meraup omzet puluhan juta rupiah.

"Omzet (bulanan) naik turun ya. Biasanya ramainya pas Lebaran. Average dalam setahun (omzet) Rp 350 juta-Rp 360 juta," kata Johan Yuniarto.

Dia mengatakannya kepada  Warta Kota saat mengikuti pameran produk Usaha Kecil Menengah (UKM) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat, akhir pekan lalu.

Johan menjelaskan, awalnya memutuskan berwirausaha saat pensiun, selain mencari kesibukan, juga karena uang pensiunnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

‎"Nganggur enaknya seminggu dua minggu, sebulan, dua bulan, lewat dari enam bulan pusing juga, bangun tidur gitu lagi," ucapnya.

"Apalagi, anak-anak masih butuh biaya, namanya orang pensiunan kan gitu-gitu aja," kata Johan lagi.

Kebakaran Gudang Plastik di Jababeka Bekasi Reda Setelah Kerahkan 29 Unit Damkar Selama 5,5 Jam

Bapak tiga anak ini tertarik menggarap bisnis abon dari bahan ikan lele dan belut, bermula dari munculnya berita heboh soal produk abon dioplos daging celeng.

"Begitu pensiun ada kasus abon daging dicampur celeng, dari sana saya pikir apa ikan nggak bisa dicoba. Akhirnya saya bereksperimen coba buat abon dari lele dan belut," katanya.

Pertimbangan Johan membuat abon dari lele dan belut, karena dua bahan tersebut mudah didapat di pasar.

Sedangkan ilmu mengolah abon, Johan mengaku belajar secara otodidak.

"Saya bisa masak sekadarnya aja, justru yang pinter istri saya. Saya coba browsing internet saya coba-coba saja," katanya.

"Waktu uji coba saya tawarin ke saudara, dan tetangga. Saya produksi ini, tolong dinilai jangan yang bagusnya, tapi kurang apa‎ dari produk ini," ucap Johan mengenang awal usahanya.

Setelah mendapat banyak masukan dan melakukan uji coba berulang-ulang hingga akhirnya mendapat rasa pas, maka pada pertengahan 2011 Johan memutuskan produksi abon lele dan belut.

"Modal saya waktu itu Rp 800.000 buat beli 20 kg lele dan 20 kg belut. ‎Dari situ saya mulai produksi. Delapan bulan pertama sempat saya mau tutup saja. Saya titip ke toko-toko kurang laku," ucap Johan.

Begini Sikap Warga Tanah Abang Jakarta Pusat yang Tempat Tinggalnya Habis Terbakar

Dorongan istri

Namun, Johan berusaha bertahan dan tidak menyerah dalam produksi abon lele dan belut.

"Istri saya bilang udah Yah (ayah) sabar aja, coba tekuni aja dulu. Namanya usaha perlu proses. Saya coba bertahan," katanya.

"Saya ingat pepatah Arab, Man Jadda Wa Jadda (barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil--Red) ," kata Suami Yeni Kurniasih ini.

Setelah itu, usahanya pelan-pelan menunjukkan kemajuan hingga seperti sekarang ini.

‎Sekarang, Johan memasarkan aneka produk 'Rumah Abon' di toko oleh-oleh antara lain di Bandung dan Bogor.

Dia juga  menggandeng sejumlah reseller.

"Mereka ambil dari saya untuk dijual lagi. Reseller ada dari Jakarta, Surabaya, Batam, dan Kalimantan," katanya.

64 Bangunan Semi Permanen Dilahap Si Jago Merah di Tanah Abang Jakarta Pusat

" ‎Alhamdulillah sekarang sudah mulai banyak dikenal orang. Saya juga masih sering turun langsung ikut pameran seperti ini. Jadi bisa langsung bisa ngobrol sharing dan silaturahmi dengan banyak orang," kata Johan.

Untuk produksi makanannya, dia dibantu tiga karyawan.

Sedangkan harga aneka produk 'Rumah Abon'‎, untuk abon lele dan belut dipatok Rp 40.000 per 100 gram.

Sedangkan aneka crispy-nya kisaran Rp 25.000 -Rp 40.000  per 140 gram, dan aneka kerupuk Rp 30.000 per kemasan 120 gram.

Berkat usaha kecilnya yang sudah meraih sukses, Johan kerap menjadi pembicara dan motivator untuk para karyawan yang akan menjalani masa pensiun.

‎"Kepada mereka baru pensiun, saya selalu katakan, untuk tetapkan tekad dan keinginan dulu, mau melakukan apa pensiun ini. "

"‎ Mau santai dan menikmati pensiun saja, atau mau melakukan aktivitas yang menghasilkan," kata Johan.

Jangan Lewatkan Hiburan dari Tayo the Little Bus di Central Park Saat Liburan Sekolah

Jika pilihan ingin santai, kata Johan, tidak salah.

Namun, jika pesiunan ingin bekerja atau membangun usaha harus ada hal-hal yang disiapkan.

‎"Diawal tentunya mengubah mindset (pola pikir) dulu. Apalagi tadinya karyawan kantoran mencoba jadi entrepreneur," kata Johan.

Dalam mengubah pola pikir tersebut, selama ini Johan selalu menerapkan tips sederhana yang disingkatnya DUITS yakni Doa, Usaha, Inovasi, Tawakal, dan Sedekah.

‎"D, doa jadi memulailah sesuatu dengan doa. Kita memohon kepada Allah SWT agar membuka jalan untuk kita."

"U tadi usaha, jadi tentukan usahanya apa? Bisa kuliner, fesyen, atau apalah yang penting nggak usah muluk-muluk," katanya.

Dinosaurus Serang PIK Avenue, Pengunjung Boleh Memberi Makan dan Mengelus Hewan Purba Ini

Berikutnya, kata Johan, I alias inovasi.

"Dalam membuat usaha harus ada inovasi. ‎Sekadar contoh, misalnya bakso biasanya bulat, kita buat inovasi, misalnya jadi gepeng, segi empat, ada isinya," ucapnya.

Inovasi bukan hanya dari bentuk usahanya, tapi dari segi bahan dan cara pemasarannya.

Selanjutnya, T, tawakal. ‎"Apabila kita sudah selesai pekerjaan berpasrah diri pada Allah. Jadi kita sudah berdoa, menetapkan usaha, kita sudah inovasi, selanjutkan kita bertawakal," ucapnya.

Terakhir S atau sedekah. ‎ "Allah tidak melihat berapa besarnya sedekah yang kita berikan, tapi ikhlasnya kita memberikan sedekah.‎ Itulah yang saya lakukan mengubah mindset sederhana, " kata sarjana pertanian ini.

Penulis: Ign Agung Nugroho
Editor: Intan Ungaling Dian
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved